
" Tuan Michel.. " lirih Dita dengan tiba-tiba.
Nauora terbeliak, ia tampak sangat terkejut mendengar nama yang barusan Dita lontarkan.
" Tuan Michel menyuruhku, Nyonya." tambah Dita kemudian.
" Kumohon, Nyonya.. jangan sakiti keluargaku. Aku salah.. aku tidak mempertimbangkan semuanya sebelum menerima tawaran dari Tuan Michel."
Dita mengurai posisinya, ia berlutut dihadapan Nauora dengan kedua bahu yang bergetar, imbas dari tangisannya yang penuh penyesalan.
Mendengarkan penuturan gadis muda itu, Nauora segera beranjak. Dirinya yang hendak berlalu, kembali menoleh dan memandang Dita dibawah sana yang masih berlutut dengan posisi yang sama.
" Berhenti dari posisimu, kemasi barang-barangmu, dan tinggalkan perusahaan sekarang juga." pesan Nauora sebelum berlalu pergi bersama Ciko.
****
Meninggalkan tempat itu, Nauora berjalan gontai menuju lift. Saat ini tujuannya hanya ingin menemui saudara tirinya, meminta penjelasan atas apa yang didengarnya dari Dita.
" Nyonya.."
Namun seketika Ciko mencekal tangannya, menghentikan langkah kakinya.
" Aku akan mencari tau dimana Tuan Michel saat ini, sebaiknya Nyonya temui Tuan Miguel. Aku akan mengabari Nyonya secepat mungkin." saran Ciko pada atasannya.
Sesaat Nauora terdiam, ia tampak berfikir sejenak. "Baiklah."
Nauora meninggalkan asistennya, ia memutar arah dan berjalan menuju ruangan sang suami. Sedangkan Ciko, pria gagah itu tak membuang waktu lama dan segera masuk kedalam lift.
****
Didalam ruangan Miguel, Nauora menghempas dirinya pada sofa. Miguel yang duduk dikursi kebesarannya, tampak sibuk memeriksa berkas dihadapannya. Namun sesekali kedua matanya melirik sekilas pada sang istri.
" Pulanglah, aku sudah meminta Andre untuk mencegah media datang." pinta Miguel tanpa mengalihkan pandangannya pada sang istri.
__ADS_1
" Benarkah? Bagaimana kau melakukannya? Jangan sampai mereka berfikir aneh."
Nauora meluncurkan serentetan kata. Sangat jelas bahwa dirinya khawatir bila media berfikir salah tentang keluarganya, mengingat bahwa selama ini ia berusaha keras agar rumah tangganya terlihat harmonis dimata publik.
" Jangan berfikir berlebihan, dan sebaiknya kau pulang saja." tutur Miguel seadanya.
" Baiklah." Nauora lekas beranjak dari duduknya. Ia yang hendak berlalu, tiba-tiba menerima panggilan dari ponselnya. Buru-buru ia menjawabnya.
" Ciko, bagaimana? Apa kau sudah menemukan dimana Michel?"
Disaat panggilan sudah terhubung, Nauora dengan rasa tak sabaran, menyambar begitu saja. Miguel yang mendengar nama saudara tiri istrinya disebut, seketika menoleh. Rasa keingintahuannya muncul bersamaan itu ia juga merasakan firasat tak baik.
" Tuan Michel ada diapartemennya." jawab Ciko diseberang sana.
Mendengar ucapan asistennya, Nauora segera memutus panggilannya dan meninggalkan ruangan Miguel begitu saja.
" Kali ini apa lagi yang ingin kau lakukan, Nara." gumam Miguel, meraih ponselnya dan menghubungi asistennya.
⚘️
⚘️
Apartemen RansFox
Hari kini sudah memasuki sore, disebuah bangunan yang menjulang tinggi, sebuah apartemen mewah bagi orang-orang kaya. Salah satu unit yang berada diapartemen itu dihuni oleh Michel Doque— pengusaha muda dinegaranya.
Saat ini terlihat Miguel yang tengah berlari kecil memasuki gedung bertingkat itu. Langkah kakinya gontai, ia jelas terlihat sangat cemas. Segera memasuki lift yang akan mengantarkannya pada lantai tujuan, Miguel tampak sangat tak sabar. Berulang kali dirinya melirik pada jam di pergelangan tangannya hingga membuatnya semakin panik.
