
" Kau bodoh? Orang berkata seperti itu.. kau mirip ayahmu itu karena wajah kalian hampir sama, tapi bukan berarti sifat kalian juga sama." seloroh Ishal menghibur majikannya.
" Yakk.. berhenti menangis. Kau seperti perempuan saja. Dan juga maafkan aku.. aku bukan ingin mengaturmu, tapi kau harus sembuhkan penyakitmu itu. Lagipula tidak sulit, kau hanya perlu kompetitif, dan lebih berani lagi." ucap Ishal.
" Kau juga harus tau.. seseorang yang tidak bisa mencintai dirinya sendiri, dia tidak akan bisa dicintai oleh orang lain." tambah Ishal.
Davis tercenung sesaat, ia mencerna kata-kata yang dilontarkan asistennya.
" Kenapa kau mengatakan hal seperti itu?" tanya Davis setelah menarik diri dari diamnya sejenak.
" Itu karena kau tidak percaya diri. Andai kau percaya diri, pasti kau sudah lama mengatakan yang sebenarnya pada istrimu. Jika kau tidak percaya pada dirimu, itu berarti kau tidak mencintai dirimu sendiri." jelas Ishal panjang lebar.
Mendengar penuturan sahabatnya, Davis kembali diam. Ia tak lagi berkomentar dan memilih membuang pandangannya keluar sana. Sementara Ishal, ia pun segera menyalakan mobil dan kembali mengemudi.
⚘️
⚘️
⚘️
Mansion Kwans.
Setelah mengemudi hampir setengah jam, mobil yang dikendarai Ishal memasuki pekarangan kediaman Kwans. Mobil sedan hitam itu lalu terparkir didepan pintu utama, dan tak lama Davis segera keluar dari mobil. Ishal buru-buru menyusul, ingin membantu majikannya yang masih setengah sadar.
__ADS_1
" Yakk.. tidak perlu membantuku. Sampai sini saja, kau langsung pulang. Ini sudah tengah malam." ujar Davis dengan suara beratnya.
" Kau yakin bisa berjalan sendiri?"
Ishal memastikan kondisi sahabatnya karena sejujurnya ia cemas pada Davis.
" Cih, tentu saja. Aku bukan anak kecil." seloroh Davis menyempatkan diri tuk bercanda.
" Baiklah, aku pulang dulu." ucap Ishal kemudian, dan segera kembali masuk kedalam mobil.
****
Berjalan sempoyongan memasuki mansion hingga tiba dikamarnya, Davis mengedarkan pandangannya saat sudah berada didalam kamar.
Membuka salah satu laci dimeja rias istrinya, Davis lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Sebuah kota kalung yang sudah tampak jadul di era modern ini.
Membuka kotak itu, kedua mata Davis sontak berkaca-kaca. Bibirnya bergetar, wajahnya seketika memerah, pandangannya pun begitu sendu.
" Kau masih menyimpannya." lirihnya tanpa sadar menitikkan air mata.
" Davis?"
Ditengah kesedihannya, tiba-tiba Nixeelin menyahut membuat Davis terkejut. Buru-buru pria muda itu menyeka air matanya dan menoleh pada sumber suara.
__ADS_1
Nixeelin yang kini berdiri disamping tempat tidur, menatap nanar pada suaminya.
" Apa yang kau lakukan? Dan kenapa kau menyentuh barang-barangku?" tanya Nixeelin menghampiri suaminya. Tatapannya lalu beralih pada kalung berliontin yang dipegang suaminya.
" Kau sudah bangun?" celetuk Davis yang masih setengah sadar.
Mendengar ucapan suaminya, alih-alih menjawab, Nixeelin justru mengabaikan dengan mengendus bau badan suaminya.
" Kau sudah minum-minum?" pekik Nixeelin.
" Humm.. hanya sedikit." jawab Davis yang sepenuhnya tak sadar pada ucapannya.
" Apanya yang sedikit. Kau sampai bau alkohol seperti ini." tukas Nixeelin kemudian.
" Aish, lagipula kenapa kau minum banyak. Apa yang membuatmu frustasi sampai kau minum banyak. Kau seperti sudah diputuskan pacarmu." omel Nixeelin menyadari bahwa suaminya masih dikendalikan pengaruh alkohol.
" Humm.. aku yang memutuskannya."
" Apa katamu? Kau benar-benar punya pacar?"
" Tidak.. kami tidak pacaran. Tapi aku putus dengannya lalu menikahinya." celoteh Davis tersenyum.
" Heh?"
__ADS_1