
Mall Pusat.
Disalah satu restaurant dalam mall, tampak Davis yang sedang duduk seorang diri satu meja VIP.
Pria yang masih mengenakan pakaian yang sama seharian, sengaja memilih tempat yang lebih tertutup sebab malam ini mall cukup ramai karena esok adalah hari weekend, terlebih lagi saat ini Davis hanya seorang diri, tak ada sang asisten yang menjaganya seperti biasa.
Tak terasa tiga puluh menit berlalu, Davis yang masih berada ditempat yang sama, mulai terlihat letih. Seharian ia tak beristirahat hingga membuatnya kelelahan.
Menghela nafas berulang kali, Davis mulai jenuh saat dirinya melirik jam rolex dipergelangan tangannya. Waktu semakin larut, dan yang dinanti tak kunjung datang.
Selang beberapa saat, seseorang menghampiri mejanya. Pria muda dengan setelan santai, celana sweatpants jogger berwarna abu-abu dengan baju kaos hitam polos serta sendal jepit rumahan.
Davis terdiam sesaat, ia menatap pria muda didepannya dengan sangat intens, dari bawah hingga ke ujung rambut, setelahnya ia langsung tergelak.
" Yakk.. kau sadarkan saat kesini?" tanya Davis menghentikan gelak tawanya.
" Diamlah, ini semua karena kau. Kau tau ini sudah jam berapa?"
Pria gagah yang tak lain adalah Ishal, saat ini terlihat kesal. Wajah ditekuk dan matanya terlihat sayu.
Davis segera mengecek jam tangannya, dan saat itu juga ia memalingkan wajah tak ingin menatap asistennya. Ia merasa bersalah, bagaimana tidak, jam tanganya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, waktu dimana Ishal seharusnya sudah beristirahat.
" Maafkan aku.. itu karena aku tidak tau mau menghubungi siapa lagi." ucap Davis bersungguh-sungguh.
__ADS_1
" Sudahlah. Lagipula kenapa kau menelfon?" Ishal berkacak pinggang seraya menatap nanar pada Davis.
" Begini... "
" Tunggu, dimana istrimu? Bukankah kalian harusnya bersama?"
Ishal memotong ucapan majikannya saat dirinya baru tersadar bahwa sosok Nixeelin tak terlihat sejak ia datang.
Menatap nanar pada Davis, namun pria dihadapannya hanya diam saja dan tak bersuara. Melihat majikannya yang enggan tuk berbicara, Ishal tak bertanya lagi sebab diamnya Davis sudah cukup untuk menjawab pertanyaannya.
Masih berkacak pinggang seraya menatap intens pada Davis, Ishal lalu menghela nafas.
" Kali ini apa lagi yang kau katakan, kenapa istrimu tidak mau menonton bersamamu?" tanya Ishal kemudian.
Melihat tingkah majikannya, Ishal menggeleng kepala. Dirinya tau bahwa ada yang tidak beres antara Davis dan juga Nixeelin.
" Aku tidak yakin kalau kau anak Paman Dave. Kau tau sendirikan, ayahmu itu mampu memiliki dua wanita, kakakmu juga sudah berkencan lama dengan Miguel sampai punya bayi. Sementara kau, alih-alih mengatakan cinta, mengajak istrimu nonton bersama saja tidak bisa." gerutu Ishal mengeluarkan unek-uneknya.
" Itu karena Nixeelin tidak suka nonton. Lagipula saat di villa kau mengatakan kalau aku tidak boleh melakukan hal yang tidak disukai istriku."
Davis berusaha membela dirinya, meski begitu ia tak berani menatap asistennya.
" Yakk, sudahlah. Ayo kita pulang, kau pasti ingin tidurkan?" Davis beranjak, ia menutup obrolannya dengan asistennya. Sementara Ishal terdiam sejenak.
__ADS_1
" Aku jadi meragukanmu." tukas Ishal mendelik pada Davis. Sorot matanya berbeda dan sulit tuk diartikan. Tatapan intens itu lalu beralih kebawah dan berhenti tepat di area sensitif Davis
" Yakk, apa maksudmu? Aku ini jantan dan tidak menyukai sesama jenis." celetuk Davis kesal saat menyadari tatapan aneh sahabatnya.
" Oohh.." seru Ishal berohoria dengan santai
" Aku juga tidak mengatakan apapun." tambahnya dengan wajah datar, namun sejujurnya ia tengah menahan tawa saat melihat ekspresi wajah atasannya yang saat ini panik. Tanpa berucap apapun lagi Ishal segera berlalu meninggalkan atasannya seorang diri.
" Yakk, kau mau kemana? Tunggu aku." teriak Davis menyusul asistennya.
" Aku akan membayar waktumu malam ini." tutur Davis berusaha mensejajarkan langkah kakinya dengan Ishal yang berjalan cepat.
" Terserah kau." jawab Ishal seadanya dengan langkah kaki yang lebar.
" Baiklah, tapi antar aku ke Manning Bar." ujar Davis kemudian sukses menghentikan langkah kaki asistennya.
Ishal menoleh pada majikannya, menatap malas pada pria gagah disampingnya.
" Kau mau minum-minum? Ini sudah tengah malam." omel Ishal.
Saking kesal dirinya pada Davis, ia tak lagi memperdulikan tatapan orang-orang disekitarnya yang tampak antusias melihat sosok Davis secara nyata, bukan lagi didalam media.
" Aish, baiklah aku akan mengantarmu kesana." ucap Ishal kemudian, ia menarik tangan Davis dan segera berlalu sebelum orang-orang berkerumun.
__ADS_1