Dunia Asmara

Dunia Asmara
Ada apa?


__ADS_3

Hujan yang sejak tadi pagi menyapa tampak belum reda juga hingga kini sudah memasuki waktu malam. Bahkan hujan lebih besar lagi dari sebelumnya. Hujan lebat saat ini tentu membuat semua orang di villa merasa jenuh dan malas melakukan aktivitas apapun, seperti Nauora yang hanya berdiam diri didalam kamarnya bersama Miguel.


Nauora kini sedang duduk disofa sembari membaca buku. Kegiatannya tak luput dari pandangan sang suami.


Miguel sejujurnya sejak tadi merasa aneh akan sikap istrinya yang tak seperti biasa. Dirinya ingin sekali mengajukan tanya, namun hatinya seakan menahan.


Selang beberapa menit, Nauora kemudian menutup buku lalu beranjak dari duduknya setelah melirik jam dipergelangan tangannya.


" Kau ingin kemana?" Miguel refleks berdiri dari duduknya.


" Makan malam, sepertinya Kinaya sudah memasak. Aku juga sudah lapar." jawab Nauora seadanya hendak pergi, namun langkah kakinya terhenti saat berdiri didepan pintu. Ia berbalik tiba-tiba hingga tanpa sengaja menabrak dada bidang sang suami yang rupanya mengekor dibelakangnya.


" Ah, maafkan aku." ucap Nauora yang tidak ingin menatap wajah suaminya. Setelahnya ia hendak berlalu, namun tak diduga Miguel seketika menahannya.


Miguel merengkuh pinggang ramping istrinya, hingga tak ada jarak yang tersisa. Menatap lekat wajah cantik istrinya dari jarak yang begitu dekat, nafas Miguel pun mulai berat. Nauora yang kini membalas tatapan Miguel juga dapat merasakan hembusan nafas segar suaminya.

__ADS_1


Keduanya saling beradu pandang, hingga tak lama Miguel memejamkan kedua matanya lalu mengecup bibir mungil istrinya. Kedua mata Nauora ikut terpejam, bersamaan itu air matanya seketika luruh. Entah mengapa, namun sentuhan suaminya kali ini berbeda dari malam itu, seakan mengundang rasa sakit juga sesak dalam hatinya. Terlebih lagi saat dirinya kembali teringat pada percakapan antara suaminya dan adik iparnya.


" Aku tidak menyangka akan sesakit ini." Nauora menjerit dalam hatinya, ia sama sekali tak menikmati ciuman itu dan justru tenggelam dalam rasa sakitnya.


Miguel yang memejamkan mata tentu tak melihat istrinya yang menitikkan air mata. Pria itu justru tampak hanyut dalam ciumannya meski Nauora tak membalasnya.


Sepersekian detik kemudian, Nauora tiba-tiba melepaskan tautan bibirnya dengan sang suami. Setelahnya ia mendorong pelan dada bidang Miguel, dan mengurai sedikit jaraknya.


" Maafkan aku, aku sedang tidak ingin." ujar Nauora menundukkan kepala agar Miguel tak melihat jejak air mata dipipinya.


Tanpa berucap sepatah katapun Nauora berbalik, mengusap jejak air mata dipipinya lalu hendak pergi tapi lagi-lagi Miguel menahannya.


" Kau kenapa?" tanya Miguel lembut.


Mendengar pertanyaan suaminya, hati Nauora seketika bergetar. Tentu saja karena untuk pertama kalinya ia bisa mendengar suara lembut suaminya, sedikit hangat tak sedingin biasanya. Nauora tertegun sesaat dengan posisi yang tetap sama.

__ADS_1


" Aku tidak apa-apa." jawab Nauora seadanya.


" Baiklah." seru Miguel kemudian, melewati sang istri dan hendak meninggalkan kamarnya, namun langkahnya tertahan saat Nauora tiba-tiba menggenggam tangannya. Sejenak pria tampan itu terdiam, lalu menoleh pada istrinya.


" Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Nauora lirih dengan tatapan yang sendu. Tatapan itu begitu dalam, seakan menyiratkan sesuatu.


" Apa yang harus kukatakan?" tanya balik Miguel merasa bingung.


" Benar, tidak mungkin kau ingin mengatakan yang sesungguhnya. Kau pasti akan menjaganya dari bahaya sepertiku." gumam Nauora dalam hati yang lagi-lagi menitikkan air matanya.


" Maaf, maafkan aku." ucap Nauora tersadar seketika, segera melepas tangan suaminya.


" Astaga, kenapa aku menangis. Aku tidak tau ada apa dengan diriku, tiba-tiba saja aku rindu dengan ayah." dusta Nauora kemudian, menutupi rasa kecewanya.


" Aku turun dulu." pamitnya segera berlalu karena berlama-lama disamping Miguel semakin membuat rasa sakitnya bergejolak.

__ADS_1


__ADS_2