Dunia Asmara

Dunia Asmara
Anniversary perusahaan.


__ADS_3

Masih berada didalam kamarnya, dan dengan posisi yang sama, Nixeelin termenung. Ia sangat penasaran dengan rupa anak laki-laki yang menjadi tunangannya dimasa kecil. Meski tak pernah bertemu lagi selama dua puluh tahun lebih, namun Nixeelin yakin dapat mengenali anak kecil itu dengan senyumnya.


Ceklek.


Sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba dari luar sana Lauren membuka pintu. Wanita berambut panjang itu menerobos masuk kedalam kamar sahabatnya tanpa permisi.


" Yakk.. kau sungguh ingin keluar negri?" tanya Lauren, mendelik pada sahabatnya.


" Humm.." jawab Nixeelin seadanya.


" Ah, bukankah itu kalung tunanganmu? Kau masih menyimpannya? Tunggu, apa kau sungguh menganggap anak kecil itu sebagai tunanganmu?" cerocos Lauren dengan mata yang membulat.


" Aish, kau itu kepo sekali." ketus Nixeelin menyimpan kalung itu pada tempatnya.


" Yakk.. aku hanya menasehatimu. Jangan sampai dia sudah menikah dan punya anak." seru Lauren kemudian.


Nixeelin terdiam, penuturan sahabatnya barusan masuk diakalnya.


" Jangan bilang kau selama ini masih sendiri karena berharap pada anak kecil itu. Ingat, saat itu kalian masih anak kecil, bagaimana bisa kau sungguh menganggapnya sebagai tunangan." omel Lauren.


" Auh, berhentilah bicara. Keluarlah, aku ingin berberes." Nixeelin beranjak, ia lalu kembali mengemas pakaiannya kedalam koper.


***


Disatu sisi, dikediaman Kwans. Saat itu terlihat Davis yang tengah berada diruang kerjanya seorang diri. Bersandar dikursi kebesarannya, ia memejamkan kedua matanya, menikmati kesendiriannya.


Ditengah ketenangan, tiba-tiba sudut bibir Davis tertarik, menampilkan senyum tipisnya. Kelopak matanya terbuka, ekspresi bahagia pun terlukis diwajah tampan itu.


Memperbaiki posisinya, Davis meraih ponselnya diatas meja. Ia kemudian menghubungi seseorang, dan tak lama seseorang diseberang sana menjawab.


" Selamat malam, Nona Xeelin." ucap Davis dengan lembut.


" Malam, ada apa?" Nixeelin diseberang sana mengajukan tanya.


" Besok.. kau datangkan?" tanya Davis.


Hening, Nixeelin tak bersuara.


" Humm, aku akan datang. Sebenarnya aku sedang melakukan sesuatu, jadi aku akan menutup telfonnya." ucap Nixeelin setelah terdiam beberapa saat.


" Ah, baiklah. Aku menunggumu besok."


⚘️


⚘️


⚘️


Delux Royal Hotel.


Diballroom hotel ternama, dengan dekorasi sederhana namun terkesan elegant, menarik perhatian para tamu undangan yang sudah hadir.


Perayaan ulang tahun dua perusahaan terbesar, diselenggarakan dihotel terbaik di ibukota. Para pejabat dan petinggi yang lain, sebagian sudah hadir dengan tampilan yang rapi.


Pemilik acara pun sudah hadir sejak tadi, menyambut para tamu yang datang. Acara itu juga dimeriahkan dengan hadirnya presiden Dave Kwans.


Ditengah acara yang tengah berlangsung, disalah satu sudut tempat, terlihat Davis dan Nixeelin, keduanya tengah berbincang hangat.

__ADS_1


" Aku mendengar anda memiliki setengah saham dari hotel ini?" tanya Davis.


" Humm.. tidak banyak. Aku hanya ingin mendapatkan peluang juga dari hotel ini. Kau tau kan, hotel ini cukup terkenal." jawab Nixeelin dengan senyum kecilnya.


" Ah, kudengar perusahaanmu berada dinomor urut pertama sebagai perusahaan dengan penghasilan terbanyak ditahun ini." seru Nixeelin antusias.


