Dunia Asmara

Dunia Asmara
Terlambat.


__ADS_3

" Kau tau.. hari itu saat kau memintaku menikahimu, aku merasa sangat bangga karena akan memiliki istri hebat sepertimu. Tapi aku bodoh karena malu mengakui perasaanku itu. Mungkin selama ini kau mengharapkan cintaku.. tapi kau tau, aku juga sebenarnya pernah mengharapkan perasaan seperti itu. Pagi tadi saat kau mengatakan mencintaiku.. aku ingin sekali membalasnya. Tapi aku malah mengulur waktu sampai tidak punya kesempatan hari ini." tutur Miguel panjang lebar dengan berurai air mata.


Saking larutnya dalam kesedihan, Miguel kesulitan mengatur nafasnya. Tanpa melepas tangan istrinya, Miguel menyeka air matanya dengan satu tangan.


" Aku mencintaimu.." ucap Miguel setelahnya.


" Aku mencintaimu, Nara." ucap Miguel mengulang kembali pengakuan cintanya.


" Bukankah selama ini kau ingin mendengar itu? Jadi sekarang bangun dan dengarkan aku. Aku akan mengatakannya sampai seratus kali, sampai kau merasa bahagia." tutur Miguel menatap lekat wajah istrinya. Tak mendapati jawaban, Miguel semakin dirundung rasa sakit. Dia kembali menangis tanpa bersuara, namun tak berlangsung lama, kesedihanya berubah menjadi kepanikan saat tiba-tiba lampu monitor ICU menyala.


Bip. Bip. Bip.


Suara dari monitor ICU terdengar tiga kali berturut-turut, Miguel merasa takut juga panik. Tak membuang waktu lama ia menekan tombol darurat yang terletak didekat brankar istrinya.


Sedangkan diluar ruangan, semua sontak terkejut saat mendengar peringatan darurat dari dalam kamar rawat Nauora. Semua menjadi gelisah dan panik.


Code blue, code blue.

__ADS_1


Kode biru peringatan darurat berkumandang, hingga tak lama dua dokter dan beberapa perawat berdatangan.


" Dokter, apa yang terjadi pada putriku?" tanya Tuan Dave menghentikan langkah kaki salah satu dokter.


" Pasien mengalami komplikasi." terang sang dokter setelahnya buru-buru ia masuk kedalam ruangan Nauora, dan tak lama terlihat Miguel yang baru keluar.


" Apa yang kau lakukan pada putriku? Apa kau sengaja membuatnya semakin kritis?"


Keluar dari ruangan sang istri, Miguel langsung disambut omelan beruntun dari sang ayah mertua. Tuan Dave tampak mendelik tajam pada menantunya.


" Sudahlah, kenapa kalian malah ribut. Ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. " Davis menyahut, menengahi Ayahnya dan kakak iparnya yang ingin berperang dingin.


Selang beberapa saat, tampak dokter yang sudah selesai memeriksa Nauora, keluar dari ruangan. Tuan Dave, Miguel dan Davis segera menghampiri dokter itu.


" Bagaimana kondisi kakakku?" tanya Davis dengan cepat.


" Pasien mengalamai cardiac arrest." jawab sang dokter membuat tiga pria didepannya tercengang.

__ADS_1


Bagaimana tidak, cardiac arrest atau sudden cardiac arrest adalah kondisi dimana jantung tiba-tiba berhenti berdetak.


" Maaf, untuk sementara sebaiknya kalian tidak menemui pasien. Kondisinya semakin kritis." pesan sang dokter sebelum berlalu meninggalkan tiga pria itu.


Setelah kepergian sang dokter, Tuan Dave seketika syok. Pria paruh baya itu terduduk lemas dikursi tunggu. Davis yang melihat itu seketika merasa khawatir, ia lalu mendekat pada sang ayah.


" Ayah, sebaiknya pulanglah. Aku akan menjaga kakakku." ujar Davis.


" Ayah tidak bisa meninggalkan, Nauora." balas Tuan Dave dengan suara melemah.


" Tuan Dave, Tuan Davis benar. Sebaiknya kita pulang." sahut pengawal pribadi Tuan Dave.


Tuan Dave terdiam, ia tak bergeming. Sedangkan Davis segera melempar kode pada pengawal pribadi ayahnya.


" Antar Ayahku pulang, kalian lewat gerbang belakang rumah sakit karena didepan banyak wartawan."


Davis berpesan pada pria berbadan kekar didepannya, sebelum sang ayah dibawa pergi oleh pengawal pribadi itu.

__ADS_1


__ADS_2