Dunia Asmara

Dunia Asmara
Masakan Nixeelin.


__ADS_3

Diruang makan saat ini terlihat semua orang yang sedang menikmati makan malam dengan minus Davis juga Ishal.


Suasana dimeja makan tampak lebih aktif dari biasanya. Semua orang sedang asyik mengobrol disela-sela kegiatan makan, tetap berbicara meski topik tak begitu penting. Bahkan saking larutnya dalam perbincangan itu, semua orang hanya menikmati sedikit makan malam yang disajikan diatas meja.


Nixeelin yang sejak tadi menyimak obrolan orang-orang disekitarnya, sebenarnya merasa keherangan. Entah apa yang begitu asyik padahal topik pembicaraan sama sekali tak ada yang penting.


" Kenapa kau tidak makan?" tanya Nixeelin pada Nauora.


" Astaga, sejak tadi aku hanya memperhatikan mereka bicara." seru Nauora tersenyum kikuk.


Ditengah kebisingan yang sedang berlangsung diruang makan, terlihat Davis yang baru datang dengan Ishal yang mengekor dibelakangnya.


" Apa yang kalian bahas? Sepertinya sangat seru." tutur Davis segera duduk disamping istrinya, begitu juga dengan Ishal, mengisi kursi yang kosong.


" Hahahaha, hanya bernostalgia Tuan." sahut Andre, setelahnya meneguk habis segelas air putih didepannya.


" Kau lama sekali datang, tapi tidak apa-apa. Aku sudah pisahkan bagianmu. Makanlah, malam ini aku yang memasak." ujar Nixeelin sembari tersenyum manis.

__ADS_1


" Benarkah, kau rupanya pintar memasak. Terima kasih, aku akan menikmatinya." ucap Davis tak sabar ingin mencicipi masakan pertama istrinya.


" Maaf jika masakanku tidak seenak masakan Kinaya dan koki dimansion. Itu karena aku baru memasak lagi." terang Nixeelin seadanya.


" Tidak apa-apa, Nyonya. Terima kasih untuk makanannya." sahut Ishal mulai menyantap makan malamnya.


Namun disaat sesendok makan mendarat dimulutnya, ia seketika terdiam dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak.


" Ada apa, Ishal?" tanya Nixeelin.


" Tidak apa-apa, Nyonya." jawab Ishal yang tak lupa melemparkan sebuah senyuman pada istri majikannya. Ia lalu terdiam sejenak sebelum kembali menyantap makan malamnya. Tanpa Ishal sadari, rupanya semua orang kini menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


" Kapan terakhir kali kau memasak?" tanya Davis yang serentak membuat semua orang dimeja makan beralih menatap padanya.


" Saat aku kuliah." jawab Nixeelin jujur.


Mendengar jawaban istrinya, Davis menghentikan makannya, ia meletakkan sendok dan garpunya dengan asal. Setelahnya ia meraih tissue lalu menyeka sisa makanan dibibir tipisnya.

__ADS_1


" Ini adalah yang terakhir. Kau tidak perlu memasak lagi karena besok sudah ada koki." ujar Davis santai.


" Kenapa?" tanya Nixeelin memasang tampang polosnya.


" Masakanmu sangat tidak enak. Tampilannya bagus dan mampu menggugah selerah, tapi rasanya tidak layak dicicipi. Capcai buatanmu sangat pahit dan asin, entah apa yang kau tuangkan kedalam capcai itu saat memasaknya. Dan juga... pasta yang kau buat ini sangat pahit. Aku tidak pernah memakan masakan seperti ini, jadi... "


" Benarkah, menurutku ini sudah enak Tuan." sahut Ishal memotong ucapan tuannya. Dia mengerlingkan sebelah mata, memberi kode pada majikannya, namun Davis justru mengabaikannya.


" Heh?" Nixeelin menganga menatap suaminya dengan kedua mata yang membulat sempurna. Sepersekian detik kemudian, wajahnya memerah karena merasa malu. Ia lalu mengedarkan pandangannya, menatap satu persatu orang dimeja makan.


" Apa benar masakanku tidak enak? Lalu kenapa kalian..." ucapan Nixeelin menggantung, ia menatap pada semua orang disampingnya.


Sementara Nauora, Miguel, Lauren, Viet dan para asisten sontak tertunduk tampak memberi penjelasan.


" Maaf, aku harus mengatakannya untuk menghentikan niatmu yang mungkin ingin memasak lagi." tutur Davis dengan enteng, seolah merasa tak bersalah membuat istrinya malu dihadapan banyak orang.


" Ah, satu lagi." jeda Davis, sedangkan Nixeelin masih menatap wajah datar suaminya dengan mata yang tak berkedip.

__ADS_1


" Kuharap kau tidak memasak lagi, dan membuat Ayah mencicipi masakanmu." tambahnya.


Ishal yang mendengar perkataan Davis sejak tadi, menghela nafas sembari menggeleng kepala. "Ternyata dia masih idiot seperti waktu sekolah."


__ADS_2