
Didalam kamar terlihat Nixeelin yang sedang duduk disisi ranjangnya. Ia tengah termenung dengan tatapan kosongnya. Ucapan-ucapan Miguel masih terngiang-ngiang dibenaknya. Dirinya tak pernah menduga bahwa Miguel rupanya diam-diam menaruh rasa padanya.
" Ada apa, kau sepertinya banyak pikiran."
Ditengah keheningan, Davis bersuara. Pria itu sejak tadi mengamati dalam diam seraya berkutat didepan layar laptopnya.
Nixeelin tak menjawab, ia hanya diam dengan bibir yang terkatup rapat.
****
Dibibir pantai saat ini, tampak Ciko dan Nauora yang tengah duduk bersama diatas pasir putih. Keduanya terlihat menikmati semilir angin sepoi-sepoi dari arah pantai.
Hembusan angin lembut itu terasa menyapu kulit wajah Nauora, membuatnya merasa lebih baik dari sebelumnya.
Masih dengan wajahnya yang sembab imbas dari menangis berlebihan, Nauora tercenung. Kejadian beberapa saat lalu masih mengguncang relung hatinya.
" Apa Nyonya sudah merasa lebih baik?" tanya Ciko.
" Tidak." jawab Nauora singkat.
" Mana bisa aku merasa baik setelah tau bahwa suamiku dan adik iparku... " ucapan Nauora menggantung, ia tak dapat melanjutkan perkataannya saat air matanya sudah lebih dulu menetes.
Hampir kembali larut dalam kesedihannya, Nauora seketika sadar, ia lalu segera mengusap air mata yang mengalir dipipinya.
" Terima kasih karena sampai sekarang kau masih bersamaku. Kau sudah banyak mengetahui hal yang seharusnya tidak diketahui." tutur Nauora tersenyum getir, sedangkan Ciko hanya diam menyimak.
" Jika Nyonya butuh teman curhat, ceritalah padaku. Aku bukan penggosip, jadi pasti rahasia anda akan aman." hibur Ciko.
Mendengar penuturan asistennya, Nauora tertawa kecil. Ucapan Ciko benar-benar membuatnya merasa lebih baik lagi.
" Kau belum pernah cerita tentang dirimu. Dari awal bekerja denganku, kau selalu menutup diri." tutur Nauora melupakan sejenak masalahnya dengan memulai percakapan dengan asistennya.
" Apa yang ingin anda ketahui?" tanya Ciko kemudian sembari tersenyum lembut pada Nauora.
" Semuanya!" jawab Nauora setengah bercanda.
" Benarkah?"
Nauora tertawa kecil saat menangkap ekspresi wajah asistennya yang terlihat serius menanggapi ucapannya.
" Aku bercanda." celetuk Nauora dengan sisa tawa di bibirnya.
" Ceritakan sedikit tentangmu." tambah Nauora menunjukkan keseriusannya.
" Aku punya seseorang untuk dilindungi." ucap Ciko.
" Siapa dia? Orang tuamu atau wanita yang kau cintai?" tanya Nauora mulai penasaran.
__ADS_1
" Bukan dua-duanya." jawab Ciko singkat, sedangkan Nauora mengerutkan keningnya.
" Nanti aku akan memberitahu anda.. diwaktu yang tepat." jelas Ciko kemudian yang diangguki cepat oleh Nauora.
" Ah, ini sudah larut malam. Sebaiknya Nyonya istirahat." ucap Ciko lagi, Nauora mengangguk, dan segera beranjak.
*****
Ditempat yang berbeda, tepatnya ditaman belakang villa. Tampak Ishal dan Andre juga Viet yang tengah berkumpul. Ketiga pria muda itu sedang duduk disatu meja sembari menikmati bir kaleng.
Mereka bersantai setelah melakukan pekerjaan masing-masing. Keakraban itu dimulai saat mereka mengangkat barang majikannya ke lantai dua.
" Kalian sudah lama bekerja untuk keluarga Kwans?" tanya Viet ditengah ketenangan.
" Tentu saja. Hubunganku dengan Tuan Davis bukan hanya bos dan bawahan. Kami sudah bersahabat dari kecil, dan memang sudah menjadi asistennya saat SMA." jelas Ishal.
" Bagaimana bisa kau menjadi asisten Davis saat SMA sementara kau masih sekolah saat itu." Viet tampak bingung setelah mendengar cerita Ishal.
" Itu karena aku menggantikan Ibuku." jawab Ishal menerawang pada masalalunya.
" Ibuku adalah pengasuh Tuan Davis sejak bayi. Ayahku sudah lama meninggal, jadi Ibuku membawaku tinggal dimansion. Aku tumbuh besar ditempat itu, dan berteman dengan Tuan Davis. Tapi saat kami hampir lulus sekolah, Ibuku meninggal. Saat itu Tuan Dave sangat keras, dia memintaku menggantikan Ibuku. Tuan Dave juga mengatakan akan membayarku asal bisa menjaga Tuan Davis dengan baik. Itu sebabnya sampai sekarang aku selalu disampingnya dan selalu mendukungnya." jelas Ishal panjang lebar.
Viet mengangguk setelah mendengar penuturan Ishal yang sepanjang kereta api.
" Kau sendiri?" tanyanya kemudian, melempar tatapannya pada Andre.
