
Tak lama Miguel bangkit tanpa berbicara sepatah katapun. Hengkang, dan meninggalkan Nauora yang terdiam begitu saja ditempatnya.
Sementara Nauora, ia keherangan atas sikap suaminya. Tak membuang waktu lama, ia meraih tasnya yang teronggok dilantai, mencari ponsel didalam tas itu.
Menemukan ponselnya, Nauora segera menghubungi asistennya dengan ekspresi wajah yang kini sulit ditebak.
" Ciko, dimana Dita?"
" Masih bersamaku ditangga darurat, Nyonya." jawab Ciko seadanya.
" Tahan dia, aku akan kesana sekarang." ucap Nauora segera memutus sepihak panggilannya.
Disaat bersamaan, tampak Miguel yang juga baru keluar dari dalam toilet. Pria gagah itu terlihat sedikit gugup, menghampiri sang istri yang masih duduk ditempat yang sama.
" Kau ingin makan siang bersama?"
Berbicara lebih dulu, Miguel seolah ragu pada ucapannya sendiri. Sejujurnya ia merasa tak enak saat mengingat perlakuannya beberapa saat lalu pada Nauora karena selama ini dirinya sama sekali tak pernah menyentuh wanitanya itu.
" Tidak perlu. Aku akan keluar sebentar." ucap Nauora segera beranjak dengan tak melupakan tas juga ponselnya.
" Nauora.. " Miguel menahan langkah kaki istrinya, mencekal pergelangan tangan Nauora.
" I.. Itu.." Miguel terbata-bata, semakin merasa canggung.
__ADS_1
" Ada apa?" Nauora yang tak tahu menahu, mengajukan tanya dengan polos.
Alih-alih menjawab tanya sang istri, Miguel justru mendekati Nauora hingga kini hanya menyisahkan jarak beberapa senti saja.
Perlahan tangan Miguel terangkat, dan rupanya ia memperbaiki tampilan istrinya yang sedikit berantakan.
" Sudah! Kau boleh pergi." tutur Miguel dengan senyum tertahan.
Nauora tertegun, sesaat dirinya termangu karena sikap hangat suaminya. Namun sepersekian detik kemudian, buru-buru ia memalingkan wajah dan segera pergi dari hadapan sang suami.
****
Meninggalkan ruangan Miguel, Nauora kini sudah berada ditangga darurat. Ditempat itu tak ada siapapun selain dirinya dan Ciko, juga Dita.
" Berdiri." titah Nauora dengan begitu dingin.
Dita yang mendengar perintah Nauora, segera berdiri dengan masih mengunci bibir mungilnya. Kedua lututnya bergetar, bagaimana tidak, sebelum Nauora datang Ciko sudah lebih dulu memberinya pelajaran dengan memukulinya sampai puas.
Plakk..
Tanpa aba-aba, Nauora menghadiahinya tamparan keras yang mendarat mulus dipipi gadis cantik itu yang tampak ketakutan. Tamparan keras itu membuat tubuh Dita bergeser dari posisi sebelumnya.
" Kau masih diam rupanya." Nauora semakin terlihat geram mendapati respon Dita yang masih memilih diam tanpa menjelaskan apapun.
__ADS_1
Plakk..
Kembali Nauora memberikan tamparan yang jauh lebih keras dari sebelumnya hingga sukses membuat gadis muda didepannya tersungkur diatas lantai. Tak sampai situ, Nauora dengan kasar meraih kerah kemeja Dita dan menghujaninya dengan tamparan yang bertubi-tubi.
" Apa kau masih memilih diam?"
" katakan sesuatu."
Plakk..
Plakk..
Nauora semakin terbakar amarah. Wanita cantik itu pun akhirnya melepaskan gadis didepannya saat melihat sudut bibir Dita mengeluarkan darah segar.
Hikss.. hikss.. hikss..
" Kenapa harus suamiku?" Nauora terisak pilu dihadapan Dita. Duduk tak berdaya diatas lantai yang dingin, Nauora merasakan sakit dihatinya. Ciko yang menyaksikan sedari tadi dalam diamnya, kini perlahan mendekat pada Nyonya nya.
" Nyonya.. tenanglah." ujar Ciko hendak membantu Nauora untuk beranjak, namun wanita didepannya justru melarang.
" Siapa yang menyuruhmu melakukannya?" tanya Nauora setelah terdiam sesaat, ia memandangi gadis muda didepannya yang sejak tadi memilih diam.
" Keluargamu.. aku akan membebaskan mereka saat kau memberitahu aku yang sebenarnya." tambah Nauora saat melihat Dita yang masih terdiam.
__ADS_1
Mendengar keluarganya disebut, Dita sontak mengangkat pandangannya. Dirinya yang sejak tadi diam dan tak berani menatap Nauora, kini memandang wanita dewasa didepannya dengan wajah yang berlinang air mata.