Dunia Asmara

Dunia Asmara
Gudang Tua.


__ADS_3

Malam berlalu dan kini hari sudah pagi. Sinar matahari pagi menyeruak, tampak menyapa dari arah timur, memantulkan cahayanya pada kediaman mewah Kwans.



Dikamar utama saat ini terlihat Nauora yang baru saja keluar dari dalam bathroom dengan mengenakan bathrobe putih. Pandangannya terarah pada ranjang king sizenya yang masih dibalut seprai yang berantakan. Ia mengulum senyum saat tiba-tiba kembali teringat moment panasnya malam itu, bagaimana dirinya dan Miguel bercinta dalam waktu yang lama.


Jika ditanya bagaimana perasaannya, ia tentu sangat bahagia sebab sudah mendapatkan apa yang diinginkannya setelah menikah beberapa tahun bersama Miguel.


" Cih, dia main pergi saja." gerutunya mengingat kembali saat dirinya terbangun tadi dan tak mendapati Miguel lagi.


****


Selang beberapa menit, kini Nauora sudah mengenakan pakaiannya. Dress selutut yang membalut tubuh rampingnya, membuatnya menjelma sebagai gadis muda lagi meski diusianya yang sudah dewasa.



Memastikan tampilannya sudah rapi, ia segera keluar dari kamar, berjalan menuju ruang makan. Sesampainya disana, ia hanya mendapati Nixeelin yang tengah sarapan seorang diri.

__ADS_1


" Kau tidak ke kantor?" tanya Nauora dan segera duduk dikursi makan yang berhadapan dengan adik iparnya.


" Aku kurang enak badan, jadi aku akan bekerja dirumah saja." jawab Nixeelin seadanya tanpa menatap lawan bicaranya.


" Dimana Davis, apa dia sudah berangkat kerja?" tanya Nauora lagi yang kini mulai menyantap sarapan paginya.


Nixeelin mengangkat pandangannya, ia hendak memberi jawaban namun seketika lidahnya terasa keluh saat tak sengaja ia melihat sebuah tanda kemerahan dileher jenjang Nauora.


" Rupanya semalam kau bersenang-senang." gumamnya dalam hati seraya tersenyum getir.


" Ah, aku lupa. Aku punya sesuatu yang ingin dikerjakan, jadi nikmati saja sarapanmu." ucap Nixeelin berusaha terlihat baik-baik saja meski kini hatinya tengah berkecamuk.


" Apa itu?" tanya Nixeelin pada Bu Jung yang terlihat membawa sebuah box berukuran sedang.


" Barang lama Nyonya Nauora." jawab Bu Jung seadanya.


" Kau ingin membawanya kemana?" tanya Nixeelin lagi.

__ADS_1


" Ke gudang tua, Nyonya." jawab Bu Jung lagi.


" Gudang tua?" Nixeelin menautkan alisnya, tampak penasaran akan tempat yang baru saja disebutkan oleh wanita paruh baya didepannya.


" Iya, Nyonya. Gudang tua itu tempat khusus untuk menaruh barang lama." terang kepala pelayan itu.


" Barang lama, apa mungkin yang aku cari ada didalam gudang itu?" gumam Nixeelin dalam hati.


" Saya permisi dulu, Nyonya." pamit Bu Jung segera berlalu.


Rasa penasaran Nixeelin meronta, ia tak bisa tinggal diam saja dan memutuskan mengikuti Bu Jung diam-diam.


Sesampainya didepan gudang tua, Nixeelin hanya bisa mengamati kepala pelayan itu dari kejauhan saja, sebab dirinya tengah bersembunyi dibalik pilar besar.


Tak lama ia melihat Bu Jung yang baru saja keluar dari dalam gudang, dan sebelum pergi kepala pelayan itu terlihat mengunci pintu. Nixeelin yang masih memperhatikan dari jauh, mengernyit keherangan.


" Kenapa dia memasang gembok? Ada apa didalam gudang itu?" benak Nixeelin yang semakin dibuat penasaran.

__ADS_1


Melihat Bu Jung sudah menjauh, Nixeelin buru-buru mendekat. Ia memastikan kembali bahwa dirinya tak salah lihat, dan benar saja pintu gudang tua itu diberi gembok yang besar.


" Aku yakin, kalian menyembunyikan sesuatu didalam." lirihnya dan segera berlalu.


__ADS_2