
" Ada apa, apa makanannya tidak enak?" Davis bersuara saat sejak tadi mengamati sikap Nixeelin dalam diam.
" Ah, tidak.. makanannya enak. Aku menikmatinya." seru Nixeelin cepat.
" Syukurlah." Davis tersenyum dan kembali menikmati makan siangnya.
" Humm.. begini aku ingin membicarakan tentang pernikahan itu." ucap Nixeelin kikuk.
" Pernikahan itu?" Davis tampak bingung, keningnya mengerut, ia menatap intens pada Nixeelin.
" Pernikahan kita." tutur Nixeelin memperjelas maksudnya.
" Ah.. ya. Aku tau kau sibuk, begitupun aku. Jadi aku sudah meminta pada Ishal untuk mengurus semuanya. Jika kau ingin liburan setelah acara pernikahan, aku akan meminta Ishal mengurusnya juga." terang Davis dengan datar.
" Hu'um.. urus saja semuanya." ucap Nixeelin menurunkan pandangan saat tak sengaja pandangannya bertemu dengan Davis.
" Sabtu nanti.. acara pernikahan kita. Jadi datanglah dihotel."
" Heh?" Nixeelin terperanga. Ia benar-benar terkejut mendengar penuturan Davis barusan. Bagaimana tidak, ia tak tau menahu perihal pernikahannya sendiri dan tiba-tiba saja akan menikah dalam tiga hari lagi.
" Kenapa terlalu cepat?" tanya yang masih dalam mode terkejut.
" Kupikir lebih cepat lebih baik." jawab Davis singkat santai.
⚘️
⚘️
⚘️
Kediaman Oliveira.
Malam hari diruang makan, terlihat Nixeelin dan Viet yang tengah menikmati makan malam bersama. Hanya mereka berdua karena sejak kemarin Lauren memilih mengurung diri didalam kamar.
" Tuan Davis menawarkan kerja sama. Bagaimana menurutmu?" ucap Nixeelin ditengah kegiatan makannya.
" Kenapa tiba-tiba? Bukankah selama ini kau mengejarnya untuk bekerja sama, tapi dia menolak. Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Viet heran.
__ADS_1
" Mau bagaimana lagi, aku terus membujuknya. Mungkin karena itu dia berubah pikiran." tutur Nixeelin, sedangkan Viet hanya menyimak.
" Aku akan menikah dengan Tuan Davis."
Pernyataan dadakan Nixeelin sukses membuat Viet terkejut. Pria matang itu langsung menghentikan kegiatan makannya dan menatap nanar pada Nixeelin.
" Itu adalah kerja sama pribadi yang ditawarkannya." tambah Nixeelin dengan sikapnya yang tenang.
" Kerja sama pribadi?" Viet menautkan kedua alisnya, ia merasa ada yang aneh dan mengganjal dihatinya.
" Maaf, kali ini aku tidak bisa memberitaumu alasannya. Yang jelasnya kerja sama pribadi ini akan sama-sama menguntungkan. Aku juga akan dengan mudah mencari tau siapa dalang pembunuhan ibuku." seru Nixeelin.
Viet tak bersuara. Ia memilih tak berkomentar apapun. Tak lama dirinya beranjak tanpa menyelesaikan makan malamnya. Hendak berlalu, namun Viet menahan langkah kakinya dan kembali berbalik menatap Nixeelin.
" Aku akan menikahi Lauren." ucap Viet dengan suara beratnya.
" Tidak biasanya kau seperti ini, mengambil keputusan dalam waktu singkat. Apa alasan yang membuat pendirianmu goyah?" ujar Nixeelin tanpa menatap lawan bicaranya.
" Ah, maaf. Sama sepertimu, ini adalah masalah pribadi jadi aku tidak bisa memberitahumu." tutur Viet tersenyum tipis dan segera pergi begitu saja.
" Hah? Apa dia sedang membalasku?" gumam Nixeelin menatap kepergian asistennya.