" Humm, begitu yah." Viet kembali mengangguk setelah mendengar cerita Andre.
" Kau sendiri?" Andre dan Ishal serentak mengajukan tanya, membuat Viet tersenyum kikuk.
" Kalau aku itu.. sepupu dengan Nixeelin."
" Oohhh." Ishal dan Andre serentak berohoria setelah Viet menyelesaikan ucapannya.
" Ah, ini sudah larut. Kenapa kau tidak menemui istrimu? Kalian pengantin baru kan?" tanya Ishal kemudian.
" Iya, biasanya pengantin baru itu penuh cinta dan gairah saat malam." timpal Andre.
" Aish, kalian ini bicara apa." ketus Viet. Wajahnya kian mendadak bersemu merah.
" Kenapa, apa kau sudah melakukannya tadi sore?" Ishal tampak penasaran.
" Atau tadi pagi?" Andre lagi-lagi menimpali, membuat Viet merasa kesal dan segera beranjak.
" Aish, pikiran kalian kotor sekali." gerutunya segera berlalu.
" Ada apa dengan dia?" celetuk Andre heran.
__ADS_1
" Iya, perasaan kita tidak salah bicara." sahut Ishal melihat Viet yang pergi begitu saja.
****
Puas menikmati angin malam diluar villa, Viet akhirnya masuk kedalam kamarnya dan mendapati Lauren yang rupanya belum tidur. Wanitanya itu kelihatan tengah memoles makeup didepan meja rias hingga membuatnya keherangan.
" Kau ingin kemana malam-malam begini?" tanya Viet datar. Ia mengamati istrinya lalu menggeleng saat melihat wanitanya yang berpakaian sangat pendek.
" Aku ingin tidur lah." ketus Lauren.
" Lalu kau berdandan?" tanya Viet heran.
" Itu karena aku tidak ingin terlihat jelek saat bangun. Kau tau, semenjak aku hamil, aku merasa sangat jelek saat bangun tidur." celoteh Lauren.
" Isshh, dasar aneh." cemooh Viet segera berlalu. Ia naik diatas ranjang, mengambil posisi ternyamannya. Namun karena kantuk belum menyerang, dia meraih ipadnya diatas nakas dan memilih membuka media sosial, melihat-lihat berita yang tengah trending.
Sementara Lauren yang sudah selesai merias diri, segera beranjak dari duduknya. Namun sebelum meninggalkan meja riasnya, ia memotret wajah cantiknya dengan kamera ponselnya. Kegiatan memotretnya terus diulang-ulang.
Viet yang mulai merasa risih mengangkat pandangannya dan menatap kesal pada wanitanya itu. Namun entah mengapa, pandangannya tak sengaja terarah pada tubuh ramping istrinya. Pria muda itu bahkan menelan salivanya karena pakaian yang dikenakan Lauren benar-benar terbuka.
" Astaga, kenapa aku seperti ini?" gumam Viet meraba jantungnya yang tampak berdebar-debar. Dan entah mengapa ucapan Andre tiba-tiba terlintas dibenaknya.
" Biasanya pengantin baru itu penuh cinta dan gairah saat malam."
" Yakk! Ganti pakaianmu sekarang, jangan memakai pakaian pendek seperti itu." ucap Viet setengah berteriak.
Pria muda itu gagal menahan diri untuk tidak berucap. Bagaimana tidak, istrinya saat ini benar-benar terlihat menggodanya dengan mengenakan piyama tipis yang membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas dibawah cahaya lampu. Bahkan tampilan istrinya yang sangat seksi membuat fantasinya tercipta.
Lauren yang berdiri didepan meja rias sontak terkejut, dan menoleh menatap suaminya.
" Kenapa, apa yang salah?" tanya Lauren dengan tampang polosnya, masih dengan memegang ponselnya.
" Itu.. anu.." Viet tak tau harus berkata apa karena saat ini ia benar-benar gugup.
" Ka.. kau bisa masuk angin jika berpakaian seperti itu. Jadi sebaiknya ganti saja." tutur Viet berbicara cepat, menutupi kegugupannya.
" Tidak mungkin, aku biasa memakai pakaian seperti ini dan tidak terjadi apapun." tolak Lauren hendak memotret kembali wajahnya yang dirasa begitu cantik.
" Itu dulu, sekarang kau sedang hamil. Jadi sebaiknya jangan berpakaian aneh. Jika kau masuk angin lalu sakit, bukan hanya kau yang menderita, tapi bayimu juga." Viet menjelaskan dengan detail. Sedangkan Lauren terdiam sejenak, ia mencerna kata-kata suaminya.
" Aku kan pakai selimut nanti." ucap Lauren kemudian.
" Terserah kau saja. Tapi ingat, kau tidak boleh seranjang denganku jadi tidurlah disofa." ketus Viet.
" Aish, kau itu menyebalkan sekali. Kalau aku tidur disofa nanti badanku sakit semua." cerocos Lauren mengerucutkan bibir mungilnya.
" Makanya ganti pakaianmu." seru Viet.
__ADS_1
" Baiklah." ketus Lauren mengangguk. Ia tak punya pilihan selain menuruti ucapan suaminya karena memang itu adalah salah satu syarat sebelum mereka menikah.