Dunia Asmara

Dunia Asmara
Perasaan Ciko.


__ADS_3

Mansion Kwans.


Dihalaman belakang mansion Kwans, dipinggiran kolam renang, tampak Nauora yang tengah duduk dikursi kayu dengan didepannya ada sebotol penuh red wine diatas meja.


Setengah jam sudah ia berada ditempat itu, termenung memandangi air tenang dalam kolam. Wajah sendu serta bibir pucat, mengambarkan bahwa dirinya saat ini tidak baik-baik saja.


Pikiran dan hati berperang, kejadian di villa hari itu masih terbayang di benaknya. Wanita yang mengenakan pakaian pendek rumahan itu terlihat sangat terpuruk.


Tak lama helaan nafas kasar terdengar jelas. Nauora menghembuskan nafas berat, ia lalu meraih sebotol red wine itu dan menuangkannya kedalam gelas.


Pikirannya yang masih berfokus pada Miguel dan Nixeelin, membuatnya tak sadar menuang anggur merah itu kedalam gelas hingga penuh.


" Cintaku seperti ini.. penuh dan penuh, tapi tidak diperdulikan." lirih Nauora membiarkan gelas didepannya dipenuhi anggur merah. Setelahnya ia segera meneguk red wine itu sampai habis tak tersisa. Kegiatan itu terus berulang hingga red wine dibotol kaca itu habis.


" Anda sudah terlalu banyak minum."


Ditengah ketenangan, tiba-tiba terdengar suara maskulin dari Ciko. Pria yang saat ini tengah memakai setelan rumahan, tampak menampilkan senyumnya lalu segera duduk disamping Nauora.


" Minumannya sudah habis." celetuk Nauora dengan wajah yang kini memerah, imbas dari mengonsumsi alkohol berlebihan.


" Malam ini.. kau jadi temanku saja." tambah Nauora setengah sadar.


Ciko mengangguk dan tersenyum. Pria muda itu lalu mendongak, menatap langit malam diatas sana dengan hamparan bintang yang berkilau. Namun tiba-tiba saja Nauora menyenderkan kepala dibahunya, membuat Ciko seketika termangu.


" Apa yang begitu mengganggumu?" tanya Ciko menetralkan perasaannya yang gugup karena berdekatan dengan majikannya.


" Entahlah.. aku sendiri bingung." jawab Nauora seadanya.


" Kalau begitu selesaikan saja." ucap Ciko tiba-tiba.


" Selesaikan?" Nauora mengernyit, ia tampak bingung pada ucapan asistennya.

__ADS_1


" Humm.. kau harus selesaikan masalah yang mengganggumu. Setelah itu semua akan baik-baik saja." terang Ciko.


" Benarkah? Tapi aku bingung harus menyelesaikan bagaimana?" Nauora menghela nafas setelah menyelesaikan ucapannya.


" Hatimu. Kau ikuti saja kata hatimu."


Nauora diam sejenak, mencerna kata-kata asistennya. Sepersekian detik kemudian, ia mengangguk kecil lalu menampilkan senyumnya.


" Nara.. "


Panggilan lembut dilontarkan Ciko. Pria itu terlihat berfikir sejenak seraya memandangi langit malam yang bertabur bintang.


" Huum.. "


" Hari itu dipantai.. kau bertanya apa rahasiaku. Kau memintaku mengatakannya." tutur Ciko mengingat percakapannya bersama sang atasan.


" Kenapa, apa kau sudah berubah pikiran? Apa kau akan memberitahu aku rahasiamu?" lirih Nauora dengan suara yang amat kecil. Saat ini pikirannya tak stabil, alkohol membuatnya kehilangan setengah kesadaran.


" Aku mencintaimu.." ucap Ciko dengan mantap setelah ia terdiam beberapa saat.


" Aku mencintaimu sejak masih menjadi juniormu dikampus." tambah Ciko dengan jelas.


Satu detik hingga tiga detik kemudian, tak lama terdengar dengkuran halus. Ciko menoleh, ia lalu tersenyum saat mendapati majikannya yang sudah terlelap.


Perlahan tangan Ciko terangkat, ia hendak merapikan anak rambut yang menutupi separuh wajah cantik Nauora.


" Jangan sentuh dia!"


Dheg.


Ciko seketika membeku ditempat saat mendengar suara familiar itu. Suara berat yang tak lain dari sosok Miguel. Menghela nafas, Ciko lalu menurunkan kembali tangannya, sementara Miguel segera mendekat.

__ADS_1


Nauora yang sudah terlelap sembari bersandar dibahu Ciko, sukses membuat suaminya cemburu.


" Jangan menyentuhnya lagi. Maaf jika aku mengatakan ini, tapi sebaiknya bekerjalah secara profesional. Dia majikanmu, dan kau pelayannya, jadi perlakukan Nauora dengan semestinya." terang Miguel datar. Dirinya lalu segera menggendong sang istri yang sudah hilang kesadaran.


" Bisakah anda tidak membuatnya menangis lagi?"


Ucapan yang dilontarkan Ciko dengan lantang sukses menahan langkah kaki Miguel. Pria bertubuh kekar yang masih dalam posisi menggendong istrinya, tampak membeku ditempatnya.


" Kau hanya pelayan, bukankah sangat lancang kau bicara seperti itu padaku?" Miguel tersenyum getir, ia mendelik tajam pada asisten istrinya.


" Lucu sekali, Nyonya Nauora menggajiku tapi tidak pernah menyebutku pelayan. Dan anda.. hanya suami figuran tapi..." Ciko menggantung ucapannya, ia mengirim tatapan tajam pada Miguel, sorot matanya seolah merendahkan lawan bicaranya.


Miguel menggeram, pria matang itu berusaha meredam amarah setelah mendengar penuturan Ciko.


" Jika anda tidak bisa mencintai istrinya anda, setidaknya jangan membuatnya menangis." tukas Ciko dengan tegas.


" Yakk.. kau tau apa soal rumah tangga kami? Ayah mertuaku mempekerjakanmu hanya untuk menjaga putrinya, bukan mencampuri urusan hidupnya. Kau mengerti?" terang Miguel menekankan setiap katanya.


" Aku tau.. aku tau semuanya." tegas Ciko lagi.


Kening Miguel mengerut, ia tampak bingung.


" Kau tidak bisa menyimpan dua wanita dihatimu. Kau harus mengerluarkannya satu, atau setidaknya jangan membuat keduanya bingung. Kau harus bertanya pada dirimu sendiri, hatimu sebenarnya untuk siapa." jelas Ciko tanpa embel-embel, berbicara formal pada suami majikannya.


⚘️


⚘️


⚘️


Kuyyyy.. visualnya Ciko dong:)

__ADS_1



__ADS_2