Dunia Asmara

Dunia Asmara
Pernikahan Davis dan Nixeelin.


__ADS_3

Wedding Day.


Waktu berlalu dan tak terasa kini hari pernikahan sudah tiba. Menggelar acara pernikahan dihotel ternama, semua tamu undangan pun bukanlah orang biasa. Terlebih lagi undangan pernikahan diatas namakan oleh Tuan Dave Kwans.


Kini diballroom hotel sudah tampak ramai oleh para tamu undangan, juga Davis yang tengah menjamu para tamunya. Sementara Nixeelin sedang berada disalah satu kamar presidential suite. Saat ini ia tengah berdiri didepan cermin, memandangi pantulan dirinya yang baru saja selesai di rias.



Menatap intens dirinya didalam cermin, Nixeelin mengulum senyum saat mengamati kembali dirinya yang mengenakan gaun pernikahan. Bagaimana tidak, selama ini ia sangat sibuk bekerja hingga tak pernah sedikit pun memikirkan sebuah pernikahan.


" Nyonya, anda terlihat sangat cantik dengan gaun itu. Tuan Davis pasti memilihnya dengan hati-hati." puji seorang wanita perias.


" Iya Nyonya. Anda sangat cantik." sahut salah satunya.


" Anda dan Tuan Davis terlihat seperti manekin dihari pernikahan."


" Iya, itu benar! Jika kalian punya anak nanti, pasti akan tampan dan cantik."


Nixeelin tersenyum mendengarkan pujian dari wanita-wanita muda yang menjadi periasnya karena setiap pujian itu membuatnya terhibur ditengah keresahan hati.


" Terima kasih." ucap Nixeelin.



****

__ADS_1


Hari kini sudah malam, dan acara pernikahan yang digelar sejak pagi tadi baru saja selesai. Tersisa beberapa menit hingga memasuki pertengahan malam, penghuni kediaman megah Kwans baru tiba dirumah. Sementara Tuan Dave seperti biasa akan pulang dirumahnya sendiri.


Tampak Nauora dan Miguel yang lelah, segera masuk kedalam kamarnya, begitu juga dengan Davis dan Nixeelin.


Didalam kamar Davis, pria muda yang baru saja melepas masa lajangnya beberapa saat lalu, terlihat biasa saja. Sikapnya yang santai pada sang istri, membuatnya mendapatkan tatapan aneh dari istrinya.


" Kenapa dia sangat santai?" gumam Nixeelin dalam hati mengamati pergerakan suaminya.


" Apa yang kau lihat?" tanya Davis baru sadar bahwa Nixeelin sejak tadi hanya berdiri kaku disamping ranjang.


" Aku.. " ucapan Nixeelin menggantung, ia terlihat gugup saat Davis melemparkan tatapan intens padanya.


Pandangan suaminya bahkan tak putus. Sembari melepas jas dan juga dasi, tatapan Davis terus tertuju pada dirinya.


" Jangan berdiri saja, lepas gaun mu dan bersihkan dirimu dikamar kecil." seru Davis saat melihat istrinya yang diam saja.


" Ada apa?" tanya Davis bingung hingga sepersekian detik kemudian ia tersadar saat mengamati dengan jelas ekspresi wajah istrinya.


" Ah, jangan salah paham. Aku memintamu melakukan itu karena ini sudah malam. Tidak mungkin kau akan tidur dengan gaun itu." jelas Davis.


" Hu'um.."


Nixeelin mengangguk kecil dan segera melangkah dengan perasaan canggung.


" Tunggu." seru Davis menghentikan langkah kaki Nixeelin dengan meraih tiba-tiba pergelangan tangan istrinya

__ADS_1


Nixeelin menoleh, dirinya tak berucap apapun namun tatapannya cukup untuk mengajukan tanya. Sedangkan Davis perlahan mendekat, berdiri tepat dibelakang sang istri. Bibir tipisnya terkunci, tangannya perlahan terangkat, memegang kedua bahu polos Nixeelin.


" Ke.. kenapa.."


" Berbaliklah dan jangan bergerak. Aku hanya membantumu membuka gaun mu karena kau pasti tidak bisa sendiri." terang Davis memotong ucapan Nixeelin.


Nixeelin tak berkutik lagi, ia memilih diam sedangkan Davis segera menurunkan resliting gaunnya.


Hening menyapa, kedua pasangan pengantin baru itu tak bersuara sedikitpun. Nixeelin hanya diam menunggu, berbeda dengan Davis, pria gagah itu menelan salivanya saat selesai menurunkan resliting gaun istrinya. Bagaimana tidak, ia dapat melihat jelas punggung polos Nixeelin yang putih bersih.


" Sudah selesai?" tanya Nixeelin saat merasa suaminya tak bergerak.


" Ah, su.. sudah selesai." seru Davis terbata-bata.


" Terima kasih." ucap Nixeelin hendak berlalu, namun dirinya terkejut saat suaminya kembali mencekal pergelangan tangannya. Tak sampai situ, ia dibuat terbeliak saat tiba-tiba Davis mendekatkan wajah hingga hanya berjarak sesenti.


" Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Nixeelin gugup dengan jantung yang berpacu cepat.


Davis mengabaikan ucapan Nixeelin, ia justru semakin mendekat. Entah ada apa dengannya, namun melihat bibir tipis menggoda istrinya, pikirannya semakin kalang kabut. Bahkan kini bibirnya sudah hampir bersentuhan dengan sang istri.



" Apa yang kulakukan? Dia sedang hamil muda." Davis bergumam dalam hati. Ia tiba-tiba tersadar dan segera menjauhkan wajahnya.


" Maafkan aku.. " ucap Davis memalingkan wajah tak ingin menatap wajah cantik istri.

__ADS_1


Nixeelin diam saja, dan tanpa berucap sepatah katapun, ia segera berlalu memasuki bathroom.


__ADS_2