Dunia Asmara

Dunia Asmara
Sentuhan Miguel.


__ADS_3

Rumah Sakit.


Setengah jam berlalu, Davis kini sudah berada dirumah sakit, menunggu didepan ruang IGD dengan ditemani Ishal. Nixeelin pun sudah diperiksa, dan saat ini masih terbaring lemah diatas brankar. Tak lama dokter yang memeriksa Nixeelin keluar dari ruangan, dan Davis segera menghampiri.


" Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Davis tak sabaran.


" Maaf, Tuan. Jika boleh tau, siapa wanita yang Tuan bawa?"


Alih-alih menjelaskan kondisi Nixeelin saat ini, dokter cantik itu justru mengajukan tanya. Ia tentu mengenal sosok Davis— putra bungsu presiden Dave Kwans yang sejak beranjak remaja tak pernah memiliki seorang kekasih. Dan hari ini ia dikejutkan oleh kedatangan Davis dengan membawa gadis cantik yang tak sadarkan diri.


Hening menyapa, Davis tak tau harus menjawab apa. Bibir tipisnya terkatup rapat, hatinya saat ini bimbang.


" Wanita yang didalam itu.. dia hamil." tambah sang dokter saat melihat pria muda didepannya terdiam.


Dheg.


Davis terbeliak, jantungnya berdegup kencang saat mendengar penuturan dokter cantik didepannya. Jika sebelumnya ia sudah melihat test pack yang menunjukkan hasil positif, namun ia tetap saja terkejut karena masih tak percaya pada hasil test pack tadi.


" Apa dia pacar, Tuan?" tanya dokter cantik itu penasaran.


" Humm.. dia pacarku." jawab Davis dengan mantap.


" Benarkah, Tuan? Wah, selamat atas kehamilan pacar anda. Pasti Tuan sudah lama berkencan, ya? Aish, anda benar-benar handal menyembunyikan masalah pribadi dari publik. Ah, tenang saja aku akan menutup mulut sampai hari pernikahan." tutur sang dokter panjang lebar, ia turut bahagia.


Davis yang mendengar itu hanya mengangguk kosong, dan segera berlalu hendak masuk kedalam IGD. Sementara Ishal, asisten tampan yang selalu setia menemani atasannya itu, memilih berjaga didepan pintu.


" Yeah, bos mu itu jantan sekali." goda sang dokter mengerlingkan sebelah matanya, sedangkan Ishal hanya menyunggingkan senyumnya saja.


***


Didalam ruang IGD Davis menghampiri brankar tempat Nixeelin masih terbaring. Wanita cantik itu sudah sadar, namun masih berdiam diri ditempatnya saat melihat Davis.


" Kau baik-baik saja?" tanya Davis.


" Humm.. terima kasih sudah mengantarku kesini. Kau bisa pergi sekarang, aku akan menghubungi asistenku."


Nixeelin memalingkan wajah, tak ingin menatap Davis dalam waktu lama.


" Aku tidak bisa meninggalkanmu." Davis menolak dengan cepat.


" Tapi aku sudah baikan." Nixeelin bangun, ia hendak beranjak namun Davis langsung mencegahnya.


" Kau hamil, kan." tanya Davis tanpa basa-basi, membuat Nixeelin tak berkutik.

__ADS_1


" Yang memeriksamu adalah dokter keluarga kami. Dia tau aku sebagai pacarmu."


" Apa?" Nixeelin mendongak, ia menatap intens wajah tampan Davis.


" Kau gila? Kenapa kau mengaku begitu saja." tanyanya kemudian seolah merasa kesal atas pernyataan Davis.


Davis tak menyahut dan memilih diam.


" Minggir." seru Nixeelin kasar, dan segera beranjak dari tempatnya. Tapi tiba-tiba Davis menyodorkannya sebuah test pack.


" Ini milikmu, kan?" ucap Davis. Nixeelin meraihnya dengan kasar, dan ingin berlalu namun Davis lagi-lagi mencegah langkah kakinya.


" Pulanglah bersamaku. Lagipula orangku sudah membawa mobilmu pulang kerumahmu." kata Davis dengan suara lembutnya.


" Lepaskan aku." ucap Nixeelin dengan begitu dingin.


" Kau ingin kemana, kondisimu juga belum stabil." Davis berusaha membujuk Nixeelin agar pulang bersamanya, tapi wanitanya itu justru mengabaikannya dengan segera keluar dari ruang IGD.


⚘️


⚘️


⚘️


Tak terasa hari kini sudah malam, dikediaman megah milik Kwans, dikamar utama rumah besar itu, terlihat Miguel yang tengah tidur diatas ranjang empuknya. Ranjang king size dengan seprai putih.


Sedangkan Nauora berada didalam bathroom. Ia baru saja selesai berendam didalam bathtub dan segera meraih bathrobenya yang tergantung.


