Dunia Asmara

Dunia Asmara
Dunia Asmara 09


__ADS_3

Masih dikediaman megah Kwans, tepatnya dikamar utama rumah itu. Terlihat Nauora yang tengah berada didalam kamar, duduk dibibir tempat tidur seraya memandangi bayi mungilnya yang bermain seorang diri.


Bayi mungil berusia dua puluh minggu itu belum juga memiliki nama, sebab Nauora yang notabene adalah Ibu dari bayi itu, masih bingung harus menamai anaknya siapa, mengingat bagaimana bayi kecil itu lahir ditengah keluarga Kwans, keluarga nomor satu dinegaranya.


Senyuman hangat terukir diwajah cantik Nauora. Wanita muda itu tampak bahagia, masih belum menyangka bahwa dirinya sudah memiliki bayi diusianya yang masih muda.


Masih dengan senyumnya, jemari Nauora perlahan menyentuh kulit wajah bayinya. Terasa sangat lembut, Nauora bisa melihat bayinya yang bereaksi saat ibu jarinya mengelus lembut salah satu pipi bayi mungilnya.


“ Kau bahagia?” Nauora mengajukan tanya pada bayinya, meski ia tau tak akan mendapat jawaban.


“ Ibu harap kau selalu bahagia, bahkan ketika kau sudah besar nanti, kau tetap bahagia memiliki orang tua seperti Ibu dan Ayahmu.” ujarnya yang tak terasa menitikkan air mata.


“ Maafkan Ibu, nak.”


“ Maafkan Ibu.. karena mengambil pilihan salah untuk menghadirkanmu didunia ini. Ibu menyesal, tapi Ibu juga senang karena kau bisa lahir dengan selamat dan tumbuh dengan sehat.”


Air mata Nauora mengalir semakin deras kala dirinya melihat bayi mungil didepannya yang menampikan mimik wajah bahagia saat menggeliat kecil diatas kasur. Ia merasa sangat sedih karena menjadi Ibu dari bayi yang tak berdosa itu.


“ Kau sangat bahagia, ya.” ujarnya lagi beralih mengelus lembut puncuk kepala sang bayi yang masih ditumbuhi rambut halus.


Bayi itu menampilkan senyum sumringah, memperlihatkan gusinya yang belum ditumbuhi gigi.


Tok. Tok. Tok.


Ditengah ketenangan, tiba-tiba pintu diketuk. Dan tak lama seseorang diluar sana segera masuk.

__ADS_1


“ Nyonya, saya sudah mengurus semuanya.” ujar orang itu yang tak lain adalah Ciko— sang asisten. Ia melaporkan hasil kerja hari ini, dimana seharian dirinya mengurus perihal ulang tahun perusahaan DX. Kwans.


“ Baiklah, kita bicara lagi diruanganku.” balas Nauora, segera beranjak dengan sebelumnya mengecup singkat kedua pipi bayinya secara bergantian.


Nauora dan Ciko meninggalkan kamar, dan tak lama terlihat Miguel yang baru datang. Pria matang itu masuk kedalam kamar, sekilas ia melirik pada bayi kecil yang bermain diatas ranjang seorang diri.


Miguel memilih mengabaikan, namun seketika terdengar suara gelak tawa kecil dari bayi itu hingga sukses membuat langkah kaki Miguel tertahan saat hendak berlalu kedalam bathroom.


Ia menoleh, mengamati bayi kecil itu yang terkadang menggeliat kecil. Lama mengamati, tak sadar senyum tipis Miguel terukir. Melihat bayi itu sendiri, entah mengapa Miguel berinisiatif untuk menghampiri dan menemani sang bayi bermain.


“ Hai, apa kabar.” sapanya mengelus pipi sang bayi.


“ Kau sudah besar saja, padahal kemarin kau baru lahir.” Tambahnya beralih menyentuh jemari sang bayi. Namun tak disangka, bayi mungil itu menggenggam erat satu jemari tangannya. Miguel tersenyum, hatinya bergetar karena untuk pertama kali jemarinya digenggam oleh seorang bayi.


“ Kau terlihat sangat senang, nak.”


“ Semoga saja kau selalu bahagia menjadi anak Ayah.”


Menyelesaikan ucapannya, Miguel lalu mengecup pipi bayi mungil itu. Ia terlihat sangat bahagia menemani bayi itu bermain.


“ Papa..”


Celotehan samar bayi mungil itu, tertangkap indera pendengaran Miguel. Pria matang itu termangu, memandangi bayi kecil dihadapannya yang sejak tadi aktif bergerak diatas kasur.


Tersentuh mendengar panggilan bayi itu karena memang hal itu pertama kali terjadi pada Miguel.

__ADS_1


“ Apa ini, kau memanggilku Papa?” senyum Miguel merekah, ia menggelitik bayi mungil itu hingga mengeluarkan suara gelak tawa renyah dari si bayi.


“ Tunggu, anak Papa ini belum punya nama. Baiknya siapa namamu, ya...” Miguel tampak berfikir keras, saking fokusnya berfikir ia mengabaikan sang bayi yang terus saja bermain sendiri.


Sepersekian detik kemudian, Miguel menjentikkan jemarinya saat terlintas sebuah nama yang bagus dan unik menurutnya.


“ Papa sudah mendapat nama yang bagus untukmu.” seru Miguel pada sang bayi. Setelahnya ia kembali menemani bayi mungil itu bermain.


****


Disatu sisi, tepatnya diruangan pribadi milik Nauora. Wanita cantik dengan rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja, tampak menerima laporan dari asistennya— Ciko.


Nauora menyimak semua yang dijelaskan Ciko perihal persiapan untuk merayakan ulang tahun perusahaan.


“ Baiklah, kurasa semua sudah siap. Lalu bagaimana dengan perusahaan Davis?” tanya Nauora setelah Ciko selesai menyampaikan laporannya.


“ Aku belum memastikan dengan jelas, Nyonya. Tapi sepertinya Tuan Davis juga sudah mengurus setengahnya.” jawab Ciko seadanya.


Anniversary perusahaan DX. Kwans dan perusahaan DK. Brand, tahun ini Nauora dan Davis memang sudah sepakat dijauh hari untuk menggabungkan hari perayaannya karena memang ulang tahun perusahaan DK. Brand, hanya berjarak tiga hari saja setelah ulang tahun perusahaan DX. Kwans. Itulah mengapa Nauora berinisiatif untuk menggabungkannya disatu hari karena kali ini kedua saudara itu berencana merayakan pesta besar-besaran dengan mengundang banyak orang penting.


“ Panggilkan aku Davis, aku ingin bicara dengannya tentang tamu undangan nanti.” titah Nauora, bersandar pada kursi kebesarannya.


“ Sepertinya Tuan Davis sedang ada diluar.” ucap Ciko dengan wajah datarnya.


“ Diluar?” Nauora mengernyit, ia lalu melirik jam dipergelangan tangannya yang masih menunjukkan pukul delapan malam.

__ADS_1


“ Ada apa dengan dia, kenapa selalu keluar dijam seperti ini.” tambahnya dengan suara lirih, namun masih bisa didengar jelas oleh Ciko.


“ Baiklah, saat dia pulang beritahu aku.” tambah Nauora, melihat sekilas pada asistennya sebelum beranjak dan meninggalkan ruangannya.


__ADS_2