Dunia Asmara

Dunia Asmara
Pertemuan Davis dan Nixeelin.


__ADS_3

Tas branded itu mendarat mulus mengenai punggung kekar Miguel hingga membuat langkah kaki pria gagah itu terhenti. Tak sampai situ, dengan emosi yang mencuat Nixeelin meraih secangkir kopi hangat diatas meja dan menyiramkannya pada jas Miguel.


" Aish, membuatku kesal saja." gerutunya seraya mengambil tasnya yang terjatuh diatas lantai. Dia lalu pergi, namun hanya beberapa langkah ia kembali lagi.


Plakk.


Masih dengan emosi yang sama Nixeelin menghadiahi tamparan yang begitu tiba-tiba. "Yakk, itu belum seberapa. Tunggu saja apa yang akan aku lakukan, kau mengerti?"


Setelah menyelesaikan ucapannya, Nixeelin segera berlalu meninggalkan Miguel begitu saja. Sedangkan Andre yang sejak tadi mengamati dari jauh kini menggeleng dan menghela nafas.


" Tuan.. kenapa sejak dulu hidupmu menyedihkan sekali." gumamnya menghampiri majikannya.


⚘️


⚘️


⚘️


Tampak sebuah mobil mewah class mercedes berwarna cavansite blue metallic melaju begitu cepat, membela jalanan ibukota yang tidak macet.



Sicantik Nixeelin, siempunya mobil masih tampak kesal dibelakang kemudi. Sesekali ia menghela nafas kasar saat kembali teringat penuturan Miguel beberapa saat lalu.


" Sial." umpatnya menggeram seraya mencengkeram kuat kemudinya. Ia lalu menginjak pedal gas, menambah laju kendaraannya.


***


Disatu sisi sepanjang perjalanan, terlihat Davis yang terus melamun. Ia masih memikirkan ucapan ayahnya tadi saat ia menyempatkan diri tuk mengunjungi sang ayah dikediaman pribadi.


" Kau harus mendapat saham besar seperti kakakmu. Ayah akan memberikannya, tapi kau harus menikah dulu. Kapan kau menikah dan punya bayi seperti kakakmu."


Penuturan sang ayah masih terngiang dibenak Davis. Ia mengusap kasar wajah tampannya lalu menghela nafas.


Ishal yang sesekali melirik pada spion mengamati atasannya tampak penasaran juga sebab tadi ia tak dibolehkan Davis untuk masuk kedalam ruangan Tuan Dave.


" apa ada yang mengganggu di pikiranmu?" tanya Ishal, memberanikan diri mengajukan tanya ditengah ketenangan.


" Tidak. Fokus saja pada jalanan." ucap Davis yang untuk pertama kali memilih tak membagi cerita pada asisten setianya.


Ishal yang mendengarkan penuturan majikannya memilih kembali fokus pada kemudi hingga tak lama mobil yang dikendarainya berhenti tepat dibawah lampu merah.


Masih dengan pikirannya yang kalut, Davis memandang keluar jendela. Ia ingin merilekskan pikirannya. Namun tak disangka, dari kejauhan kedua mata cokelatnya menangkap sosok tak asing yang terlihat tengah berdebat dengan seseorang. Terlihat juga dua mobil yang lecet.

__ADS_1


" Nixeelin.." ucapnya dengan suara tertahan, menyerukan nama wanita yang dicintainya.


" Shal, tepikan mobilnya." pintanya kemudian.


Ishal yang tak tau menahu apa yang dilihat atasannya, dengan cepat menepikan mobil sebelum lampu merah berakhir. Sedangkan Davis, pria tampan itu buru-buru keluar dari mobil dan menghampiri Nixeelin dengan langkah kaki yang gontai.


" Ada apa ini?" tanpa aba-aba, Davis langsung menengahi perdebatan Nixeelin dengan seorang wanita paruh baya.


" Oh, kau suaminya?" celetuk wanita paruh baya itu, sontak Nixeelin menoleh kebelakang dan terkejut saat melihat siapa sosok pria gagah yang dengan lancang mencampuri urusannya.


" Itu.. "


Disaat Davis hendak memperkenalkan siapa dirinya, wanita paruh baya itu langsung menyela.


" Yakk.. istrimu ini perlu diajari cara bersikap dengan baik. Dia sudah menyerempet mobilku, dan tidak ingin minta maaf." cerocos wanita tua itu.


" Aku minta maaf atas kelakuan istriku. Aku akan mengganti kerugian anda. Silahkan hubungi nomor dikartu nama ini." tutur Davis dengan lembut, menyodorkan kartu nama miliknya.


Sementara Nixeelin, wanita cantik itu termangu mendengarkan ucapan Davis. Ia tak menduga bahwa pria disampingnya mengakuinya sebagai istri, terlebih lagi meminta maaf atas dirinya.


" Aish, berandal ini. Kau tidak mengerti, ya? Aku tidak menginginkan uangmu, aku hanya ingin dia meminta maaf karena kesalahannya."


Dengan kasar wanita tua itu menepis tangan Davis, ia tak terima pada perlakuan kedua pasangan muda didepannya.