Sembari memakai bathrobe hitamnya, ia memandangi pantulannya didalam cermin. Tercenung sesaat, perlahan tangannya terangkat, menyentuh kulit wajahnya.


" Aku sudah menjadi ibu Kidshan, sebentar lagi mungkin aku akan tua. Tapi aku bahkan belum bisa membuat Miguel jatuh cinta padaku." lirihnya dengan sendu.


Tak lama Nauora segera berlalu, keluar dari bathroom. Senyum kecil terukir kala mendapati suaminya yang tertidur pulas diatas ranjang.


Ya, meski Nauora tak pernah disentuh suaminya, namun ia tetap satu kamar dengan Miguel. Bahkan keduanya pun tetap berbagi tempat tidur tanpa melakukan kontak fisik karena ranjang mereka cukup lebar untuk berdua.


Perlahan mendekat pada tempat tidur, Nauora tersenyum saat mengamati wajah polos Miguel saat tertidur. Ia lalu menyusul, berbaring disamping suaminya tanpa memutus pandangannya dari wajah tampan itu.


" Kau sangat tampan, tapi kenapa kau tidak menyukaiku?" ucap Nauora dengan suara yang amat pelan. Dengan jemari lentiknya yang bermain diwajah tampan sang suami.



" Aku punya suami.. tapi kenapa bisa segagah ini? Tidur saja dia masih gagah, apalagi saat bangun." tambahnya tersenyum manis.

__ADS_1


" Astaga, aku semakin jatuh cinta melihatnya. Aish, ayah dan ibunya makan apa sampai anaknya bisa gagah seperti ini." celoteh Nauora menyentuh hidung mancung Miguel. Ia lalu menghela nafas, dan segera beranjak saat tersadar bahwa suaminya tertidur lelap.


Namun disaat hendak beranjak, tiba-tiba Miguel mencekal tangannya membuat dirinya terkejut.


" Ka.. Kau sudah bangun?" ucap Nauora terbata-bata.


Tak menyahut, dengan satu kali gerakan Miguel langsung membuat Nauora berada dibawah kungkungannya. Wanita cantik itu terbelalak, jantungnya pun berdegup kencang terlebih lagi pandangan Miguel yang begitu dalam membuat jantungnya tak aman lagi.


" Apa yang kau lakukan?" tanya Miguel dengan suara beratnya, menindih tubuh kecil istrinya.


" Maaf, aku tidak berniat mengganggumu." ucap Nauora dengan jujur.


Mendengar penuturan sang istri, Miguel pun melepaskan Nauora dari kungkungannya apalagi saat kedua matanya tak sengaja melihat belahan dada Nauora.


" Pergilah, pakai pakaianmu." ujarnya yang tak ingin menatap Nauora.


Nauora bangkit, dan hendak turun dari ranjang empuknya. Namun tanpa aba-aba Miguel kembali menahannya, meraih pergelangan tangannya hingga ia terduduk dibibir tempat tidur. Tak sampai situ, pria matang itu langsung mengecup bibir mungilnya. Kecupan lembut yang berganti menjadi luma-tan.


Nauora membalas ciuman Miguel, hingga ciuman itu semakin panas, dan menuntut. Tangan Miguel tak tinggal diam, ia melepas pengikat bathrobe milik istrinya dan menyentuh dua gundukan kenyal itu.


Haah...


Satu ******* lolos dari bibir tipis Nauora saat Miguel meremas miliknya. Dengan bibir yang masih tertaut, dan ciuman yang semakin panas, Miguel membuat Nauora terbuai hingga perlahan terbaring dikasur.


" Aku menginginkanmu malam ini." bisik Miguel menyudahi ciumannya bersama sang istri.


Nauora diam, ia hanya menjawab dengan ekspresi wajah saat ini. Sedangkan Miguel, dengan nafas yang memburu, ia kembali melu-mat bibir menggoda istrinya dengan satu tangan yang menjelajah, kembali meremas dua gundukan kenyal itu.


Bersamaan itu adik kecilnya menegang dibawah sana, pakaian Miguel belum terlepas, dan tangannya masih asik bergerilya. Puas memainkan kedua aset kembar sang istri, tangan Miguel lalu turun dan menyentuh area sensitif wanitanya.


" Haahh.."


******* Nauora membuat Miguel menggila. Namun entah mengapa, disaat wanitanya itu meraba dada bidangnya, sontak pria tampan itu tersadar atas perlakuannya. Buru-buru ia menyudahi permainannya dengan nafas yang tersengal-sengal.


" Kenapa kau berhenti?" tanya Nauora bingung.


" Tidak.. aku tidak bisa melakukannya denganmu." ucap Miguel segera beranjak dan meninggalkan istrinya begitu saja. Dengan langkah gontai ia memasuki bathroom, berusaha menenangkan dirinya didalam sana.


⚘️


⚘️


⚘️

__ADS_1


__ADS_2