
Keesokan harinya, waktu libur bekerja sudah usai, dan semua kembali bekerja seperti biasa. Lauren sudah meninggalkan kediaman oliveira sejak pagi buta karena dirinya ada jadwal syuting, sedangkan Nixeelin pagi ini baru selesai bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Viet, seperti biasa pria itu sudah siap di dalam mobil menunggu atasannya. Duduk tenang dibelakang kemudi dengan setelan yang sudah rapi. Tak lama yang ditunggu sudah datang, namun bukannya membuka pintu belakang, melainkan membuka pintu dikursi kemudi.
" Keluarlah.. " seru Nixeelin dengan wajah datar.
" Kenapa?" Viet mengernyit, masih tak bergeming dari tempatnya.
" Aku akan menyetir sendiri, jadi keluarlah dan pakai mobil yang lain saja." titah Nixeelin tegas.
" Kenapa begitu, biasanya kita selalu pergi bersama. Ada apa, apa kau marah padaku?" Viet menjadi bingung, ia pun segera keluar dari mobil.
" Bukan begitu, hanya saja aku merasa risih berada didekat laki-laki."
" Hah?" Viet melongo, ia cukup terkejut dengan pernyataan Nixeelin.
" Yakk.. kau bicara omong kosong? Kita selalu bersama kenapa baru sekarang kau merasa risih?" Viet mendengus kesal, ia benar-benar tak habis pikir atas ucapan Nixeelin barusan.
Sementara Nixeelin, ia justru mengabaikan asistennya dan segera masuk kedalam mobil, mengambil alih kemudinya.
Viet yang melihat itu menghela nafas, lalu menggeleng.
" Xeelin, kau benar-benar aneh akhir-akhir ini. Kau makan makanan yang sebelumnya tidak kau sukai. Kau minum minuman yang juga kau tidak sukai. Dan sekarang kau juga tidak ingin berada didekat laki-laki. Sebelum bekerja hari ini, sebaiknya kau periksa dulu pada dokter, aku yakin ada yang salah dengan dirimu." cerocos Viet dengan asal dan segera berlalu, begitu juga Nixeelin yang langsung melajukan mobilnya.
⚘️
⚘️
⚘️
Sepanjang perjalanan Nixeelin terus melamun. Dirinya memikirkan ucapan asistennya tadi. Dan entah mengapa semua yang dikatakan Viet memang benar adanya, Nixeelin pun baru menyadari hal itu.
Tak lama mengemudi, Nixeelin menjumpai lampu merah dan segera menginjak pedal rem. Sembari menunggu lampu hijau, ia meraih ponselnya dan berselancar pada gawai pipih itu. Menekan aplikasi hijau dimana tempatnya selalu berkirim pesan. Wanita cantik dengan rambut dikuncir kuda itu hendak mengirim pesan pada seseorang, namun kembali ia urung saat rasa ragu mengetuk hatinya.
__ADS_1
Nixeelin kembali menaruh ponselnya didalam tas, dan kemudian menelungkupkan wajahnya pada kemudi. Tak lama ia mengangkat wajah dan memperbaiki posisi duduknya. Pandangannya beralih pada lampu merah, tepat disamping lampu merah itu terdapat hitungan mundur yang menandakan lampu merah akan berakhir.
Tepat pada angka tujuh, Nixeelin seketika termangu saat menyadari sesuatu, dimana seharusnya dirinya sudah kedatangan tamu bulanan ditanggal tujuh.
Mengecek tanggal pada jam mahal dipergelangan tangannya, hati Nixeelin sontak ketar-ketir saat mengetahui bahwa tanggal menstruasinya sudah terlewat seminggu.
Ekspresi wajah berubah, rasa tak tenang langsung menghantui. Tak lama lampu hijau, Nixeelin segera menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kencang.
Arah tujuan berganti, semula hendak menuju kantornya, Nixeelin justru mengubah arahnya menuju rumah sakit kenalannya.
Setibanya didepan rumah sakit Nixeelin seketika berubah pikiran. Belum memarkirkan mobil sedannya, ia kembali melajukan kendaraannya meninggalkan pekarangan rumah sakit.
****
Dilain sisi, tampak Davis yang saat ini tengah berada didalam mobil yang dikendarai oleh asistennya— Ishal. Pria tampan yang selalu menampilkan wajah datarnya itu, kini tampak fokus pada ipad ditangannya. Ia tengah memeriksa semua email yang dikirimkan Ishal sejak kemarin.
" Yeah, bukankah itu Nona Nixeelin?" ucap Ishal tiba-tiba.
Mendengar nama wanita yang dicintainya, Davis sontak mengangkat pandangan, menoleh keluar jendela. Namun ia justru tak melihat siapapun.
Bersamaan itu Ishal tergelak. Pria muda itu rupanya menjahili atasannya. Sementara Davis yang baru tersadar langsung menapok kepala asistennya.
" Kau sudah bosan bekerja, hah?" ucap Davis mendengus kesal.
" Maaf Tuanku..." ujar Ishal dengan tawa yang tersisa.
Tak lama mobil yang dikendarainya berhenti dibawah lampu merah. Asisten gagah itu mengedarkan pandangannya, dan mengernyit saat melihat seseorang yang tak asing.
" Yeah, bukankah itu Nona Nixeelin?" ucap Ishal dengan pandangan yang terus tertuju pada seseorang diluar sana.
" Yakk, berhenti membodohiku." ketus Davis yang tak ingin mengalihkan pandangannya dari layar ipadnya.
" Aku serius, Davis. Dia Nona Nixeelin." ucap Ishal meyakinkan majikannya.
__ADS_1
Davis pun akhirnya mengangkat pandangan, dan menoleh keluar jendela. Ternyata ucapan asistennya kali ini memang benar, ia dapat melihat jelas sosok wanita yang dicintainya.
" Nixeelin?" lirihnya.
" Tapi kenapa dia keluar dari apotek?" tambahnya yang terus mengamati Nixeelin hingga masuk kedalam mobil.
" Ishal, ikuti dia." titah Davis dengan cepat saat melihat Nixeelin melajukan mobilnya.
" Tapi kan kau ada rapat siang ini." Ishal mengingatkan jadwal atasannya hari ini.
" Hubungi orang kantor dan katakan kalau aku ada urusan lain." seru Davis.
" Oke, baiklah." Ishal segera menginjal pedal gas, menerobos lampu merah.
⚘️
⚘️
⚘️
Manning Bar.
Mobil sedan hitam metallik keluaran terbaru milik Nixeelin, terparkir rapi didepan sebuah bar. Tak lama siempunya kendaraan keluar dengan memakai kacamata hitamnya. Meninggalkan tempat parkir, Nixeelin berjalan gontai memasuki bar dengan heels lima sentinya.
Didalam sana, wanita cantik itu langsung mendapat sambutan hangat dari seorang bartender pria.
" Hallo, Nona. Anda baru berkunjung lagi, apakah anda sibuk belakangan ini?" sapa pria gagah itu yang bertugas sebagai bartender.
" Humm.." Nixeelin hanya menjawab dengan senyuman seraya melepas kacamata hitamnya.
" Anda ingin minuman apa?" tanya pria itu kemudian.
" Aku.. " Nixeelin tampak berfikir sejenak.
__ADS_1
" Aku ingin ke toilet dulu." ucapnya kemudian dan segera berlalu dengan menenteng tas brandednya.