Dunia Asmara

Dunia Asmara
Cinta pertama Davis.


__ADS_3

" Heh?"


" Sudahlah, kau sepertinya masih mabuk. Sebaiknya kau istirahat saja." tutur Nixeelin meraih kalung yang dipegang suaminya. Ia hendak menyimpannya ditempat semula, namun Davis seketika menahannya.


" Kau memintaku mengingatnya kan?" tanya Davis dengan mimik wajah yang begitu serius.


" Mengingat apa?" Nixeelin menautkan alisnya, ia tampak bingung pada ucapan suaminya.


" Dipantai hari itu.. kau memintaku memberitahumu jika aku sudah mengingat cinta pertamaku saat kecil." terang Davis dengan suara beratnya.


Nixeelin terdiam sejenak, setelahnya ia menunjukkan keseriusannya saat mengingat obrolannya beberapa minggu lalu dipantai bersama Davis.


" Sebenarnya aku bukan lupa.. tapi aku tidak bisa mengatakannya." lirih Davis.


" Kenapa?"


" Saat itu.. aku meminta anak kecil itu menjadi tunanganku, lalu berjanji menikahinya saat kami dewasa. Kau tau.. aku menepati janji itu.. dengan menikahimu."


Dheg.


Penuturan Davis membuat Nixeelin tertegun. Wanita hamil itu tampak terkejut mendengar pernyataan suaminya.


" Kau anak itu?" tanyanya kemudian yang dijawab anggukan kecil oleh Davis.


" Lalu kenapa kau diam saja selama ini? Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya."

__ADS_1


Dengan satu tarikan nafas, Nixeelin melontarkan tanya sekaligus. Sedangkan Davis, ia hanya tersenyum tanpa memberi penjelasan. Dirinya lalu menangkup wajah mungil istrinya, dan hendak menghadiahi sebuah kecupan dibibir namun tiba-tiba saja ia kehilangan kesadarannya, pingsan dalam pelukan sang istri.


" Yakk.. sadarlah. Kau kenapa?"


Nixeelin menepuk pelan punggung suaminya, namun ia tak mendapatkan respon.


" Aish, kenapa dia acara pingsan segala." gerutunya segera memapah suaminya ke tempat tidur.


****


Malam terlewati dan kini berganti pagi. Masih berada didalam kamar, tampak Davis yang baru tersadar dari tidur panjangnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum bangun. Tepat saat dirinya beranjak, ia langsung dikejutkan dengan keberadaan sang istri yang entah sejak kapan menunggunya bangun.


Pria muda yang masih mengenakan setelan yang sama dihari kemarin, tampak gugup saat ditatap istrinya.


" Semalam aku pasti sudah melakukan kesalahan kan? Maafkan aku." ucap Davis dengan tulus. Ia menundukkan kepala, tak ingin menatap Nixeelin.


" Aish, aku terlambat menyadari kalau kau ternyata anak kecil itu." celetuk Nixeelin lagi.


" Maafkan aku." ucap Davis dengan suara yang kecil.


" Tidak perlu minta maaf. Lagipula kau mungkin punya alasan tidak mengatakannya." ujar Nixeelin, sedangkan Davis hanya mengangguk kecil.


" Ah, ini kalungmu. Kau memintaku mengembalikannya saat kita sudah dewasa dan bertemu lagi. Jadi ambillah." tambah Nixeelin yang kemudian menyodorkan kotak mini pada suaminya.


" Kenapa kau mengembalikannya?"

__ADS_1


" Kurasa itu berharga. Hari itu kau mengatakan kalau kalung ini pemberian ibumu." terang Nixeelin seadanya.


" Jangan kembalikan, kau simpan saja. Ini sudah menjadi milikmu." tutur Davis memberikan kembali kotak mini itu.


" Baiklah. Terima kasih sudah menepati janjimu." Nixeelin tersenyum lembut dan tanpa aba-aba segera memeluk suaminya. Davis sontak termangu bersamaan itu jantungnya berdebar. Belum sempat membalas pelukan istrinya, Nixeelin sudah lebih dulu mengurai jarak dan beranjak.


" Aku masih ada pekerjaan kantor, kita bicara nanti lagi." ucap Nixeelin hendak berlalu, namun langkahnya tertahan.


Berdiam diri sejenak, wanita dengan dress selutut berwarna putih itu lalu berbalik dan tanpa aba-aba menghadiahi kecupan singkat dipipi suaminya. Davis terkejut, ia menatap nanar pada wanitanya sedangkan Nixeelin justru hanya melemparkan senyuman manis.


Setelah menjahili suaminya, Nixeelin pun hendak berlalu. Namun dengan gerakan cepat Davis justru menahannya dengan membuatnya terbaring diatas ranjang.


Dheg..


Jantung Nixeelin berpacu cepat, debaran itu sangat kencang tatkala ia dan Davis saling beradu pandang, menatap lekat manik mata. Bahkan dirinya dapat merasakan hembusan nafas segar dari suaminya.



" Apa yang... "


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Davis sudah lebih dulu membungkam bibir mungilnya dengan sebuah ciuman. Nixeelin yang tak siap terbeliak dengan mata yang membulat sempurna, namun sesaat kemudian ia pun membalas ciuman lembut Davis.


Keduanya tampak menikmati ciuman dipagi hari, tautan bibir yang seakan menuntut. Terbuai dengan sentuhan lembut suaminya, jemari Nixeelin perlahan bergerilya, meraba dada bidang suaminya.


Namun ciuman panas itu tak berlangsung lama, Davis mendadak menyudahi aksinya. Ia mengurai jarak dari sang istri, menatap lekat wajah natural istrinya dipagi hari.

__ADS_1


" Maafkan aku.. aku tidak bisa mengontrol diri. Kau sedang hamil, dan aku seharusnya tidak pantas melakukan ini."


Menyelesaikan penuturannya, Davis buru-buru bangkit. Dan tanpa berucap sepatah kata lagi, ia segera berlalu kedalam bathroom.


__ADS_2