Dunia Asmara

Dunia Asmara
Davis pengacau.


__ADS_3

" Humm.. kurasa aku ingin ke toilet dulu. Sebaiknya kalian kembali ke kamar, aku akan membereskan semuanya nanti." seru Nixeelin berasalan sebab dirinya tak mampu lagi tuk menatap wajah-wajah semua orang saat ini.


Sepeninggalan Nixeelin, semua orang langsung menghela nafas kasar lalu melempar tatapan tajam pada Davis.


" Yakk, kau benar-benar mengacaukan keadaan. Sama sekali tidak menghargai kami. Kau tau kami semua berpura-pura bodoh dari tadi hanya untuk dia agar tidak kecewa. Kau pikir kami menikmati masakan Xeelin? Tentu saja tidak, rasanya sangan hancur seperti rencana liburan kita." omel Lauren pada suami sahabatnya.


" Benar, kau membuat keadaan jadi kacau." sahut Viet dengan helaan nafas yang terdengar jelas.


" Istrimu memasak dari sore, aku melihatnya sendiri. Dia pasti sangat malu sekarang." timpal Nauora menggeleng menatap adiknya.


" Iya, Tuan. Aku juga melihatnya masak dari tadi. tangan Nyonya Nixeelin bahkan terkena minyak gara-gara memasak untuk kami." Kinaya juga ikut bersuara.


Davis yang mendengar semua keluhan orang dihadapannya menjadi tak enak hati. Tak lama Nauora dan Miguel beranjak dari duduknya lalu meninggalkan ruang makan, disusul oleh yang lain. Sedangkan Ishal dan Davis tak bergeming ditempatnya.


" Ckckck.. " terdengar Ishal yang berdecak kesal seraya menggelengkan kepalanya. Pria muda itu tampak tertunduk dan tak lama mengangkat pandangannya.


" Kurasa kau harus belajar cara menyenangkan hati seorang wanita." tambahnya melempar tatapan pada Davis.

__ADS_1


" Baru melangkah kau sudah gagal. Aku jadi ragu dilangkah selanjutmu. Jangan-jangan kau justru membuat rumah tanggamu berakhir." tutur Ishal yang mulai mendramatis.


" Yakk.. jangan bicara seperti itu. Wajar jika aku melakukan kesalahan, lagipula aku memang tidak pernah berpacaran." tukas Davis kesal.


" Terserah kau saja."


Masih dengan wajah tak bersahabat, Ishal segera beranjak dari duduknya.


" Setelah kembali ke kota, aku akan mengajarmu cara berkencan dengan baik. Jadi selagi disini, jangan buat kesalahan. Kau mengerti?" tambah Ishal mendelik tajam pada majikannya.


" Iya, aku mengerti." jawab Davis dengan suara yang kecil. Sementara Ishal segera meninggalkannya begitu saja.


Namun detik ke menit, Nixeelin justru tak kembali lagi ke ruang makan membuat Davis merasa bingung hingga mau tak mau ia bergegas keluar dari ruang makan, ingin mencari keberadaan sang istri.


Berdiri ditengah-tengah ruang, Davis melihat Nixeelin dari jendela kaca. Nampak istrinya diluar villa tengah duduk bersandar pada sunbed seorang diri. Tak membuang waktu lama ia segera keluar villa menghampiri istrinya.


***

__ADS_1


" Kau marah denganku?"


Kini berada didekat sang istri, Davis mengajukan tanya seraya menatap intens wanitanya. Rasa bersalah menghantam saat dirinya melihat sang istri menitikkan air mata.


" Tidak, untuk apa aku marah." jawab Nixeelin segera menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya.


Sedangkan Davis, ia segera bergabung, ikut bersandar disalah satu sunbed kosong disamping Nixeelin.


" Maafkan aku.. aku tidak terlalu baik sebagai pasanganmu." tutur Davis dengan pandangan terarah keatas sana, memandangi atap yang melindunginya dari rintikan hujan saat ini.


Mendengar perkataan Davis, Nixeelin seketika menoleh menatap suaminya. Kedua matanya yang masih basah oleh air mata, terarah pada sang suami.



" Kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Nixeelin sendu.


" Tidak, hanya saja semuanya pura-pura bodoh agar kau senang. Tapi aku malah mengacaukan semuanya." terang Davis merasa bersalah.

__ADS_1


" Tidak, menurutku kau sudah baik. Kau mengoreksiku agar aku tidak melakukan kesalahan kedua suatu hari nanti." seru Nixeelin tersenyum kecil.


" Benarkah?" Davis menoleh sementara Nixeelin masih mengukir senyumnya.


__ADS_2