
Melangkah masuk kedalam kamarnya, Davis mengernyit saat tak mendapati sang istri. Ia lalu mengedarkan pandangannya, dan samar-samar indera pendengarannya menangkap suara dari dalam bathroom.
Gemercik air dari dalam bathroom terdengar jelas saat Davis berdiri didepan pintu. Ia tampak gugup, menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.
" Aku harus mengatakan apa padanya?" gumamnya yang kemudian mengeluarkan dua tiket nonton yang dibeli asistennya tadi.
" Bagaimana caranya aku mengajak dia menonton?" ucapnya lagi pada diri sendiri. Lama terdiam dengan fikirannya sendiri, Davis lalu menoleh, memandangi dirinya dalam pantulan cermin meja rias sang istri.
" Aku membeli dua tiket nonton, apa kau ingin menonton bersamaku?"
Davis mempraktekan bagaimana cara dirinya nanti mengajak sang istri menonton bersama. Namun pria tampan itu menggeleng, merasa kalimat percobaan tadi terlalu kaku untuk diucapkan nanti pada istri cantiknya.
" Humm.. ayo menonton bersama. Aku tadi membeli dua tiket." ulangnya lagi sembari menampilkan senyum tipisnya.
" Ah, tidak. Ini terlalu norak." Davis kembali menggeleng cepat. Ia tak percaya diri untuk mengajak Nixeelin menonton dibioskop karena bagaimanapun ia tak pernah berkencan.
Ceklek.
Sepersekian detik kemudian, Nixeelin tiba-tiba keluar dari dalam bathroom. Dengan bathrobe putih yang membalut tubuhnya, ia berjalan santai melewati Davis begitu saja.
" Kau baru datang?" tanya Nixeelin tanpa menatap pada suaminya. Wanita cantik itu berdiri didepan meja rias, mengambil hair dryer dan mulai mengeringkan rambut panjangnya yang basah.
" Iya.. " jawab Davis sedikit kikuk. Ia tengah berfikir, bagaimana cara untuk mengajak istrinya menonton.
__ADS_1
" Begini.."
Ucapan Davis terhenti saat tak sengaja pandangannya terarah pada sebuah kotak perhiasan diatas meja rias. Pria yang masih mengenakan setelan kantor itu sontak tercenung dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
" Kau membeli kalung itu dimana?" tanya Davis kemudian, ia menunjuk kotak perhiasan itu.
" Kalung?" kening Nixeelin mengerut setelah mendengar pertanyaan suaminya.
" Bagaimana kau tau kalau didalam kotak perhiasan itu ada kalung?" tanyanya kemudian merasa heran.
" Ah.. aku hanya menebak saja. Dan kotak itu memang terlihat seperti tempat kalung." jelas Davis sedikit kikuk.
" Oh. Apa yang ingin kau katakan tadi?" Nixeelin mengajukan tanya seraya mengeringkan rambutnya.
Drt. Drt. Drt.
Ucapan Davis terjeda saat tiba-tiba ponsel Nixeelin yang tergeletak diatas ranjang, berdering hebat.
" Ponselmu bunyi, mungkin ada yang menelfonmu." seru Davis menatap istrinya dipantulan cermin.
" Tidak usah diangkat. Itu pasti Lauren." ujar Nixeelin dengan enteng.
" Kenapa?" Davis menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
" Dia mengajakku menonton dibioskop malam ini, katanya ada film baru. Dia mengajak Viet tapi suaminya sibuk dikantor. " tutur Nixeelin santai.
" Lalu kau akan pergi?" tanya Davis lagi, merasa penasaran.
" Tentu saja tidak. Aku tidak suka menonton. Kau tau, itu sangat membosankan dan hanya membuang waktu saja." cerocos Nixeelin yang masih mengeringkan rambutnya.
Glekg.
Davis menelan ludah, tubuhnya seketika kaku ditempat setelah mendengar penuturan sang istri. Niatnya yang ingin mengajak Nixeelin menonton bersama seketika lenyap.
" Oh, kau membeli tiket?"
Masih mengeringkan rambut panjangnya, Nixeelin tak sengaja melihat dua tiket nonton yang dipegang suaminya. Buru-buru ia mematikan hair dryernya, dan membalikkan badan.
" Coba kulihat." tambahnya merampas dengan cepat tiket ditangan suaminya.
" Wah, film ini bagus sekali. Aku..."
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Davis dengan cepat mengambil kembali tiketnya.
" Kau beli dua tiket nonton, satunya untuk siapa?" tanya Nixeelin, menelisik wajah tampan suaminya.
" Itu.. " Davis bingung, ia tak tau harus menjawab apa.
__ADS_1