
“ Jerico! “
Nauora yang sejak tadi menahan amarah kini berteriak dengan menyerukan nama pria yang duduk disinggasananya. Tatapannya tajam, seakan menusuk lawan bicaranya.
“ Ada apa, Sayang.” Jerico membalas dengan santai. Bersandar pada kursi dengan melipat tangan didepan dada, ia menatap nanar pada Nauora.
“ Kau bilang saja jika ingin hamil. Atau kau ingin paket express? Baiklah, tapi kita harus menghabiskan waktu berdua diluar kota.” goda Jerico.
“ Tutup mulutmu.” Nauora bangkit dari duduknya, ia merasa muak mendengarkan ocehan Jerico.
“ Aku datang kemari hanya untuk membahas masalah yang sudah kau timbulkan.” tambahnya.
Jerico mengernyit, keningnya mengerut, ia memandang lawan bicaranya dengan tatapan bingung.
“ Apa maksudmu?” tanyanya yang tidak mengerti maksud dari ucapan Nauora.
“ Kau tidak perlu berpura-pura tidak tau. Jujurlah, apa yang membuatmu berani mencampuri urusanku dan Miguel.” bentak Nauora yang mulai tersulut emosi.
“ Aku sungguh tidak tau apa maksudmu, Nara.” Jerico tak ingin kalah, ia mulai memperlihatkan keseriusannya.
Nauora terdiam, ia menatap nanar pada Jerico. Pria didepannya sudah menyerukan nama panggilannya, yang itu berarti penuturan Jerico sangat serius.
“ Sial.” umpat Nauora kemudian saat dirinya tersadar akan satu hal.
Tanpa membuang banyak waktu, Nauora segera meraih tasnya diatas meja kaca dan bergegas meninggalkan ruangan Jerico tanpa berucap sepatah kata pun.
__ADS_1
Meninggalkan perusahaan milik Jerico, Nauora berjalan gontai keluar dari gedung bertingkat itu. Ia tampak tergesa-gesa, mengabaikan setiap tatapan aneh yang dilemparkan orang-orang untuknya.
Langkah kakinya membawa dirinya ke basemenen, tempat dimana mobil sedan hitam metalliknya berada. Ia lalu merogoh tas jinjing brandednya, mencari kunci mobilnya.
Disaat kunci mobil sudah didapatkan, Nauora hendak masuk kedalam mobil, namun sebelum itu ponselnya yang berdering didalam tas, membuat pergerakannya tertahan.
Nauora meraih ponselnya, melihat nama sipemanggil dilayar gawai pipih itu. Alih-alih menjawab panggilan diponselnya, Nauora memilih mengabaikan dengan menonaktifkan ponselnya. Setelahnya ia segera masuk kedalam mobil, siap mengemudi ketempat tujuan selanjutnya.
***
Diperjalanan Nauora tampak memikirkan sesuatu, ia membagi fokus pada kemudinya. Sesekali ia menghela nafas kasar saat merasa tujuannya masih jauh. Dengan rasa tak sabaran, wanita cantik itu memilih memotong jalan, mengambil jalan pintas untuk tiba ditempat tujuan.
Namun tiba-tiba saja sebuah mobil sedan yang serupa dengan mobil miliknya, menghalau jalannya hingga mau tak mau Nauora menginjak pedal rem. Suasana hatinya tak baik, sebelum keluar dari mobil wanita cantik itu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
Disaat dirinya keluar dari mobil, tak lama pengendara mobil didepannya juga ikut keluar.
“ Tidak ada alasan.” jawab Nauora dengan ketus, hendak berlalu namun Miguel dengan sigap mencegatnya dengan meraih tangannya.
“ Berhentilah bertindak bodoh, Nara. Berapa banyak lagi nyawa yang harus melayang karena tindakanmu itu.” bentak Miguel mulai tersulut emosi.
“ Tidak bisa, Miguel. Aku harus memberi mereka peringatan keras agar tidak ikut campur rumah tangga kita.” Nauora tak mau kalah dari suaminya, ikut meninggikan suaranya didepan wajah tampan Miguel.
Mendengar penuturan mantap dari istrinya, Miguel menghela nafas kasar. Ia tersenyum getir, merasa bodoh karena selalu tak bisa menahan sang istri untuk tak berbuat buruk.
__ADS_1
“ Kumohon berhentilah, Nara. Kau masih bisa memberi peringatan kepada mereka dengan cara lain. Tidak harus dengan melenyapkan nyawa orang.”
Miguel merendahkan suaranya, ia berusaha membujuk Nauora untuk tak bertindak gegabah seperti yang dilakukan beberapa tahun lalu pada Nyonya Milen.
“ Berhentilah mencampuri urusanku, Miguel. Jangan tahan aku, aku akan membereskan semuanya hari ini dan kembali kerumah tepat waktu.” Nauora masih tetap pada keputusannya, tak ingin mendengarkan perkataan suaminya.
“ Apa yang ingin kau bereskan? Apa masalah berita perselingkuhanku kemarin? Jika itu, serahkan saja padaku. Aku akan mengurusnya sampai selesai.” Miguel melunak, ia tau bahwa saat ini dirinya tak bisa terlalu keras pada sang istri.
“ Aku akan membuat konferensi pers, dan menjelaskan pada media.” tambah Miguel meyakinkan istrinya.
“ Tidak, Miguel.” lirih Nauora, menatap lekat manik mata suaminya.
“ Sejak dulu kau tidak boleh melakukan hal buruk. Kau tau.. tugasmu hanya berperan sebagai pemimpin perusahaan. Dan aku yang akan menjadi latar belakangmu, aku yang akan membereskan semua masalah yang bisa membahayakan posisimu. Jadi fokuslah pada peranmu saja.” terang Nauora dengan tegas.
Miguel tertegun, hatinya bergetar mendengar serentakan kata yang dilontarkan istrinya. Ia sejujurnya selalu merasa bingung perihal perasaan Nauora, sebab istrinya itu tak pernah mengatakan mencintainya namun sangat peduli pada impiannya. Bahkan pria matang itu mengakui bahwa dibalik kesuksesannya saat ini, semua itu adalah usaha dan kerja keras sang istri.
Miguel menjadi diam, ia memandangi wanitanya. Sementara Nauora, melihat suaminya tak bersuara, ia pun hendak pergi. Namun suara berat sang suami menahan langkahnya.
“ Kidshan.. “
“ Kidshan adalah nama yang sudah kupilih untuk bayi... bayi kita.” Tutur Miguel dengan nada yang terdengar ragu saat menyelesaikan kata diakhir kalimatnya.
“ Pulanglah bersamaku, Kidshan pasti menunggumu.” Tambah Miguel, berharap kali ini istrinya mau mendengarkan ucapannya.
Dan benar saja, dibalik diamnya Nauora, rupanya hati wanita cantik itu tersentuh setelah mengetahui bahwa suaminya telah menentukan nama yang unik untuk bayi kecilnya dirumah.
__ADS_1
Melihat istrinya tak bergeming, Miguel meraih tangan istrinya. Ia menuntun wanitanya itu masuk kedalam mobilnya.