" Benarkah? Ishal memberitahuku, tapi kukira dia hanya bercanda." tutur Davis dengan santai.


" Kalau begitu, ayo kita bekerja sama juga." ajak Nixeelin kemudian.


Davis tersenyum, menatap intens wajah cantik Nixeelin.


" Kenapa? Kau meragukan perusahaanku? Kau tau jelaskan, perusahaan berlianku sudah diakui negara. Jadi kau tidak perlu khawatir." jelas Nixeelin, berusaha meyakinkan Davis.


" Alih-alih menjadi rekan bisnis, bagaimana jika kita berteman saja? Kau tau, pertama kali melihatmu aku langsung senang. Jadi mari berteman saja." terang Davia dengan jujur.


Nixeelin mengernyit, sesaat kemudian ia tertawa kecil dihadapan Davis hingga membuat pria muda itu bingung.


" Kau tau, baru kali ini aku menawarkan kerja sama lebih dulu, dan itupun langsung ditolak." ucap Nixeelin dengan tawa yang tersisa.


" Bukan begitu, aku tidak menolak tawaranmu, hanya saja aku ingin sekali kita berteman." jelas Davis.


" Humm..." Nixeelin menghentikan tawanya, ia lalu memanyunkan bibir mungilnya, tampak menimbang-nimbang ajakan berteman dari sosok Davis.


" Baiklah, kita berteman." ujarnya kemudian, dan tersenyum lebar hingga mempertontonkan deretan gigi putihnya.


Sementara Davis, pria gagah itu tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya, binar bahagia terlihat jelas diwajahnya. Senyum tipis yang terukir, menambah ketampanannya.


Senyuman itu...


" Ah, apa besok malam kau luang?" tanya Davis.


Mendengar penuturan Nixeelin, Davis seketika terdiam. Raut wajahnya kian berubah. "Berapa lama?"


" Entahlah, mungkin cukup lama karena aku ingin liburan juga." jelas Nixeelin.


Wajah Davis berubah sendu, ia tak lagi mengajukan tanya dan memilih menatap intens wajah cantik Nixeelin.


" Kenapa melihatku seperti itu, apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Nixeelin dengan kikuk.


" Tidak ada.." jawab Davis dengan senyum tertahan. Ia tentu merasa tak enak sebab dirinya akan ditinggal beberapa waktu oleh wanita yang dicintainya.


****


Disatu sisi tampak Miguel yang hanya seorang diri menjamu tamu yang datang. Pria gagah itu terlihat resah sebab sang istri belum juga menampakkan diri sejak tadi. Ia mulai merasa cemas bila istrinya melakukan sesuatu ditengah acara yang tengah berlangsung saat ini.


" Dimana Nauora?"


Suara berat dari seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Tuan Dave, sontak membuat Miguel terkejut. Seperti biasa, jika berhadapan dengan ayah mertuanya, Miguel menunduk, tak berani menatap pria paruh baya itu.


" Itu... "


Kata mengambang, Miguel bingung harus memberi jawaban apa, hingga sepersekian detik kemudian, tak lama dari arah pintu utama, terlihat sosok Nauora yang berjalan dengan sangat anggun.


Tak. Tak. Tak.


Bunyi heels yang membentur lantai marmer, sukses menarik perhatian tamu undangan terlebih lagi tampilan Nauora yang begitu memukau. Dress merah yang dikenakannya malam ini sungguh membuatnya terlihat sangat cantik dengan rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja.

__ADS_1


Bahkan Miguel yang selama ini menatapnya biasa saja, turut dibuat terpana dengan dandanan nya. Namun dengan sigap pria gagah itu memalingkan wajah saat merasakan sesuatu yang berbeda dihatinya.


" Maaf, aku terlambat." Ucap Nauora pada ayahnya juga Miguel dan dengan senyum manisnya.


" Kau sangat cantik malam ini. Kau benar-benar mirip ibumu." puji Tuan Dave dengan lembut.


