
Nauora sontak terhenyak mendengar pernyataan Miguel. Kalimat menyakitkan yang ia dengar seolah sebuah belati yang menyayat hatinya.
Sedangkan Miguel, pria itu hendak berlalu karena merasa tak tahan berada dekat dengan istrinya.
" Pemakaman Michel.. "
Satu kalimat yang dilontarkan Nauora sukses menghentikan langkah kaki suaminya.
" Jangan pergi sendirian, besok kau akan datang bersamaku." tambahnya.
⚘️
⚘️
⚘️
Rumah Duka.
Disebuah gedung bertingkat milik keluarga Kwans, tempat khusus berduka keluarga konglomerat itu.
Tampak saat ini tamu berdatangan ketempat duka. Para pejabat dan rekan bisnis Michel berdatangan, serta beberapa petinggi yang datang karena panggilan Tuan Dave Kwans.
Tak hanya itu, Nixeelin pun turut hadir karena bagaimana pun ia juga menghargai mendiang Michel. Nixeelin sendiri hadir tak sendiri, ia mengajak Lauren dan juga Viet.
" Xeelin, aku ingin ke toilet dulu." ucap Lauren pada sahabatnya.
" Baiklah, jangan lama. Aku juga akan menemui keluarga Tuan Michel dulu." seru Nixeelin yang dijawab anggukan cepat oleh Lauren.
Lauren berlalu, begitu juga Nixeelin yang ditemani Viet. Melangkah menuju tempat dimana anggota keluarga Kwans berkabung dalam kesedihan, langkah Nixeelin seketika tertahan saat dirinya melihat Miguel.
Wanita cantik dengan dress hitam polos itu membeku ditempatnya. Arah pandang masih berpusat pada titik yang sama, hingga tak lama Miguel yang ditatap pun menoleh. Pandangan mereka bertemu, membuat keduanya kembali teringat pada moment satu malam yang dihabiskan disalah satu kamar hotel.
" Nona Xeelin.. " suara maskulin dari sosok pria tampan, seketika menyadarkan Nixeelin.
" Tuan Davis.." Nixeelin menoleh, dan buru-buru menampilkan senyum terbaiknya, menutupi rasa gugupnya.
" Apa anda sudah lama disini?" tanya Davis.
" Tidak, aku baru saja datang." jelas Nixeelin dengan ramah.
" Aku akan menyapa keluarga Tuan Michel dulu." tambah Nixeelin lagi.
" Aku akan mengantarmu." Davis dengan cepat bersuara sembari menampilkan senyum tipisnya. Ia lalu segera berjalan lebih dulu dengan Nixeelin dan Viet yang mengikut dibelakangnya.
***
__ADS_1
" Ayah, aku membawa seseorang." ucap Davis pada pria paruh baya yang tengah berdiri disamping peti jenazah mendiang Michel.
Tuan Davis menoleh, dan menampilkan senyum terbaiknya.
" Saya dari keluarga Oliveira, turut berduka atas kepergian putra anda." Nixeelin membungkuk sedikit, memberi salam pada pria paruh baya dihadapannya.
" Terima kasih." balas Tuan Dave dengan ramah.
Nixeelin tersenyum, ia lalu beralih pada peti mati Michel dan melakukan do'a seperti yang lain. Setelah berdo'a, Nixeelin pun segera meninggalkan tempat itu, mengabaikan keberadaan Miguel dengan menunjukkan sikap santainya.
Namun diam-diam Nauora mengamati Nixeelin. Dirinya yang berdiri disamping Miguel, seolah mengingat samar akan sesuatu.
Merasa sangat penasaran, Nauora pun tanpa sadar menahan Nixeelin agar tak pergi. Ia mencekal pergelangan tangan wanita cantik itu, dan menatap nanar pada wajah datar Nixeelin.
" Maaf, ada apa?" tanya Nixeelin kebingungan.
" Nixeelin.. " lirih Nauora, sontak membuat Miguel dan Davis terbeliak ditempatnya. Kedua pria tampan itu seketika terkejut mendengar Nauora menyerukan nama Nixeelin.
" Namamu Nixeelin kan?" tambah Nauora.
Miguel dan Davis yang mendengarnya menjadi panik, namun tetap bersikap santai.
" Iya.. namaku Nixeelin Oliveira. Kau mengenalku?" jawab Nixeelin seadanya.
Nauora tersadar, ia pun langsung melepas tangan Nixeelin.
" Aku juga senang bertemu denganmu. Kalau begitu aku permisi." balas Nixeelin dengan senyum manisnya.
****
Meninggalkan ruangan tempat keluarga Kwans berduka, terlihat Nixeelin yang saat ini tampak tercenung disepanjang langkah kakinya. Niatnya yang semula hendak mencari Lauren sudah buyar, dan kini lebih memikirkan sosok istri dari pria yang sudah menidurinya.
