
Disatu sisi, terlihat Nauora yang tengah melangkah menuju kamarnya. Tapi karena arah menuju kamarnya harus melewati kamar sang adik, Nauora tak sengaja melihat sekilas pintu kamar adiknya yang terbuka sedikit.
Ingin mengabaikan, namun mengingat bahwa dirinya memang punya urusan yang ingin dibicarakan dengan sang adik, Nauora memutuskan tuk mengunjungi kamar adiknya.
Berada didalam kamar Davis, Nauora tak mendapati siapapun. Ia mengedarkan pandangannya, menatap setiap sisi ruangan bergaya monokrom itu.
“ Dimana dia?” ucapnya pada diri sendiri.
Karena tak melihat siempunya kamar, Nauora memutuskan untuk pergi namun ponsel yang tergeletak diatas ranjang, menarik perhatiannya.
Nauora mendekat pada tempat tidur berukuran king size itu, melihat layar ponsel adiknya yang hidup karena sebuah notifikasi yang masuk. Sepersekian detik kemudian, ia menyunggingkan senyumnya dan meraih benda berbentuk pipih itu.
“Wah, apa ini.” ucapnya menahan tawa.
“ Ternyata dia punya pacar juga.” tambahnya.
Ya, Nauora ingin tertawa setelah mengetahui bahwa adiknya yang kaku itu ternyata mempunyai tambatan hati. Anggapan sepihak Nauora pun muncul karena sebuah foto wanita cantik yang dipasang diponsel mahal itu sebagai wallpaper layar kunci.
__ADS_1
“ Yakk, kenapa kau menyentuh ponselku.”
Tiba-tiba terdengar suara berat Davis. Pria itu baru saja keluar dari dalam bathroom dengan handuk yang melilit dipinggang, menampilkan dada bidangnya yang kekar. Raut wajahnya datar, mendekati Nauora lalu menyambar kasar ponselnya yang dipegang sang kakak.
“ Issh, aku juga tidak tertarik dengan ponselmu.” celetuk Nauora dengan sinis.
“ Terserah.” balas Davis ketus.
“ Tunggu, apa dia pacarmu?” Nauora menelisik wajah tampan adiknya, dimana masih ada sisa percikan air diwajah mulus David
“ Bukan urusan kakak. Ah, kenapa juga kakak masuk dikamarku tanpa izin.”
“ Wah, kenapa aku harus menggunakan izin. Apa ini rumahmu?” cerocos Nauora setengah berteriak, namun Davis justru mengabaikannya.
Merasa diabaikan oleh sang adik, Nauora segera menyusul kedalam walk in closet. Namun setibanya didalam sana, ia terperanga mendapati tampilan ruangan bergaya monokrom itu. Foto-foto wanita yang sama dilayar ponsel Davis, memenuhi setiap dinding ruangan minimalis itu.
“ Yakk.. apa yang kau lakukan dengan ruang gantimu? Apa kau membuat museum untuk pacarmu?” Nauora menatap tak percaya pada sang adik. Ia benar-benar tak habis pikir, mengapa adiknya yang dingin itu berubah seratus delapan puluh derajat.
__ADS_1
“ Kenapa kakak mengikutiku? Apa kakak penguntit?” cecar Davis dengan ketus tanpa menatap lawan bicaranya.
Handuk yang melilit dipinggang, belum terlepas, Davis masih sibuk memilih setelan yang akan di kenakannya ke kantor.
“ Wah, kau benar-benar, ya. Baiklah urus saja dirimu sendiri.” Nauora menggeleng karena ia baru mengetahui kebucinan adiknya.
“ Aku kesini untuk membicarakan tentang ulang tahun perusahaanmu.” ucap Nauora dengan serius, mulai membahas tujuan kedatangannya ke kamar sang adik.
“ Lalu?” seru Davis, beralih pada cermin besar yang berada didekat Nauora. Ia mencocokkan kemeja dan jas yang sudah menjadi pilihannya. Setelahnya ia melepas handuknya begitu saja hingga hanya menyisahkan dalaman boxernya.
“ Untuk tamu undangan perusahaanku, itu sudah selesai ku urus. Lalu untuk perusahaanmu kau ingin mengundang siapa saja.” tanya Nauora yang tak merasa terganggu pada tampilan adiknya saat ini
Davis terdiam, ia tercenung sesaat, mengingat percakapannya dengan Nixeelin kemarin malam saat bertemu dimall.
“ Kenapa kau diam?” Nauora kembali bersuara saat tak mendapati jawaban sang adik.
“ Keluarlah, aku akan mengurus sisanya.” ketus Davis dengan wajah datar.
__ADS_1
“ Baiklah, itu lebih bagus. Aku bisa bersantai sekarang sebelum harinya tiba.” balas Nauora segera berlalu dengan langkah gontainya. Sepatu heels yang dikenakan, menciptakan alunan suara sepanjang langkah kakinya.