
Cekrek.
Satu potret telah diambil, Nixeelin yang masih merasa tak puas kembali memotret sembari tersenyum sendiri.
" Sudah, belum?" tanya Davis setengah berteriak menyadarkan istrinya. Buru-buru Nixeelin mengurangi resolusi kameranya, dan memotret tiga orang didepannya.
" Sudah!" jawab Nixeelin kemudian.
" Coba kulihat." pinta Davis yang tak sabar ingin melihat hasil potretnya. Ia menghampiri istrinya dengan baby Kidshan yang tampak bahagia digendongannya.
" Ah, nanti saja. Masih banyak yang ingin ku foto." tutur Nixeelin beralasan.
Tanpa disadari mereka, rupanya Miguel yang sudah datang, sejak tadi mengamati dari jauh. Pria matang itu memandang dengan tatapan tak suka, sangat jelas bahwa ia tak senang melihat kebersamaan Davis dan Nixeelin. Seakan api berkobar-kobar didalam dirinya.
" Wah, rupanya kau bersenang-senang, yah!" teriak seseorang menyela obrolan suami istri itu. Davis dan Nixeelin sontak menoleh pada sumber suara.
Davis terkejut, bagaimana tidak, sipemilik suara rupanya adalah Lauren. Berbeda dengan Nixeelin, senyumnya langsung mengembang dan tak membuang waktu lama segera berlari menghampiri sahabatnya.
" Kupikir kau tidak akan datang." cerocos Nixeelin tampak antusias dan segera memeluk Lauren.
" Tentu saja aku datang. Kau mengajakku." balas Lauren setelahnya ia mengurai pelukannya.
" Ah, dimana Viet?" tanya Nixeelin mencari keberadaan sepupunya yang tidak terlihat.
" Dia didepan villa, menerima telfon dari kantor." jawab Lauren.
" Kenapa Lauren disini?" sahut Davis yang sejak tadi hanya menyimak.
" Maaf, aku tidak memberitahumu. Aku mengajaknya karena setelah pernikahannya kemarin dia bahkan belum berlibur. Tidak apa-apa kan?" Nauora menatap wajah suaminya dengan perasaan tak enak.
__ADS_1
" Tentu saja tidak apa-apa." terang Davis tersenyum pada Nauora. Ia lalu menoleh, menatap wanita disamping istrinya.
" Ah, villa dilantai dua banyak kamar, kau pilih saja ingin menempati yang mana." tuturnya.
" Baik, terima kasih." jawab Lauren.
⚘️
⚘️
⚘️
Sunset disore hari sudah berlalu, matahari sudah turun dibawah cakrawala. Kini malam sudah menyapa dengan rembulan yang bersinar menyinari langit malam membuat suasana seakan hidup.
Villa mewah milik keluarga Kwans yang berdiri kokoh ditepi pantai, terlihat indah dimalam hari. Terlebih lagi separuh bangunan itu terbuat dari kaca.
Terlihat Nauora yang kini tengah menikmati segelas kopi hangat diatas balkon yang menghadap pantai. Rambut panjangnya yang dibiarkan terurai, tertiup angin malam sepoi-sepoi. Ia menyesap sedikit demi sedikit kopi hangatnya seraya menikmati pemandangan pantai dibawah sana, hingga tanpa sengaja ia melihat Miguel yang berjalan seorang diri dipinggir pantai.
****
Disatu sisi berbeda, terlihat Nixeelin yang sedang berada dilantai satu, berjalan seorang diri disepanjang koridor terbuka. Melewati pilar-pilar villa dan beberapa ruang kosong, Nixeelin tampak senyam-senyum memandangi foto suaminya dilayar ponsel.
" Dia manis sekali saat tersenyum." gumamnya. Puas memandangi foto Davis, Nixeelin pun segera mematikan layar ponselnya dan menaruh benda pipih itu didalam sakunya.
Hendak melangkah, namun langkah kakinya seketika tertahan saat tiba-tiba ia melihat Miguel didepannya yang berjalan seorang diri. Ia sontak membeku ditempatnya, memandangi pria itu yang seolah melangkah menghampirinya.
Sepersekian detik kemudian, Nixeelin tersadar. Ia menghela nafas dan memalingkan wajahnya. Miguel yang kini berdiri dihadapan Nixeelin dan hanya mendapati sikap dingin wanita itu langsung membuatnya kecewa.
" Kebetulan sekali, kita bertemu. Aku sedang bosan didalam villa jadi aku keluar mencari udara segar, bagaimana denganmu? ucap Miguel memulai percakapan.
__ADS_1
" Apa aku harus memberitahumu?" ketus Nixeelin merasa tak nyaman disamping pria yang dibencinya.
Mendengar jawaban wanita didepannya, Miguel pun menghela nafas kasar. "Yakk, apa kau akan terus seperti ini?"
" Kenapa, apa ada yang salah jika aku bersikap seperti ini padamu?" tukas Nixeelin dengan tatapan tajam dan aura dinginnya yang mendominasi.
" Wah, kau rupanya salah paham yah. Baiklah, aku akan jujur. Aku memang menyukaimu, dan aku ingin sekali kau menjadi milikku, tapi asal kau tau.. aku tidak pernah berniat berbuat salah denganmu. Hari itu kita memang tidur bersama, tapi itu tidak disengaja. Kau pikir aku menjebakmu?" pungkas Miguel panjang lebar.
Nixeelin tertegun, ia tampak terkejut setelah mendengar pernyataan Miguel.
" Wah, kau sepertinya tidak percaya kalau ada pihak lain yang menjebak kita." tambah Miguel berusaha mengontrol amarahnya.
Nixeelin yang sejak tadi diam, tak dapat berucap sepatah katapun. Dirinya hendak berlalu, namun tiba-tiba Miguel menahannya.
" Apa kau senang?" Miguel mangajukan tanya dengan wajah yang sedikit ditekuk, nada bicara pun sedikit berbeda, ia menjadi semakin dingin.
Nixeelin sontak berbalik, keningnya mengerut, ia menatap nanar pada pria matang itu. "Apa maksudmu?"
" Apa kau senang menikah dengan adik iparku?" tanya Miguel memperjelas maksudnya.
Mendengar penuturan Miguel, Nixeelin langsung menghela nafas. Ia benar-benar tak abis pikir mengapa pria yang sudah merusaknya justru menanyakan hal seperti itu.
" Jika kau hanya ingin mengatakan hal yang tidak penting, sepertinya aku tidak punya waktu." tukas Nixeelin dengan aura dinginnya.
" Apa kau begitu ingin bergabung dengan keluarga kami, menjadi anggota keluarga Kwans?"
Lagi-lagi pertanyaan Miguel menahan langkah kaki Nixeelin yang sebenarnya sudah ingin pergi. Wanita hamil itu sejujurnya muak melihat tampang Miguel, namun ia tak bisa pergi begitu saja.
" Hari itu aku sudah memberitahumu kalau aku punya istri dan juga anak. Jika wanita lain, dia pasti akan menggugurkan bayinya itu, tapi lihatlah dirimu. Saking inginnya menjadi anggota keluarga kami, kau sampai tidak tau malu mempertahankan bayi itu dan menikah dengan adik ipar laki-laki yang sudah menghamilimu."
__ADS_1
Dheg.