" Apa dia tau aku wanita yang bersama suaminya dihotel?" gumam Nixeelin dalam hati. Ia yang tak memperhatikan jalan, akhirnya tak sengaja menyenggol seseorang, sontak dirinya pun tersadar dari lamunan.
" Maafkan aku." ucapnya merasa tak enak.
" Robin? Ah, maksudku Tuan Robin?" tambahnya yang ternyata mengenali sosok pria didepannya.
" Nona Nixeelin. Anda juga ada disini?" balas pria bernama lengkap Robin Saher, pria dari keluarga bangsawan blasteran Turki.
" Iya, aku mengenal Tuan Michel, jadi aku datang melihatnya untuk terakhir kali." tutur Nixeelin tersenyum dengan sangat ramah. Pandangannya lalu beralih pada wanita cantik nan mungil disamping Robin. Nixeelin menatap dengan sangat intens, bagaimana Robin dan wanita itu bergandengan tangan dengan mesra.
" Apa dia istri anda?" tanya Nixeelin kemudian.
" Humm, dia istriku. Perkenalkan, namanya Leouni." ujar Robin, sementara wanitanya mengulurkan tangan pada Nixeelin.
__ADS_1
Nixeelin menerima uluran tangan gadis muda didepannya dengan senyum tertahan, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, entah apa karena ia pun masih bingung.
" Baiklah, aku pergi dulu. Kami harus menemui keluarga Tuan Michel." pamit Robin kemudian, meninggalkan Nixeelin dengan tanda tanya dibenaknya.
" Ternyata dia sudah punya istri." ucapnya dengan suara yang amat kecil.
" Nona, anda mengatakan sesuatu?" Viet yang sejak tadi mengamati raut wajah atasannya, mengajukan tanya karena merasa heran.
" Tidak apa-apa. Aku akan ke toilet mencari Lauren. Tunggu disini saja." ucap Nixeelin segera berlalu.
****
Melangkah memasuki toilet khusus wanita, Nixeelin mengedarkan pandangan mencari sahabatnya. Namun ia tak menemukan sosok yang dicarinya hingga memutuskan tuk meninggalkan tempat itu. Tapi samar-samar indera pendengarannya menangkap suara, suara dering ponsel seseorang.
Menautkan kedua alisnya, Nixeelin tampak penasaran karena suara itu bersumber dari toilet yang berada didepannya.
" Halo, kau dimana? Sejak tadi aku menghubungimu, kenapa kau tidak mengangkatnya."
Suara familiar dari dalam toilet, didengar jelas oleh Nixeelin. Sontak wanita cantik itu melangkah mendekat pada toilet yang tak jauh darinya. Menajamkan pendengarannya, ia merasa yakin bahwa pemilik suara didalam toilet itu adalah sahabatnya.
" Aku ingin bicara denganmu besok. Ayo bertemu di restoran mall yang selalu kita kunjungi bersama." suara wanita didalam toilet itu tampak bergetar, membuat Nixeelin yang tengah mencuri dengar diluar sana menjadi kebingungan.
" Humm.. Lauren? Kau didalam sana?" menetralkan perasaannya, Nixeelin bersikap seolah tak mendengar apapun. Ia menanti sahabatnya didalam sana untuk bersuara hingga tak lama pintu toilet itu terbuka dan menampilkan sicantik Lauren.
" Kau ini, kenapa sampai mencariku kesini." celoteh Lauren yang juga bersikap santai.
" Kita harus pulang, itu sebabnya aku mencarimu. Ayo!" tutur Nixeelin, menggandeng lengan sahabatnya dan membawa Lauren keluar dari tempat itu.
Hendak meninggalkan rumah duka keluarga Kwans, langkah kaki Nixeelin seketika tertahan saat samar-samar ia mendengar gunjingan orang disekelilingnya.
" Bukankah ini aneh, semua garis keturunan Nyonya Milen meninggal mendadak. "
" Ini sudah pasti pembunuhan."
" Mungkin saja putri sulung Tuan Dave yang melakukannya. Katanya dia juga membunuh Nyonya Milen.
" Bukankah jika keturunan keluarga Milen meninggal, presiden kita bisa berkuasa."
" Kau benar. Tuan Dave itu beruntung karena dinikahi oleh Nyonya Milen. Hadiah pernikahannya saja, dia dapat jabatan sebagai presiden, dan kudengar Tuan Dave juga mendapatkan dua hadiah perusahaan."
" Katanya perusahaan itu sudah diambil alih sama menantu sulung Tuan Dave."
Desas-desus dari para tamu yang datang melayat, sangat mengusik Nixeelin. Terlebih lagi obrolan itu melibatkan Miguel.
" Xeelin, ada apa?" Lauren menyadarkan sahabatnya yang tiba-tiba saja terdiam.
__ADS_1
" Tidak, ayo kita pulang saja." seru Nixeelin menarik tangan sahabatnya dan bergegas meninggalkan rumah duka.