Nauora yang mendengar pujian sang ayah menyunggingkan senyum, ia merasa senang karena sejak dulu sang ayah tak pernah berubah, selalu memberinya pujian hangat. Namun senyum itu perlahan sirna saat pandangan Nauora beralih pada Miguel yang tampak biasa saja seperti sebelumnya.


" Miguel, apa... " ucapan Nauora terhenti saat tiba-tiba suaminya mendekat dan mendekap pinggang rampingnya dengan sangat posesif.



" Apa yang ingin kau lakukan?" panik Nauora merasa tak nyaman atas perlakuan suaminya yang begitu tiba-tiba, terlebih lagi didepan sang ayah.


" Aku lelah, cepat suruh ayahmu menyelesaikan acara ini." bisik Miguel dengan sangat dingin. Namun ia justru menunjukkan sikap agresifnya agar Tuan Dave dan tamu lain yang melihatnya, tak merasa curiga.


" Pestanya baru dimulai." bisik Nauora juga.


" Aku tau tujuanmu dan ayahmu mengadakan acara besar-besaran seperti ini, jadi cepat suruh orang tua itu menyelesaikan acara ini." ucap Miguel mengurai jarak dari sang istri seraya menampilkan senyum terbaiknya.


Mendengar penuturan suaminya, Nauora seketika dibuat tak berkutik, hingga mau tak mau ia pun mengikuti keinginan Miguel.


⚘️


⚘️


⚘️


Waktu berlalu cepat dan acara aniversary perusahaan DX. Kwans dan perusahaan DK. Brand, pun sudah usai beberapa menit lalu. Bahkan Miguel juga sudah meninggalkan hotel, namun seperti biasa ia hanya bersama dengan asistennya— Andre. Sementara Nauora pulang bersama asistennya— Ciko.


Sepanjang perjalanan, terlihat Miguel yang sangat gusar. Perasaan tak tenang itu mengusik Andre yang tengah fokus mengemudi. Pria muda itu pun sesekali melirik spion, memperhatikan majikannya yang duduk dibelakang.


" Apa kau baik-baik saja?"


Lama terdiam sembari mengamati, Andre akhirnya bersuara. Namun yang ditanya justru tak menyahut dan memilih bersandar menyenderkan kepalanya seraya memejamkan kedua mata.


" Kali ini dia kenapa lagi?" gumam Andre dalam hati yang tanpa sadar menghela nafas.


Sedangkan disatu sisi, tampak mobil sedan hitam metallik keluaran terbaru, tengah melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibukota. Pengemudi tak lain adalah Ciko dengan Nauora yang duduk tenang dikursi belakang.


Meski tampak fokus pada kemudinya, namun Ciko sesekali melirik pada spion, mengamati raut wajah majikannya yang terlihat sendu sejak meninggalkan hotel.


" Apa Nyonya baik-baik saja?" tanya Ciko setelah lama mengunci bibir tipisnya.


" Humm, aku baik-baik saja." sahut Nauora berusaha tersenyum ditengah suasana hati yang tak baik.


" Anda sangat cantik malam ini." puji Ciko kemudian dengan lembut. Ia masih melirik pada spion, mengamati wajah cantik Nauora yang tak pernah membuatnya merasa bosan.


" Benarkah.." Nauora tersenyum, dan entah mengapa untuk pertama kali ia tersipu malu atas pujian asisten tampannya.


" Tentu saja." jawab Ciko dengan mantap.


" Anda selalu terlihat cantik, dan akan selalu cantik." tambahnya dengan suara yang mengalun lembut.


Mendengar pernyataan Ciko, wajah Nauora seketika bersemu merah. Wanita dewasa itu tampak menahan senyum lebarnya dengan menyunggingkan senyum tipisnya.


" Aneh sekali.. alih-alih suamiku, justru asistenku yang memuji penampilanku. Padahal aku berdandan untuk suamiku."

__ADS_1


Tawa kecil kemudian menghiasi wajah cantik Nauora, ia benar-benar terlihat bahagia hanya dengan satu kalimat yang dikatakan Ciko.


__ADS_2