
Sepeninggalan Nixeelin, tak lama Davis masuk kedalam bar dengan dibelakangnya mengekor sang asisten.
" Tuan Davis, apa kabar?"
Bartender gagah itu menyambut pelanggan tetapnya dengan ramah. Dan Davis hanya menjawab dengan menyunggingkan senyum seraya mengedarkan pandangannya.
" Apa tadi ada wanita yang kesini?" tanya Davis kemudian.
Pria bartender itu berfikir sejenak, dan kemudian mengangguk kecil. "Ada, Tuan. Tapi apa anda mengenalnya?"
" Ah, aku cukup mengenalnya." jawab Davis dengan kikuk, dan segera duduk disalah kursi yang berjejer didepan meja bartender.
" Alkohol biasa saja." pesan Davis langsung. Sedangkan Ishal memilih berdiri dibelakang atasannya.
Selang beberapa saat, tampak Nixeelin yang baru datang. Ia masih belum menyadari kehadiran Davis karena sejak tadi sibuk pada pikirannya sendiri.
" Nona Xeelin.." sapa Davis dengan suara maskulinnya.
Nixeelin yang duduk dikursi kedua dari sebelah Davis, menoleh saat mendengar suara maskulin itu.
" Tuan Davis.. sejak kapan anda datang?" ucap Nixeelin dengan senyum tertahan. Ia terlihat gugup saat Davis justru menatap intens wajah cantiknya.
__ADS_1
" Baru saja." jawab Davis seadanya. Tak lupa ia menampilkan senyum tipisnya, seperti biasa ia memang hanya tersenyum didepan Nixeelin saja.
Nixeelin mengangguk kecil, dan segera memesan minuman pada pria bartender.
" Aku pesan everclear."
" Wah, Nona.. kurasa masih terlalu siang untuk mabuk sekarang."
Pria bartender itu terkejut mendengar pesanan Nixeelin. Bagaimana tidak, minuman yang dipesan pelanggan cantiknya itu memiliki kadar alkohol yang tinggi dengan 60-95 persen.
" Humm... kurasa itu juga tidak baik untuk kesehatanmu." sahut Davis juga.
" Sedikit saja. Berikan aku sedikit saja."
Sementara Nixeelin, tak tanggung-tanggung ia meneguk habis minuman beralkohol itu hingga tandas.
" Haahh.."
******* kecil lolos dari bibir mungil Nixeelin saat merasakan pahit dikerongkongannya. Ia memejamkan mata, menikmati rasa alkohol yang baru pertama kali dicobanya. Sensasi panas terasa begitu hebat. Tak kurang dari satu menit, kepalanya langsung berdenyut imbas dari alkohol itu.
" Kenapa anda meminumnya jika tidak sanggup. Apa anda punya masalah?"
__ADS_1
Pria bertender itu bergidik ngeri melihat Nixeelin. Sedangkan Davis sejak tadi merasa khawatir.
" Hei, masukkan saja ditagihanku. Aku harus pergi dulu." tutur Nixeelin mengabaikan ucapan sang bartender.
Beranjak dari duduknya, pandangan Nixeelin menjadi buram. Denyut dikepalanya semakin hebat hingga tak dapat mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Hampir terjatuh, namun Davis dengan sigap menolongnya.
" Wajahmu pucat, apa kau sakit?" Davis terlihat panik.
Nixeelin menggeleng, ia melepaskan tangan Davis darinya. Sebelum berlalu ia meraih tasnya diatas meja, tapi bersamaan itu kesadarannya menghilang hingga ambruk diatas lantai marmer. Tas branded Nixeelin terjatuh, isinya berhamburan.
Ishal yang sejak tadi mengamati dalam diam, langsung bergerak cepat menghampiri Nixeelin.
" Tuan, Nona Nixeelin pingsan." ujar Ishal pada Davis, tapi arah pandangan majikannya justru tak ada pada Nixeelin, melainkan pada sebuah benda yang terjatuh diatas lantai.
Davis tertegun, meraih benda itu dengan tangan bergetar. Sebuah **test pac**k dengan dua garis merah, membuat kedua matanya sontak berkaca-kaca.
" Tuan, ada apa?"
Suara Ishal menyadarkan Davis, pria muda itu sontak menyembunyikan **test pac**k yang dipegangnya, memasukkannya kedalam saku jasnya.
Tak membuang waktu lama, ia segera menggendong Nixeelin yang sudah tak sadarkan diri. Sepanjang langkahnya meninggalkan manning bar, pikirannya sangat kalut, perasaan campur aduk.
__ADS_1
" Apa kau benar-benar hamil?" gumamnya dalam hati, melirik sekilas pada wajah pucat Nixeelin.