Hingga kini tak terasa Miguel sudah tiba dilantai tujuannya. Buru-buru ia keluar dari lift, berjalan menuju unit tempat dimana Michel tinggal.
Namun seketika langkah Miguel tertahan ditempat saat dari jarak beberapa senti ia melihat pintu apartemen Michel sedikit terbuka. Berbagai pikiran salah pun bermunculan, dan tak membuang waktu lama ia segera mendekat pada pintu itu.
Ceklek.
__ADS_1
Membuka pintu dengan perasaan was-was, Miguel lalu berjalan selangkah untuk tiba didalam sana. Tiba didalam sana, rasa ketir dihati semakin bergejolak. Langkah kaki Miguel terasa berat, namun pria matang itu berusaha memberanikan diri tuk melangkah lebih dalam.
Namun saat itu juga Miguel tercengang. Dirinya sangat terkejut melihat apa yang terjadi diruang tengah. Bibir terasa berkedut, ingin bersuara namun terasa dicekat.
Miguel goyah dari tempat berdirinya, tubuhnya melemah bersandar pada dinding. Pria gagah yang selalu berdiri tegap dengan bahu kekarnya, kini tampak tak berdaya menyaksikan apa yang sudah terjadi.
Dirinya benar-benar tak sanggup untuk berbicara walau hanya satu dua kata. Bagaimana tidak, siempunya hunian kini sudah tak bernyawa lagi. Menghembuskan nafas terakhir dengan sangat mengenaskan. Hampir setengah tubuh pria gagah itu yang terbaring diatas lantai marmer, berlumur darah segar.
Tak lama pandangan Miguel beralih pada wanita yang berdiri tak jauh darinya. Tatapan nanar itu tertuju pada wanita itu yang tak lain adalah Nauora— istrinya sendiri.
Sementara Nauora, wanita itu hanya diam membeku ditempatnya. Ia tak berniat tuk berbicara, sekedar menjelaskan pada suaminya apa yang sudah dilakukannya.
" Miguel.. "
Lama mengunci bibir mungilnya, Nauora menyerukan nama suaminya dengan sangat pelan hingga nyaris tak terdengar.
Lama berdiam diri ditempatnya, Miguel pun tersadar. Ia berusaha menguatkan dirinya yang lemah, dan mendekati istrinya. Diraihkan kedua tangan Nauora, Miguel mengamati setiap jemari lentik istrinya yang berlumur darah. Tangan mungil istrinya yang setiap kuku diberi kutek maroon, terlihat sangat menjijikkan.
" Kau melalukannya lagi." ucapnya yang masih sangat syok.
Suara Miguel bergetar, ia benar-benar tak mengira bahwa istrinya kembali berada dalam masalah yang sama seperti beberapa tahun lalu.
Nauora mendengar ucapan suaminya, namun ia memilih diam dan memalingkan wajahnya.
" Ikut aku." tambah Miguel membawa Nauora menuju wastafel. Ia lalu menyalakan kran air, dan membasuh kedua tangan istrinya yang berlumuran darah segar.
Ditengah pergerakan Miguel, air matanya tiba-tiba luruh begitu saja. Bulir bening itu jatuh dan berlabuh dipergelangan tangan istrinya. Menangis tanpa suara, Miguel berusaha keras membersihkan tangan istrinya hingga tak tersisa sedikitpun darah segar itu.
Tak lama Miguel mematikan kran air setelah memastikan setiap jemari istrinya sudah bersih. Melepas jasnya, Miguel lalu mengeringkan kedua tangan istrinya menggunakan pakaian miliknya.
Nauora yang sejak tadi memilih diam, mengamati suaminya dengan sangat intens. Ia merasa bingung, dan tak tau harus mengatakan apa. Rasa iba muncul kala melihat suaminya meneteskan air mata begitu saja.
" Dengarkan aku.. anggaplah kau tidak melakukan apapun hari ini. Saat aku membawamu keluar dari sini, kau akan anggap bahwa dirimu tidak pernah ketempat ini." gelombang suara Miguel masih bergetar, sangat jelas bahwa dirinya tengah berada dalam ketakutan.
__ADS_1