Dunia Asmara

Dunia Asmara
Permintaan Nixeelin.


__ADS_3

Manning Bar.


Tak terasa malam semakin larut. Sicantik Nixeelin yang tadi meninggalkan rumahnya tanpa memberitahu siapapun kini sudah tiba di bar— tempatnya selalu menghabiskan waktu jikalau merasa suntuk.


Duduk disalah satu kursi depan meja racik bartender, Nixeelin terlihat menikmati secangkir teh hangat yang disajikan pria bartender itu. Sembari menyesap sedikit demi sedikit teh hangatnya, ia juga tercenung.


" Ada apa, Nona?" tanya pria bartender itu yang selalu menampilkan mimik wajah bahagia.


" Apanya?" Nixeelin tersadar, ia mengangkat pandangannya dan menatap nanar wajah tampan pria sebaya dihadapannya.


" Kau selalu kesini, dan untuk pertama kali hanya memesan teh hangat." ucap sang bartender tampak penasaran.


" Tidak.. aku hanya ingin teh hangat. Lagipula aku kurang sehat untuk mengonsumsi minuman alkohol." dusta Nixeelin dengan tetap mengukir senyum tipisnya.


" Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi." celetuk sang bartender.


" Ah, selama beberapa tahun berlangganan ditempat ini aku ingin sekali bertanya satu hal saat pertama kali melihatmu." seru Nixeelin.


Pria bartender itu mengernyit, lalu tersenyum. "Apa itu?"


" Kenapa kau seperti mirip denganku?" tanya Nixeelin.


Hening menyergap seketika setelah Nixeelin menyelesaikan ucapannya. Dia menelisik wajah tampan pria itu seraya menanti sebuah jawaban. Sementara pria bartender itu tampak berfikir sejenak.


" Entahlah." ucap sang bartender itu dengan enteng.


" Memangnya kenapa? Apa kau berfikir aku saudara kembarmu? Ah, jangan berfikiran aneh, aku anak tunggal dikeluargaku." tambahnya setengah bercanda.


" Aish, kapan aku berfikir seperti itu? Lagipula aku tidak pernah tau namamu." ujar Nixeelin tertawa kecil, mulai terbawa perbincangan ringan dengan pria bartender itu.


" Panggil saja aku Xavier." seru pria gagah itu yang untuk pertama kali memperkenalkan namanya pada pelanggan di bar nya.


" Namamu keren sekali." puji Nixeelin kemudian.


" Benarkah? Daddy dan Mommy ku yang memberi nama itu. Xavierre, pewaris Manning Bar." tutur Xavier dengan bangga.


" Wah, ada cerita menarik diantara kalian berdua?"


Tiba-tiba terdengar suara maskulin dari pria tampan yang menyela obrolan ringan Nixeelin dan Xavier hingga sontak membuat keduanya menoleh pada sumber suara.


" Ah, Tuan Davis. Welcome to Manning Bar." sapa Xavier dengan ramah.


" Yes." balas Davis menyunggingkan senyum tipisnya.


" Red wine saja." tambahnya memesan minuman favoritenya.


Xavier segera menyajikan red wine pesanan pelanggannya, lalu meninggalkan keduanya, memberi waktu bagi Davis dan Nixeelin tuk berbincang.


" Kau sudah lama disini?" tanya Davis dengan lembut.


" Hu'um."

__ADS_1


Davis tersenyum mendengar jawaban Nixeelin. Pandangannya lalu beralih pada secangkir teh hangat diatas meja.


" Hai, apa kabar? Kau sehat didalam sana?"


Dheg.


Nixeelin sontak tertegun saat tiba-tiba Davis menunduk sedikit, lalu berbicara lembut seakan menemani bayi didalam perutnya berbincang.


" Apa yang kau lakukan?" tanya Nixeelin menarik diri dari keterdiamannya.


" Ah, maaf. Kupikir aku harus menyapanya juga." tutur Davis santai.


" Tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf. Aku hanya tidak biasa dengan ini." jelas Nixeelin.


" Bagaimana dengan ayahnya? Kapan dia akan menikahimu?" tanya Davis kemudian seraya meneguk sedikit red winenya.


Mendengar pertanyaan pria disampingnya, Nixeelin seketika tersenyum kecut. Wanita itu belum berucap, ia memilih menyesap tehnya yang masih hangat.


" Dia memintaku mencari ayah untuk bayinya." jeda Nixeelin kembali teringat kembali perbincangannya dengan Miguel tempo hari dicafe.


" Awalnya aku tidak ingin, tapi aku sudah memutuskan untuk melahirkan bayiku. Dan pastinya bayiku juga butuh seorang ayah, jadi mungkin aku akan menikah." lanjutnya kembali tersenyum, menutupi rasa sakit hatinya akan pernyataan Miguel waktu itu.


" Benarkah? Lalu dengan siapa kau akan menikah?" Davis mengajukan tanya dengan santai meski dalam hati ia amat penasaran.


" Entahlah."


Jawaban singkat Nixeelin membuat Davis diam. Pria itu berfikir sejenak sembari menikmati segelas alkohol didepannya begitu juga dengan Nixeelin.