Masih dikediaman Oliveira, tepatnya disalah satu kamar di rumah megah itu, kamar yang kini dihuni Lauren sejak pertama kali datang di rumah sahabatnya. Tampak wanita cantik dengan rambut yang dibiarkan tergerai, berwajah pucat tengah tercenung seorang diri didepan jendela kaca, memandangi taman dan pepohonan diluar sana.
Ditengah kesendirian Lauren tiba-tiba dari luar sana seseorang masuk tanpa mengetuk pintu, dan dia tak lain adalah Nixeelin.
Lauren tersadar ia menoleh pada sahabatnya dengan senyum tertahan.
" Ah, kau datang." seru Lauren.
Nixeelin tersenyum dan menghampiri Lauren dengan membawa nampan berisi makanan.
" Kemarilah, duduk dan makan bubur buatanku." ujar Nixeelin beralih pada sofa sudut ruangan. Ia kemudian meletakkan nampan diatas meja, nampan yang berisikan bubur dan segelas air putih
Ditengah keresahan hati, Lauren memaksakan senyum diwajah, menghampiri sahabatnya dan segera duduk disamping Nixeelin.
" Makanlah, sejak kemarin kau belum makan." ucap Nixeelin dengan wajah sendu, merasa khawatir akan kondisi sahabatnya yang sejak kemarin memilih mengurung diri dalam kamar, tak melakukan apapun.
__ADS_1
" Aku tidak berselerah." ucap Lauren.
" Makanlah, ini bukan untukmu saja tapi juga untuk bayimu." tutur Nixeelin mengingatkan sahabatnya.
Hening menyergap, Lauren terdiam dan tak bersuara, melihat itu Nixeelin menghela nafas.
" Apa yang kau pikirkan?" tanya Nixeelin.
" Bukankah kemarin kau sangat gigih mempertahankan bayimu, mengapa sekarang kau seperti ini." tambah Nixeelin meninggikan suaranya.
" Aku takut." lirih Lauren dengan pandangan kosong, matanya sayu sangat jelas bahwa dirinya sedang memikirkan sesuatu. Nixeelin kembali menghela nafas.
" Kau tenang saja, aku sudah menemukan ayah sambung untuk bayimu." ucap Nixeelin dengan mantap.
Mendengar ucapan sahabatnya, Lauren bereaksi. Ia sontak menoleh dan menatap intens Nixeelin.
" Benarkah." tanya Lauren memastikan dirinya tak salah dengar.
Nixeelin mengangguk dan tersenyum. Dirinya kemudian beranjak dari duduknya, terdiam sejenak ia tampak mempertimbangkan apa yang hendak dikatakannya lagi.
" Menikahlah dengan viet." lanjut Nixeelin.
" Apa?" Lauren terbelalak, ia menatap tak percaya pada sahabatnya setelah apa yang didengarnya.
" Apa maksudmu?" tanya Lauren.
" Tunggu, apa laki-laki yang kau maksud adalah viet?" tambah Lauren yang sepenuhnya baru tersadar.
Nixeelin hanya mengangguk saja.
" Jangan bercanda, Xeelin. Kau tau aku dan Viet tidak cocok, dan juga kami hanya akan saling menyakiti nantinya." tutur Lauren menolak.
" Lauren, suka tidak suka kau harus menikah dengan Viet. Dalam keadaanmu yang seperti sekarang, bagaimana bisa kau masih memilih. Siapa yang ingin menikahi wanita rusak dijaman sekarang. Jikapun ada, itu tidak gratis, dan justru akan menjadi boomerang juga kedepannya." jelas Nixeelin dengan tegas.
Lauren seketika tak dapat berkutik setelah Nixeelin menyelesaikan ucapannya karena semua yang dikatakan sahabatnya memang benar adanya.
Melihat Lauren yang diam saja, Nixeelin pun sudah paham bahwa sahabatnya sudah setuju. Ia lalu hendak pergi, namun kembali menahan langkahnya.
__ADS_1
" Aku juga akan menikah dengan Tuan Davis. Pernikahan kami hanya karena bisnis semata, jadi setelah pernikahanku, kau juga harus menikah dengan Viet.. Ah, dan juga tenangkan dirimu dulu, aku akan mengurus semuanya sampai hari pernikahan." pesan Nixeelin sebelum berlalu pergi.