
Mansion Kwans.
Sore hari dikediaman Kwans, terlihat Nauora yang sedang berada didalam kamarnya. Wanita dengan setelan rumahan itu tampak menikmati kesendiriannya, duduk tercenung disofa. Tatapannya selalu saja sendu dan ia tampak tak berjiwa.
Tak lama ia meraih amplop cokelat diatas meja. Disaat ia mengeluarkan isi amplop itu, air matanya seketika luruh. Sesak kembali menggerogoti dadanya kala melihat selembar foto adik iparnya.
" Andai hari itu aku melihatnya, mungkin tidak akan sesakit ini." lirih Nauora pilu, merutuki kebodohannya karena memilih tak melihat laporan orang suruhannya beberapa waktu lalu.
Pandangannya lalu beralih pada bingkai besar yang terpajang didinding, foto pernikahannya bersama Miguel.
" Aku benar-benar mencintaimu, Miguel." seru Nauora yang kemudian tersenyum setelah lama mengamati foto pernikahannya. Saat merasa lelah pada keadaan ataupun saat merasa frustasi, setiap kali Nauora melihat kemesraannya bersama Miguel difoto, hatinya kembali merasa lebih baik.
Sedetik kemudian, Nauora kembali menitikkan air mata. Kesedihan masih selalu menyapa imbas dari tak berdamainya ia pada kenyataan. Terlebih lagi Nauora tak memiliki seseorang untuk berbagi cerita, membuatnya merasa kesepian.
Tak ingin berlarut-larut dalam sedih berkepanjangan, Nauora menyeka air matanya. Ia lalu beranjak, dan memilih menikmati pemandangan sore dibalkon kamarnya.
__ADS_1
****
Disatu sisi tampak Nixeelin yang baru saja datang. Mobil sedan hitamnya memasuki pekarangan mansion Kwans, lalu memarkirkannya ditempat biasa.
Sebelum keluar dari mobil, Nixeelin tak lupa membawa syal hitam pemberian Lauren dimall tadi.
Hendak meninggalkan mobilnya, namun langkah Nixeelin tertahan saat tiba-tiba Miguel menghampirinya.
" Kau baru pulang?" tanya Miguel memulai obrolan lebih dulu.
" Hu'um.." jawab Nixeelin seadanya tanpa bertatap muka dengan Miguel.
" Bisa kita bicara sebentar?"
Miguel menatap lekat manik mata cokelat Nixeelin, dan tak lama adik iparnya menghela nafas.
" Cepat katakan, aku ingin istirahat." ketus Nixeelin memalingkan wajahnya.
__ADS_1
" Sejujurnya aku terjebak di dua pilihan. Antara menunggumu atau melupakanmu. Tapi aku sadar ini tidak baik untukmu dan juga untukku, itu sebabnya aku sudah memutuskan untuk membuang perasaanku untukmu." ucap Miguel membuat Nixeelin sontak tertegun menatapnya.
" Apa katamu?"
" Maafkan aku.. aku tau tidak pantas mengatakan ini, tapi aku sudah memutuskan untuk tidak menyimpanmu lagi didalam hatiku. Aku tidak ingin membuatmu salah paham dengan menganggap bahwa aku masih mencintaimu, itu sebabnya aku ingin memperjelasnya dengan tidak membuatmu bingung lagi. Dan juga.. tolong maafkan aku, aku mungkin tidak bisa memperbaiki apa yang sudah ku rusak, tapi aku berjanji akan menjaga dengan baik apa yang telah ku rusak."
Nixeelin menyimak, penuturan Miguel terdengar sangat tulus, sorot matanya pun begitu teduh membuat Nixeelin tak dapat bersuara.
Melihat wanita cantik didepannya yang hanya diam, Miguel pun meraih syal hitam yang dipegang adik iparnya. Setelahnya dia memakaikan syal itu pada Nixeelin dengan tak lupa menampilkan senyum terbaiknya.
" Kau harus selalu memakai syal karena ini sudah memasuki musim dingin." tutur Miguel tersenyum lembut dan segera berlalu.
Nixeelin mematung, ia hanya mampu memandangi kepergian Miguel dengan bibir yang terkatup rapat.
Tanpa disadari, rupanya Nauora yang tengah berdiri dibalkon kamar mengamati sejak tadi.
" Rupanya kau masih mencintai Nixeelin."
__ADS_1
Kesedihan kembali menyelimuti Nauora. Ia segera masuk kedalam kamar, menumpahkan tangisnya ditempat tidur. Setiap kali mengingat kejadian di villa, hatinya seakan remuk.