
" Aku tidak ingin dan aku tidak bisa menikahimu!" jelas Robin dengan tegas.
" Apa?"
Lapisan bening yang mengkristal dikedua manik mata Lauren, tak dapat lagi ia bendung. Bulir air mata pun lolos membasahi kedua pipinya.
" Tapi aku... "
Dengan suara yang bergetar, Lauren hendak menjelaskan sesuatu namun lidahnya terasa kelu.
" Kurasa tidak ada lagi yang harus dibicarakan. Aku sibuk." Robin membuang muka, tak ingin bersitatap dengan wanita cantiknya.
" Aku hamil." ucap Lauren setelah menarik nafas dalam.
Dheg.
Pria muda itu sontak terkejut mendengar pernyataan wanita didepannya. Tak ada reaksi berlebihan, ekspresi wajahnya pun sulit ditebak.
" Lalu?" tanyanya setelah terdiam sesaat.
Lauren mengernyit, dahinya mengerut menautkan kedua alisnya. Sebelumnya ia berharap, setelah Robin mengetahui kehamilannya, kekasihnya itu akan berubah pikiran namun justru ia kembali menelan kekecewaan.
" Kenapa kau memberitahu aku bahwa kau hamil. Memangnya apa yang kau harapkan setelah memberitahu aku?" tutur Robin panjang lebar, masih tampak santai dengan tangan yang berada didalam saku celana.
__ADS_1
" Kenapa kau mengatakan hal itu? Bukankah ini saatnya kau bertanggung jawab?" Lauren tersenyum getir, tatapannya nanar pada pria gagah didepannya.
" Aku hamil! Aku mengandung bayimu." gelombang suara Lauren semakin bergetar saat memperjelas kembali ucapannya. Ia tersenyum kecut melihat reaksi Robin yang tampak biasa saja.
" Lalu kau sungguh ingin aku bertanggung jawab?" Robin menyeringai tipis membuat Lauren menatap tak percaya padanya.
" Bajingan! Kau membuat hidupku hancur lalu kau tidak ingin bertanggung jawab?" emosi Lauren mencuat, bersamaan itu nada suaranya pun meninggi.
" Yakk.. kau yang menghancurkan dirimu sendiri. Kau yang dengan mudah memberikan tubuhmu padaku." sentak Robin dengan tegas.
" Tapi kau merayuku lebih dulu."
Lauren mengingatkan kejadian beberapa minggu lalu dengan nada tinggi, namun pria tampan didepannya justru memalingkan wajah tak ingin menatapnya.
Lauren terdiam, ia tak bisa berkutik setelah mendengar penuturan Robin yang begitu menohok dihati. Dirinya tak pernah menyangka bahwa pria gagah dihadapannya akan terang-terangan menolak untuk bertanggung jawab.
" Pergilah, dan cari laki-laki mana yang ingin menikahi wanita yang sudah rusak. Jika kau menemukannya, maka kau harus bersyukur, namun jika tidak menemukannya, maka kau harus belajar bahwa sebagai wanita kau harus menjaga dirimu dengan baik." jelas Robin menekankan setiap katanya. Setelahnya ia segera berlalu begitu saja, meninggalkan Lauren yang membeku ditempat.
Tanpa disadari keduanya, rupanya Nixeelin yang sejak tadi mencuri dengar percakapan mereka, kini tercenung dibalik pintu tangga darurat. Semua perkataan Robin yang ia dengar seakan sebuah tamparan untuknya.
" Benar.. mana ada laki-laki yang ingin menikahi wanita yang sudah rusak." lirihnya dengan suara yang amat kecil.
__ADS_1
Membuka pintu tangga darurat, Robin langsung bertatap muka dengan Nixeelin. Pria itu sangat terkejut karena tak menyangka akan kehadiran mantan rekan bisnisnya itu. Pandangannya lalu beralih pada sosok pria yang tak kalah tampan darinya, yang berdiri tak jauh dibelakang Nixeelin. Pria itu tak lain adalah Viet, yang selalu mengekor dibelakang atasannya.
Robin dengan sikap santainya berlalu melewati Nixeelin. Pria itu terlihat angkuh, menghiraukan keberadaan Nixeelin. Namun langkahnya tertahan saat ia juga hendak melewati Viet begitu saja.
Dengan tatapan dinginnya, Viet mendelik tajam pada Robin dan tanpa aba-aba ia menghadiahi bogem mentah diwajah tampan Robin
Buk.
Satu pukulan mendarat mulus, Robin langsung tersungkur diatas lantai. "Satu pukulan dariku."
Buk.
Kembali Viet memukul Robin, kali ini dengan sangat keras. "Satu lagi dari wanita yang sudah kau lewati."
Buk.
Pukulan terakhir dilayangkan Viet, nafasnya pun kian berat. "Dan itu dari wanita yang sudah kau sakiti didalam sana."
Viet lalu hengkang, berjalan masuk kedalam tangga darurat. Nixeelin pun sudah ada sejak tadi disamping sahabatnya
" Kita bicara dirumah." ucap Nixeelin pada Lauren.
" Viet, bawa Lauren keluar dari sini." titahnya lagi sebelum berlalu tanpa banyak bicara.
__ADS_1