
" ingin meminta laki-laki lain menikahi Lauren, tapi dimana aku akan menemukan laki-laki itu? Laki-laki yang tidak akan menyakitinya dikemudian hari nanti dan tidak akan membuatnya malu dihadapan publik." tutur Nixeelin setengah terisak membuat Viet menghela nafas kasar.
" Jangan seperti ini, kita bisa cari cara lain. Tidak mesti dengan menikahinya, aku bisa membujuk laki-laki brengsek itu untuk bertanggung jawab atas kesalahannya."
Viet melunak, berusaha mengontrol emosinya lalu memberi solusi pada Nixeelin karena bagaimanapun ia akan merasa lemah jika melihat wanita didepannya menitikkan air mata.
" Istri Robin akan melahirkan, bagaimana bisa aku membuat Robin bertanggung jawab pada Lauren. Istri Robin mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan bayinya, bagaimana bisa kau datang lalu membujuknya untuk menikahi Lauren." terang Nixeelin dengan wajah sendu.
Mendengar penuturan Nixeelin, Viet menghela nafas kasar. Sejenak terdiam, ia tampak berfikir. Selang beberapa detik ia berlalu tanpa berucap sepatah katapun pada atasannya.
⚘️
⚘️
⚘️
Waktu berlalu, hari berganti lagi dan kini pagi sudah menyambut. Tampak sinar matahari berwarna kuning keemasan menyorot kediaman megah Nixeelin Oliveira, membuat bangunan berwarna cream itu semakin indah dipandang.
Pemilik bangunan bergaya eropa klasik itu masih terlelap diatas ranjang, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Masih bergelut dibawah selimut putih, tiba-tiba ponselnya yang berada diatas nakas berdering, namun hal itu tak mengganggu tidurnya.
Selang beberapa saat kembali benda pipih itu berdering hingga tak lama mengusik tidur pagi Nixeelin. Ia lalu mengeluarkan satu tangannya dari selimut dan meraih ponsel mahalnya yang berlogo apel setengah gigit.
Tanpa melihat layar ponsel, Nixeelin menjawab panggilan itu dan membawa ponselnya masuk kedalam selimutnya. Menempelkan diindra pendengarannya, kedua mata wanita cantik itu masih terpejam rapat.
__ADS_1
" Selamat pagi, Nona Nixeelin. Maaf mengganggu, saya dokter kandungan yang memeriksa anda kemarin." tutur seorang gadis muda diseberang telfon, membuat dua kelopak mata Nixeelin terbuka.
" Dokter kandungan? Tunggu, siapa yang memberimu nomor telfonku?" tanya Nixeelin datar, merasa sedikit risih sebab tak sembarang orang yang bisa menghubungi nomor pribadinya.
" Ah, maaf Nona. Saya mendapatkannya dari Tuan Davis. Hari itu Tuan Davis memintaku untuk membuat laporan tentang kesehatan calon bayinya, dan memberiku nomor telfon anda untuk dihubungi jika sudah selesai." jelas dokter cantik itu.
Mendengar penuturan dokter dibalik telfon, Nixeelin menghela nafas. Ia sedikit kesal karena menurutnya Davis terlalu berlebihan dan sudah cukup jauh mencampuri urusan hidupnya.
" Nona bisa datang untuk mengambil hasil laporannya." tambahnya sang dokter.
" Baiklah, aku akan segera kesana." balas Nixeelin menutup panggilan telfonnya.
⚘️
⚘️
⚘️
Siang hari dirumah sakit terbesar di ibukota, tampak Nixeelin yang baru saja tiba. Memakai heels setinggi dua senti, wanita dengan rambut cokelat tergerai itu tampak berjalan gontai memasuki bangunan bertingkat itu.
Kacamata hitam tak lepas dari wajah cantiknya yang mungil, serta menenteng tas brandednya. Dres putih pendek yang dikenakan membuat paha mulusnya terekspos. Dokter dan perawat serta pasien tentu saja menyorot tampilannya saat ini yang terlihat begitu elegant nan berkelas.
" Cantik sekali. Dia pacar Tuan Davis kan?" ujar salah seorang perawat wanita.
__ADS_1
Nixeelin mendengarnya sekilas, namun ia memilih mengabaikannya karena tujuannya saat ini adalah menemui dokter kandungan yang menghubunginya pagi tadi.
****
Ruang OBGYN
" Hasil pemeriksaan kemarin.. bayi anda sehat. Anda hanya perlu mengonsumsi buah dan susu dipagi hari." jelas sang dokter muda yang cantik.
Ayca Siran atau biasa disapa Dokter Ayca adalah dokter kandungan termuda dirumah sakit itu yang memang dipercaya Davis untuk memeriksa Nixeelin tanpa sepengetahuan wanita cantik itu.
" Humm.." jawab Nixeelin seadanya. Ia lalu beranjak dari duduknya, hendak meninggalkan ruang dokter kandungan, namun langkahnya tertahan tiba-tiba.
" Kau tidak memberitahu orang lain tentang kehamilanku kan?" tanyanya pada Dokter Ayca.
" Tentu saja, Nona. Aku akan menjaga privasi anda sampai menikah dengan Tuan Davis." jawab Dokter Ayca dengan mantap.
" Baiklah." ucap Nixeelin kemudian dan segera berlalu.
Meninggalkan ruangan dokter obgym, Nixeelin melangkah dengan lesu disepanjang koridor rumah sakit, pikiran dan isi hatinya tak sama saat ini. Larut dalam pikiran sendiri, ia pun tak menyadari kehadiran seseorang dihadapannya. Langkah kaki Nixeelin pun terhenti saat ia tersadar.
Mengangkat pandangannya, ia tertegun sejenak saat tak sengaja beradu pandang dengan seorang wanita didepannya.
" Kau rupanya.." seru wanita dewasa yang tak lain adalah Nauora.
Sedangkan Nixeelin masih terdiam. Ia hanya menatap nanar pada wanita didepannya, lalu pandangannya beralih pada sosok pria gagah yang berdiri disamping Nauora.
__ADS_1
" Kau wanita itu kan?" tanya Nauora kemudian, mendelik menatap wajah cantik Nixeelin.
Dheg.