" Nixeelin..." panggil Davis tiba-tiba.


" Aku akan menjadi ayah untuk bayimu, menikahlah denganku."


" Heh?" Nixeelin terbelalak, ia sangat terkejut dengan pernyataan Davis barusan. Bagaimana tidak, selama ini ia tak pernah memikirkan sedikitpun untuk menjalin sebuah hubungan apalagi terikat dengan pria tampan nan kaya raya.


" Kau bilang dia memintamu mencari ayah untuk bayi itu, jadi aku akan menjadi ayah bayimu. Ayo kita menikah." tambah Davis memperjelas lagi niatnya melamar Nixeelin secara terang-terangan.


" Kenapa tiba-tiba?" tanya Nixeelin yang masih terkejut.


" Ah, itu karena tempo hari aku kerumah sakit dan ternyata semua dokter dan perawat sudah tau kalau kau adalah pacarku. Ditambah lagi kepala dokter sudah memberitau ayahku." terang Davis berusaha santai meski didalam hatinya itu berusaha menahan rasa gugup karena untuk pertama kali melamar seorang wanita.


" Kurasa aku harus pulang. Ini sudah tengah malam."


Alih-alih memberi jawaban pada Davis, Nixeelin justru meraih tasnya dan berpamitan pulang.


" Baiklah, hubungi aku nanti dan beri tahu aku keputusanmu." pinta Davis sebelum Nixeelin benar-benar berlalu.


Nixeelin tak merespon, wanita itu langsung bergegas meninggalkan bar tanpa banyak bicara.


" Aish, apa dia menolak aku?" gumam Davis merasa malu.


⚘️

__ADS_1


⚘️


⚘️


Mansion Oliveira.



Dikamar utama rumah megah Nixeelin Oliveira, tampak siempunya kamar yang tengah duduk didepan meja rias, mengamati dirinya sendiri didalam pantulan cermin. Dia baru saja selesai merapikan tampilannya sebelum berangkat bekerja, dan kini tengah menunggu Viet untuk menemuinya.


Tak lama yang ditunggu datang, Viet masuk kedalam kamar atasannya lalu menyapa dengan hangat.


" Kau memanggilku?" ucapnya.


Nixeelin tampak berfikir sejenak lalu kemudian beranjak dari duduknya dan kembali duduk disalah satu sofa yang berada didalam kamarnya.


" Hu'um.. duduklah." sahut Nixeelin meminta Viet duduk disampingnya.


Viet merasa heran, sebab tak biasanya Nixeelin memanggilnya tuk berbicara berdua didalam kamarnya.


" Ada apa?" tanya Viet serius setelah duduk disisi atasannya.


" Kau tau.. selama ini kau selalu setia padaku. Kau bahkan tidak memikirkan untuk berkencan ataupun memiliki pasangan. Setiap hari kau sangat sibuk bekerja untukku. Jadi aku berfikir bagaimana jika kau mulai membuka hati untuk seseorang." tutur Nixeelin membuat asistennya bingung.



" Tentu saja, aku pasti akan membuka hatiku lalu menikah. Tapi tidak sekarang, aku masih perlu menyelesaikan tugasku." jelas Viet mulai merasa aneh akan pembahasannya dengan Nixeelin.


" Alih-alih menunggu nanti, kenapa kau tidak melakukannya sekarang?" seru Nixeelin terlihat serius.


" Heh?"


" Maksudku apa bedanya sekarang dan nanti, kau juga akan tetap menikah." tambah Nixeelin



" Ada apa, apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" tanya Viet menelisik wajah cantik atasannya yang notabene adalah sepupunya juga.


" Hu'um.. aku ingin kau menikahi Lauren."


" What?" Viet tercengang mendengar ucapan wanita dihadapannya. Ia menatap tak percaya, seakan menolak apa yang baru saja didengarnya.


" Kau sadar apa yang kau katakan?" tanyanya sedikit kecewa pada Nixeelin.


" Maaf, tapi sepertinya kau lupa. Aku disini membantumu hanya untuk urusan pekerjaan, tidak lebih dari itu. Memintaku menikah itu bukan lagi bagian dari tugasku." terang Viet dengan satu tarikan nafas.


Nixeelin seketika bungkam, dan entah mengapa tiba-tiba kedua matanya berkaca-kaca.


" Viet, tolong.. nikahi Lauren." pinta Nixeelin memohon dengan wajahnya yang kian sendu. Suaranya tampak bergetar, ia tak dapat menyembunyikan air matanya.


" Xeelin, sadarlah. Ada apa denganmu? Lauren mengandung bayi laki-laki lain, kenapa aku yang harus tanggung jawab?"

__ADS_1


Viet kembali menolak dengan tegas permintaan Nixeelin.


" Dengarkan aku, mana ada laki-laki yang ingin menikahi wanita yang sudah rusak, terlebih lagi yang menghamilinya adalah orang lain." tambah Viet berusaha menahan amarah yang tercipta dihatinya.


__ADS_2