
Hendak menuju kamarnya, tiba-tiba Nauora teringat pada bayi mumgilnya. Ia lalu memutar arah, menuju kamar putra kecilnya. Namun setibanya didalam kamar minimalis itu, ia tak mendapati siapapun, bahkan Kinaya— sang pengasuh juga tak terlihat.
“ Dimana dia? Kenapa aku selalu mendatangi kamar yang kosong.”
Nauora hengkang, hendak mencari putra kecilnya yang menurutnya berada ditempat lain. Dan benar saja, melewati ruang tengah, ia dapat mendengar jelas celotehan bayinya dan sesekali akan terdengar suara gelak tawa yang cempreng.
Nauora tersenyum, merasa bahagia mendengar suara malaikat kecilnya. Buru-buru ia bergegas menemui putra kecilnya.
“ Anak ibu mana..” celetuk Nauora menghampiri putra kecilnya yang tengah berada didalam gendongan sang pengasuh.
Kidshan menatap dengan mata berbinar, bayi kecil itu tampak bahagia melihat Ibunya tersenyum padanya.
“ Nyonya, Kidshan merespon cepat.” sahut Kinaya turut bahagia.
“ Kidshan?” Nauora mengernyit dengan senyum tertahan.
“ Ada apa, Nyonya?” Kinaya kebingungan, menatap nanar wajah majikannya.
“ Apa suamiku yang memberitahu nama itu?” tanya Nauora kemudian.
“ Iya, Nyonya. Ada apa?” jawab Kinaya seadanya.
“ Ah, Tuan Miguel juga memberikan ini untuk Tuan Muda Kidshan.” tutur Kinaya memperlihatkan gelang yang melingkar di pergelangan tangan Kidshan.
Nauora tersenyum, ia sama sekali tak menyangka bahwa suaminya akan memberikan hadiah untuk putra kecilnya, terlebih lagi rupanya nama Kidshan disandingkan dengan nama marga Arrawda.
“ Terima kasih, Miguel.” gumam Nauora dalam hati dengan senyumnya.
“ Aduh!” rintih Kinaya dengan tiba-tiba.
__ADS_1
“ Ada apa? Kau kenapa?” refleks Nauora khawatir, menatap intens pada pengasuh bayinya.
“ Nyonya, sepertinya aku harus ke toilet. Aku titip Kidshan dulu.” seru Kinaya menyerahkan bayi mungil dalam gendongannya pada majikannya.
Nauora yang kini mengambil alih putra kecilnya, terdiam ditempat seraya memandangi kepergian pengasuh baby Kidshan.
“ Aish, dia selalu melakukan ini saat aku ada didekat putraku.” gerutu Nauora mengingat kelakuan pengasuhnya sejak dulu.
Nauora hendak berlalu, namun saat kakinya melangkah, Kidshan seketika menangis hingga membuat wanita cantik itu tertahan ditempat.
“ Eihh, kenapa menangis Sayang. Kau tidak ingin pergi bersama Ibumu?” tanya Nauora pada bayinya.
Kidshan hanya tertawa, meraba wajah cantik sang Ibu. Melihat itu, Nauora tersenyum dan hendak pergi namun putra kecilnya tiba-tiba menangis lagi.
“ Ada apa lagi, Sayang? Apa kau ingin bermain diruang tamu?” Nauora menatap intens wajah mungil bayinya dan seketika itu juga Kidshan tertawa.
“ unce.. unce..” celoteh baby Kidshan dengan suara khasnya saat melihat Davis berlalu dihadapannya.
Langkah kaki Davis terhenti, pria gagah itu menoleh dan menatap pada bayi laki-laki yang tengah berada dalam gendongan Nauora.
“ Davis, dia memanggilmu.” celetuk Nauora girang.
“ Kau memanggil Uncle, nak?”
Davis menghampiri keponakannya, dan saat itu juga Kidshan tampak antusias seolah meminta dirinya digendong. Dengan senang hati Davis menyambut, ia mengambil alih bayi kecil dalam gendongan kakaknya.
“ Wah, dia senang denganmu, Davis.” tutur Nauora tersenyum hangat.
“ Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu.” tambahnya dengan santai.
__ADS_1
“ Kau ingin kemana?” Davis sontak menatap tajam pada kakaknya saat wanita cantik disisinya melangkah.
“ Aku punya urusan, jaga saja Kidshan. Bye!” jawab Nauora dengan enteng.
“ Kidshan?” Davis mengernyit, tiga lipatan terlihat dikeningnya. Sedetik kemudian ia tersadar saat sang kakak sudah menghilang dibalik pintu utama.
“ Aihh, dia itu menyebalkan sekali. Aku juga sibuk.” gerutunya seorang diri, melirik jam dipergelangan tangannya.
Davis resah melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua belas siang, dimana hari semakin naik dan ia memiliki jadwal meeting untuk hari ini.
“ Kinaya!” panggil Davis keras.
Hening, tak ada jawaban sama sekali. Suasana didalam kediaman Kwans saat ini sangat tenang.
“ Dimana lagi dia.” Davis mulai tak sabar, dia menoleh dan menatap tampang polos putra kecil kakaknya. Davis terdiam sejanak, pria muda itu tampak berfikir.
“Baiklah, tidak ada pilihan lain.”
“ Tuan, ada yang bisa dibantu?”
Disaat hendak melangkah pergi, tiba-tiba saja seorang gadis muda yang notabene adalah pelayan kediaman Kwans, muncul dibelakang Davis. Davis menoleh dengan wajah datarnya.
“ Kinaya sedang berada ditoilet, Tuan. Jika anda sibuk, anda bisa menitipkan Tuan Muda denganku.” seru sang pelayan.
Davis tak bergeming, ia tampak berfikir sejenak.
“ Tidak perlu, aku akan menjaga keponakanku.”
Davis bersuara setelah menarik diri dari keterdiamannya. Sejujurnya ia tak terlalu mempercayai pelayan dirumahnya sendiri, sebab mengingat peristiwa beberapa tahun lalu membuatnya tak bisa percaya dengan mudah pada orang lain.
__ADS_1