
Mansion Kwans.
Tak terasa waktu berlalu, hari kini sudah pagi. Sinar matahari pagi berwarna kuning keemasan, menyapa hunian mewah Kwans. Terlihat kini diruang makan ada Miguel dan juga Davis yang tengah menikmati sarapan pagi bersama dengan minus Nauora.
Pelayan yang bertugas menyajikan sarapan diatas meja makan, semua terlihat sangat sibuk.
“ Dimana Kakak ku?” tanya Davis dengan datar seraya menyantap sarapan paginya.
“ Aku tidak tau.” jawab Miguel singkat.
Mendengar jawaban seadanya dari sang kakak ipar, Davis menghela nafas kasar. “Apa dia belum pulang sampai sekarang?”
Miguel mengangkat pandangannya, menatap nanar pada Davis. “Kenapa kau bertanya padaku, jika kau tidak melihatnya berarti dia memang belum pulang.”
Nada suara Miguel terdengar sangat ketus, setelah menyelesaikan ucapannya ia kembali menyantap sarapan paginya. Namun tiba-tiba saja, sekelebat pikiran buruk terlintas dibenaknya begitu saja. Sontak ia melepas kasar sendok dan garpunya, dan segera beranjak dari duduknya.
Davis yang melihat itu merasa bingung, namun ia tak ingin ikut campur dan hanya diam menikmati hidangan didepannya.
***
Keluar dari ruang makan dengan langkah kaki gontai, Miguel juga mencoba menghubungi sang istri, namun nomor tujuannya tak aktif hingga membuat dirinya semakin cemas.
“ Tuan, ada apa?” tanya Andre yang berjalan disisi Tuannya.
“ Pergilah, minta bantuan pada bawahanmu untuk mencari Nauora. Aku yakin wanita gila itu berbuat buruk lagi.” titah Miguel dengan langkah yang tergesa-gesa.
Sesampainya diluar halaman kediaman Kwans, pria tampan itu segera menuju ke mobil sportnya yang terparkir rapi tak jauh dari pintu utama. Sedangkan Andre, pria itu juga segera masuk kedalam mobilnya sendiri, berpisah arah dari Tuannya karena tujuan mereka memang berbeda.
__ADS_1
Miguel yang kini sudah berada dibelakang kemudi, segera menyalakan mobilnya dan menginjak pedal gas. Mobil sport hitam itu melaju, meninggalkan kediaman megah Kwans.
***
Sepanjang perjalanannya, Miguel tak hentinya menghubungi nomor ponsel sang istri. Tapi tetap saja tak mendapat respon hingga semakin membuat pikirannya kalang kabut.
“ Kau dimana Nara, apa lagi yang kau perbuat kali ini.” lirihnya seorang diri tampak sangat cemas.
Miguel panik bukan tanpa alasan, sebab dirinya sudah sangat mengenal Nauora. Ia tau bahwa wanitanya itu sangat berbahaya, mengingat kejadian beberapa tahun lalu semakin membuat pikiran Miguel kacau.
⚘️
⚘️
⚘️
Nauora masuk kedalam lift, dan menekan tombol yang akan mengantarnya kelantai teratas dimana ruangan sang presdir berada.
Selang beberapa menit, ia sampai dilantai tujuannya. Buru-buru ia keluar dari lift, berjalan gontai menuju ruangan presdir.
Ceklek.
Menerobos masuk kedalam sana, Nauora disuguhi pemandangan tak mengenakkan hatinya dipagi hari karena rupanya sipemilik ruangan tengah asik berciuman panas dengan seorang gadis muda.
Sontak siempunya ruangan terkejut, melepaskan tautan bibirnya dengan wanitanya.
“ Keluarlah.” ucap pria itu pada wanitanya.
__ADS_1
Selepas kepergian wanita itu, Nauora segera duduk disofa seraya mengamati pria tampan yang duduk dikursi kebesarannya.
“ Kau sangat buruk, dan tidak pernah berubah.” sinis Nauora dengan mimik wajah yang seakan jijik menatap pria gagah itu.
Mendengar ucapan Nauora, pria itu hanya menyunggingkan senyum tipisnya. “Kau tidak perlu berlebihan, bagaimanapun juga kau pernah merasakan nikmatnya bibirku.”
Kalimat fulgar yang dilontarkan pria itu sukses membuat Nauora terdiam dengan wajah datar.
“ Diamlah, dan sebaiknya kau jangan mengungkit masalah itu lagi. Kau tau kan, aku memintamu melakukan itu tidak dengan gratis, aku membayarmu dan menjadikanmu seperti sekarang. Jadi sebaiknya kau jangan melupakan itu.” tutur Nauora menekankan setiap katanya.
“ Kenapa kau mengatakan itu, Sayang. Dengarkan aku.. aku juga mendapatkan itu tidak dengan duduk manis dikursiku. Aku mendapatkannya dengan kerja kerasku selama seminggu itu. Kau ingatkan?”
Pria tampan dengan nama lengkap Jerico Horres, menampilkan seutas senyum diwajah tampannya, mengingatkan Nauora pada moment sepuluh bulan lalu.
Nauora diam, dia tidak tau harus berkata apa untuk melawan pria tampan itu. Sementara Jerico, ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Nauora.
“ Kau ingatkan..” kembali Jerico berucap, berbisik tepat didepan wajah cantik wanita dewasa itu. Nafas hangatnya menyapu kulit wajah Nauora, membuat wanita itu termangu.
“ Aku meniduri wanita pilihanmu dengan imbalan saham.” tambah Jerico membuat Nauora menelan salivanya.
Melihat Nauora mematung ditempat, Jerico dibuat tersenyum puas. Pria itu lalu segera kembali duduk dikursi kebesarannya.
“ Katakan.. apa yang kau inginkan sampai berani datang kesini?” Jerico mendelik pada Nauora yang sejak tadi terdiam.
Hening menyapa, tak ada jawaban dari wanita cantik itu yang masih mengunci bibir dengan rapat.
“ Ah, apa kali ini kau ingin aku menghamilimu? Bilang saja, kau tidak perlu malu. Jika kau ingin menjebak Miguel dengan mengatakan kau mengandung lagi anaknya, silahkan. Aku dengan senang hati membantumu.” cerocos Jerico dengan seringai licik diwajah tampannya.
__ADS_1