
Didalam kamar utama kediaman Oliveira, tampak Nixeelin saat ini yang tengah berkemas. Ia memilah pakaiannya dalam lemari yang akan dimasukkan kedalam kopernya.
Sembari memilih-milih pakaiannya, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Nixeelin menoleh, dan lalu menghampiri meja riasnya. Dibukanya salah satu laci yang berada dimeja rias itu, Nixeelin kemudian mengeluarkan sebuah kotak mini. Ia lalu mengeluarkan sebuah kalung dari dalam kotak itu dan menyunggingkan senyumnya.
" Apa aku masih menjadi tunanganmu?" ucap Nixeelin memandangi kalung yang dipegangnya. Kenangan dimasa kecilnya pun kembali teringat dibenak.
Flashback.
Sore hari disebuah taman kota, tempat umum yang selalu dikunjungi oleh orang-orang diwaktu pagi hingga malam. Saat ini terlihat seorang gadis kecil berusia tujuh tahun, dan dia adalah Nixeelin Oliveira.
Nixeelin kini tengah duduk disalah satu bangku taman, menghadap danau memandangi air tenang. Sebelumnya dirinya datang bersama sang Ayah, namun Ayahnya menyuruh dirinya untuk menunggu ditaman dengan alasan sebuah urusan penting, hingga mau tak mau Nixeelin menunggu seorang diri. Namun Nixeelin merasa tak duduk sendiri, boneka kelinci kecil turut menemaninya.
" Cantik." ucap seorang anak laki-laki dengan tiba-tiba. Anak laki-laki yang berusia delapan tahun itu, tiba-tiba hadir menampilkan senyum manisnya, membuat Nixeelin sontak menoleh pada sumber suara.
" Twinky?" ujar Nixeelin menatap nanar pada anak laki-laki disampingnya.
Anak laki-laki itu terdiam, tampak tak mengerti arah pembicaraan Nixeelin.
__ADS_1
" Apa menurutmu Twinky benar-benar cantik?" ulang Nixeelin saat melihat anak sebayanya hanya diam saja.
" Siapa Twinky?" tanya anak laki-laki itu dengan bingung.
" Twinky adalah nama boneka kelinciku." jawab Nixeelin dengan suara ciri khasnya.
" Oh, tapi yang kulihat itu kamu, bukan bonekamu." seru anak laki-laki itu dengan menampilkan wajah datarnya.
" Kau cantik, sangat cantik. Aku menyukaimu." tambahnya dengan santai.
" Tidak. Aku menyukaimu karena kau membuatku senang." jelas anak laki-laki itu dengan sangat singkat.
" Kau mau bertunangan denganku?" tanyanya kemudian.
" Bukankah tunangan itu untuk orang dewasa yang saling mencintai? Seperti kakak tiriku dan pacarnya." ucap Nixeelin dengan polos.
" Kurasa anak kecil juga bisa." Ucap anak laki-laki itu, yang kemudian melepas kalung yang dipakainya.
__ADS_1
" Ambillah, ini hadiah tunangan kita." ujarnya menyodorkan pada gadis kecil didepannya. Nixeelin meraihnya, dan menatap seksama kalung itu.
" Apa kalung ini berharga?" tanya Nixeelin dengan suara cemprengnya.
" Tentu saja. Sebelum ibuku meninggal, dia membeli kalung itu dengan gaji pertamanya. Dia membelikanku, dan menyuruhku menyimpannya selalu." jelas anak lelaki itu.
" Lalu kenapa kau memberikannya padaku?" Nixeelin mengernyit.
" Karena kau tunanganku, jadi kau saja yang simpan dengan baik. Saat dewasa nanti dan kita bertemu, kau bisa mengembalikannya saat kita sudah menikah." ucap anak laki-laki itu dengan yakin.
" Tapi aku tidak punya barang berharga untuk diberikan. Ibuku sudah meninggal setelah melahirkanku, dan ayahku tidak pernah memberiku hadiah karena dia sibuk."
Wajah Nixeelin berubah sendu, ia merasa sedih saat kembali teringat tentang keluarganya.
" Tidak masalah, aku juga tidak meminta barang berhargamu. Kau mau menjadi tunanganku, itu sudah berharga bagiku." celoteh anak laki-laki itu, menampilkan senyum terbaiknya. Nixeelin yang melihat itu turut tersenyum bahagia.
Flashback Off.
__ADS_1