Mendengar pernyataan wanita paruh baya didepannya, Davis menghela nafas. Ia lalu menoleh pada Nixeelin, berharap wanita disampingnya mengalah. Namun Nixeelin justru memalingkan wajah, menunjukkan sikap angkuhnya yang seperti biasa.


" Auh, anak jaman sekarang. Andai sejak tadi kau meminta maaf, mungkin masalah cepat selesai. Yakk, kau.. ajari istrimu dengan benar." omel sang wanita tua dengan wajah masamnya. Setelahnya ia segera berlalu, masuk kedalam mobilnya tanpa meminta ganti rugi.


Begitu juga dengan Nixeelin yang hendak berlalu, tapi dengan cepat Davis menahannya.


" Izinkan aku mengantarmu, kau sangat pucat. Kurasa kau kurang sehat." ucap Davis dengan wajah yang sedikit memelas.


" Kenapa hari kau sangat mencampuri urusan hidupku? Aku sakit atau tidak, itu adalah masalahku. Sebaiknya kau urus saja dirimu."


Entah apa yang Nixeelin pikirkan, untuk pertama kali ia memaki Davis dengan sangat kasar. Wajahnya kian memucat, bibir mungilnya pun tak lagi berwarna.


" Sekali ini saja, anggaplah bahwa aku adalah orang dekatmu yang ingin membantumu." bujuk Davis karena sejujurnya ia benar-benar cemas melihat kondisi Nixeelin.


Menghela nafas dengan malas, Nixeelin akhirnya melunak. Ia berjalan lebih dulu, memasuki mobilnya dan duduk disamping kemudi. Davis menyusul dengan sebelumnya memberi isyarat pada Ishal agar pergi tanpanya.


****


Diperjalanan Nixeelin terus saja terdiam. Wanita dengan setelan dress diatas lutut itu, tampak larut dengan pikirannya sendiri. Davis yang fokus mengemudi hanya melirik sekilas pada Nixeelin yang duduk tenang disampingnya.

__ADS_1


" Kenapa kau ikut campur dalam masalahku." tanya Nixeelin setelah diam beberapa saat.


" Anggap saja aku peduli denganmu." jawab Davis seadanya dengan senyum tertahan.


" Cih... jangan perduli padaku. Kita hanya orang asing." tutur Nixeelin mengulum senyumnya.


" Yah, sepertinya kau mulai bicara nonformal padaku." seru Davis tersadar akan nada bicara Nixeelin yang mulai biasa, tak kaku lagi seperti diawal pertemuan mereka.


" Benarkah, apa kau tidak suka?"


Nixeelin larut dalam perbincangan ringan bersama Davis, untuk sejenak ia melupakan masalahnya.


" Tidak, aku suka. Tetaplah bicara nonformal agar kita bisa lebih akrab." ujar Davis menoleh sekilas pada Nixeelin dan tersenyum.


" Baiklah." sahut Nixeelin setuju.


" Ah, kulihat mobilmu lecet parah. Apa kau ingin memperbaikinya?" tanya Davis kemudian.


" Tidak, aku akan menggantinya. Aku tidak pernah memperbaiki sesuatu yang rusak tapi aku juga tidak akan membuangnya. Lagipula akhir-akhir ini aku menyukai mobil putih, jadi aku akan membeli mobil warna putih saja." jelas Nixeelin.


" Heh?" Davis terkesiap mendengar pernyataan Nixeelin.


" Ah, kalau begitu jika ada sesuatu kau bisa minta tolong padaku. Aku pasti akan membantumu." tutur Davis kemudian.


⚘️


⚘️


⚘️


Mansion Oliveira.



Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, Nixeelin kini sudah tiba dirumahnya. Rumah megah dengan warna cat cream perpaduan putih itu tampak sunyi, namun bukan hal baru lagi bagi Nixeelin sebab rumah yang didirikannya beberapa tahun lalu itu memang selalu disapa kesunyian.


" Membosankan sekali." lirihnya saat menginjakkan kaki diruang tamu, mengedarkan pandangan dan tak mendapati siapapun didalam kediamannya.


" Ah, bukankah Lauren hari ini tidak syuting? Lalu dimana dia?" ucapnya bermonolog pada diri sendiri. Nixeelin lalu melangkah, menuju kamar sahabatnya.


Tiba didepan kamar Lauren, Nixeelin mengernyit heran saat mendapati pintu didepannya tak tertutup dengan rapat. Perlahan dirinya lalu mendekat dan langsung membuka pintu.


Kosong, kamar sahabatnya tampak kosong tak berpenghuni. "Ke mana dia, apa dia keluar?"

__ADS_1


Huek.. huek.. huek..


Hendak berlalu dari kamar Lauren, langkah kaki Nixeelin tertahan saat samar-samar indra pendengarannya menangkap suara Lauren. Menoleh melihat bathroom, Nixeelin tampak penasaran. Perlahan ia melangkah mendekat pada bathroom dan suara yang didengarnya pun semakin terdengar jelas.


__ADS_2