Dunia Asmara

Dunia Asmara
Terungkapnya sebuah rahasia!


__ADS_3

Nixeelin seketika terhenyak setelah mendengarkan penuturan Miguel. Kalimat demi kalimat yang dilontarkan pria itu terasa begitu menohok dihatinya. Suasana pun mendadak hening, Nixeelin terdiam sejenak sembari menatap nanar pada pria dihadapannya.


" Apa katamu?" lirihnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


" Bukankah seharusnya kau berterima kasih karena aku tetap mengandung anakmu, dan kau justru mengatakan hal seperti ini? Apa kau benar-benar tidak punya hati nurani?" tambahnya tersenyum getir


Sementara Miguel dengan rasa tak bersalah memalingkan wajahnya.


Tanpa disadari Miguel dan Nixeelin, rupanya dari kejauhan Nauora mengamati mereka berdua.


" Baiklah, kita lihat apa yang akan dikatakan istrimu jika dia tau kalau adik iparnya mengandung bayi suaminya." ujar Nixeelin menantang, ia hendak berlalu namun Miguel justru menahannya dengan mencekal pergelangan tangannya.


" Kau gila?" Miguel berusaha mencegah Nixeelin agar tak pergi.


" Lepaskan aku." Nixeelin memberontak, ia menghempas kasar tangan Miguel. Hendak berlalu, namun tanpa diduga Miguel justru menarik kembali tangannya lalu membawanya kedalam sebuah ruang kosong. Setelahnya Miguel segera menutup kembali pintu ruangan itu.


" Apa kau benar-benar gila? Apa yang ingin kau katakan pada Nauora. Ingin memberitahu semuanya? Lalu bagaimana jika Nauora mengetahuinya nanti? Kau pikir semua akan baik-baik saja?" hardik Miguel dengan satu tarikan nafas. Terlihat pria itu berusaha mengontrol emosinya, meredam amarahnya.


" Kenapa kau baru perduli sekarang? Saat aku memintamu tinggal hari itu, kenapa kau justru meninggalkanku." teriak Nixeelin didepan wajah Miguel. Ia tak mau kalah, meninggikan volume suaranya.


Disaat Miguel dan Nixeelin berdebat didalam sana, rupanya Nauora kini berada didepan pintu. Wanita cantik itu sejak tadi dilanda rasa penasaran saat melihat dari jauh suami dan adik iparnya tampak bersitegang membuat rasa ingintahu nya menyeruak hingga ia memutuskan tuk menghampiri ruangan dimana Miguel dan Nixeelin berada.


Berdiri didepan pintu yang tak tertutup rapat, Nauora kini tengah mencuri dengar percakapan suaminya dan juga adik iparnya dengan menautkan kedua alisnya. Ia mengernyit keherangan. Tak hanya itu, dirinya juga kebingungan karena tak mengerti maksud pembicaraan keduanya.


" Nixeelin, kumohon mengertilah. Aku meninggalkanmu dan memilih berada disamping Nauora juga Kidshan agar kau tetap baik-baik saja. Pikirmu jika aku memilihmu kita akan baik-baik saja? Tidak. Nauora akan mengejar kita dan membuat masalah. Bahkan dia bisa saja membunuhmu dan bayi kita." jelas Miguel panjang lebar.


Volume suara Miguel yang besar tentu dapat didengar jelas oleh Nauora.

__ADS_1


Dheg.


Nixeelin yang mendengar serentetan omelan Miguel tertegun sesaat. Berbeda dengan Nauora dibalik pintu, wanita cantik itu tercengang. Sangat terkejut mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari bibir tipis suaminya. Ia sontak merasakan sesak dihatinya hingga kedua mata indahnya pun langsung berkaca-kaca.


" Lalu kenapa kau masuk kedalam hidupku? Apa kau tau bagaimana menderitanya aku saat kau menolak untuk bertanggung jawab? Aku sampai putus asa karenamu." pungkas Nixeelin dengan suara bergetar, ia mengeluarkan semua unek-unek yang lama dipendam dalam hati.


Nauora yang masih menjadi mendengar diluar sana, kini membeku ditempatnya.


" Tahan.." lirih Nauora dengan suara bergetar. Lapisan bening yang mengkristal dimanik matanya, siap meluncur membasahi kedua pipinya. Meremas ujung gaun yang dikenakannya, Nauora sebisa mungkin menahan tangisnya yang benar-benar ingin pecah saat ini.


" Tahan, Nauora. Kau tidak boleh menangis sekarang." tambahnya menguatkan diri sendiri. Bibir bergetar, tangis yang sudah seharusnya pecah masih berusaha ditahan Nauora.


" Daripada menjadi adik iparku, bagaimana jika kau menjadi temanku saja? Aku tau ini terdengar lucu, tapi kau tau tidak, aku tidak memiliki teman."


Sesak menggerogoti hati Nauora saat kembali teringat perbincangannya dengan Nixeelin beberapa waktu lalu. Ia perlahan melangkah mundur bersamaan itu air matanya menetes. Tak ingin diketahui keberadaannya oleh Miguel dan Nixeelin, Nauora segera berlalu seraya menahan tangisnya yang ingin pecah.


Berjalan gontai meninggalkan tempat itu, Nauora berusaha untuk tetap sadar, tak hanyut dalam rasa sakit hatinya, hingga seketika langkah kakinya terhenti saat tiba-tiba Ciko muncul dihadapannya.


" Nyonya, ada apa?"


Ciko memang tak tahu menahu apa yang terjadi pada atasannya, namun ia cukup mengerti saat menatap lekat manik mata wanita didepannya.


" Ciko, bisakah kau memelukku?" pinta Nauora dengan suara bergetar dan raut wajah yang sendu.


Ciko terdiam sesaat, dan tak lama pria gagah itu mendekat selangkah hingga tak menyisahkan jarak, ia lalu memeluk Nauora dengan penuh kasih.


Perlakuan hangat asistennya semakin mengundang pilu Nauora hingga tangis yang ditahannya pun pecah seketika.

__ADS_1


Haaaaahhhhhhh.....


Sesak yang menggerogoti dada Nauora saat ini, sungguh terasa begitu menyiksanya. Ia meraung-raung melampiaskan sakit hatinya.


" Aku bodoh.. aku benar-benar bodoh. Hiks.. hiks.. hiks.." ucapnya terisak pilu.


" Tidak apa-apa.. menangislah. Setelah itu Nyonya pasti akan merasa baik-baik saja." seru Ciko menenangkan Nauora dengan mengusap lembut rambut panjangnya.


" Mereka, hiks.. hiks.. "


Dengan gelombang suara yang bergetar, Nauora berucap. Ia benar-benar merasakan sakit yang luar biasa saat ini.


" Mereka sangat kejam. Kenapa membodohiku sampai sejauh ini." tambahnya dengan penuturan tak jelas imbas dari nada suaranya yang bergetar hebat.


" Tenanglah, aku disini." ucap Ciko menenangkan, menepuk pelan punggung Nauora yang bergetar.


Selang beberapa saat kemudian, Ciko mengurai pelukan itu saat merasa tangis Nauora mereda. Ditatapnya wajah sembab majikannya, ia pun merasa tak tega. Perlahan ibujarinya mengusap pelan air mata yang membasahi kedua pipi Nauora, dan tak lupa menampilkan senyum kecilnya untuk menghibur wanita didepannya.


" Mau melihat pantai bersamaku?" tanyanya mengulurkan tangan.


Dengan wajah sendunya, Nauora mengangguk kecil karena saat ini memang dirinya membutuhkan udara segar. Menerima uluran tangan asistennya, ia lalu mengikuti langkah kaki Ciko yang menuntunnya kearah pantai.


⚘️


⚘️


⚘️

__ADS_1


Visualnya Ciko dong...🥰



__ADS_2