Dunia Asmara

Dunia Asmara
Pertemuan Miguel dan Nixeelin


__ADS_3

Waktu berlalu dan tak terasa pagi sudah menyapa dengan kemilauan sinar matahari pagi. Masih dikediaman Kwans, saat ini anggota kelurga Kwans tengah menikmati sarapan pagi. Seperti biasa, hanya ada Miguel dan Nauora juga Davis.



Suasana diruang makan begitu tenang, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu. Nauora yang sejak tadi mencuri pandang dari suaminya, sangat penasaran perihal kejadian semalam.


Sampai pada Miguel sudah menyelesaikan sarapannya, dan dia beranjak dari duduknya, pandangan Nauora masih tak lepas darinya hingga tak lama Miguel tak terlihat lagi seiring dengan langkah kakinya yang begitu cepat.


" Kakak kenapa?" tanya Davis yang sejak tadi mengamati sang kakak dalam diam.


" Ah, aku hanya melihat suamiku." jawab Nauora cepat.


" Oh.." Davis berohoria dan lalu segera beranjak saat ia juga sudah selesai dengan kegiatan makannya.


" Aku pergi dulu." pamitnya kemudian dan berlalu meninggalkan sang kakak seorang diri.


" Auh.. dia kenapa? Apa yang salah semalam sampai berhenti ditengah jalan." benak Nauora yang semakin penasaran.


⚘️


⚘️


⚘️


Sebuah mobil mewah— Ferrari Suv berwarna titanium silver dengan logo kuda jingkrak berwarna putih, tampak membelah jalanan ibukota yang masih belum dipadati dengan kendaraan lain. Miguel, sieumpunya mobil mewah itu, terlihat duduk dibelakang kursi kemudi dengan Andre yang mengambil alih kemudinya.



Meski terlihat duduk tenang seraya menikmati perjalanan paginya menuju kantor, namun helaan nafas berulang kali itu terdengar sangat jelas. Bahkan Andre yang mendengarnya mulai terusik dan sesekali melirik pada spion sekedar melihat tingkah majikannya dibelakang.


" Tuan, kenapa?" tanya Andre dengan datar.


" Yakk.. sudah kubilang bicara santai saja saat kita berdua. Kau membuatku seperti orang tua." celetuk Miguel spontan.


" Baiklah." balas Andre.


" Kau kenapa?" Andre kembali mengajukan tanya yang sama.


" Aku juga tidak tau." jawab Miguel lesu.


" Tentang Nyonya Nauora atau Nona Nixeelin?" tanya Andre lagi. Asisten cakap itu menyebutkan dua sekaligus nama wanita yang terlibat dengan atasannya saat ini.


" Dua-dua nya." jawab Miguel sendu.


Mendengar jawaban majikannya, Andre sontak ingin tergelak namun ia berusaha menahan diri karena situasi sedang tak baik.


" Kau masih cinta dengan Nona Nixeelin?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


Miguel mengangguk, dan Andre melihat itu lewat spion.


" Tapi jatuh cinta dengan Nyonya Nauora juga?" tanya Andre lagi.


Miguel kembali mengangguk, tapi sedetik kemudian ia tersadar dan langsung menggeleng.


" Aku tidak jatuh cinta dengan wanita gila itu." sergah Miguel cepat.


" Dari tadi kau suntuk. Apa semalam kau dan Nyonya Nauora.."


" Yakk.. fokus saja dengan setirmu." potong Miguel dengan cepat. Ia merasa kesal pada asistennya karena membuatnya kembali teringat pada kejadian semalam. Menghela nafas, Miguel lalu memilih menyenderkan kepalanya dan mengendurkan ikatan dasi yang terasa mencekat dilehernya.


Drt. Drt. Drt.


Ditengah perjalanan, tiba-tiba ponsel Miguel berdering. Awalnya ia memilih mengabaikan karena situasi hatinya sedang tak baik, tapi semakin didiamkan, ponselnya justru terus berdering hingga mau tak mau ia segera menjawabnya.


" Yaa, dengan siapa?" tanyanya saat panggilan sudah terhubung.


" Ini aku.."


Suara familiar itu membuat Miguel mengernyit. Ia mencoba mengingat karena siempunya suara seperti pernah bertemu dengannya.


" Nixeelin."


Dheg.


Ehem..


Miguel berdehem kemudian tuk menetralkan perasaannya.


" Ada apa?"


" Aku ingin bicara, ayo bertemu disuatu tempat. Aku akan mengirim lokasinya."


Tut. Tut. Tut.


Sambungan telfon itu terputus saat Nixeelin diseberang sana menyelesaikan maksud tujuannya menghubungi Miguel.


" Kau kenapa lagi?" Andre yang sejak tadi penasaran, langsung mengajukan tanya saat melihat majikannya berselancar dilayar gawai pipih itu.


" Kita ke tempat ini. Cepat!" titah Miguel yang kemudian menyodorkan ponselnya pada sang asisten. Andre meraih ponsel itu dan mengernyit saat melihat peta dari aplikasi maps.


" Untuk apa kita ke tempat itu?" tanyanya semakin penasaran seraya tetap fokus pada kemudinya.


" Aish, jangan banyak bertanya." omel Miguel dengan ketus.


⚘️

__ADS_1


⚘️


⚘️


BlackWith Cafe.


Wanita cantik dengan rambut yang panjang berwarna cokelat kemerahan, terlihat menunggu seseorang disalah satu meja yang ada dicafe itu. Dia adalah Nixeelin yang sudah berada dicafe sejak beberapa menit lalu.


Sembari menunggu, ia juga menikmati secangkir americano cafe. Menyesapnya sedikit lalu, menikmati aromanya. Mungkin karena bawaan calon sang bayi, Nixeelin terus melakukan hal yang sebelumnya ia tak lakukan.


Selang beberapa menit, yang ditunggu akhirnya datang. Miguel mengedarkan pandangannya, menatap sekelilingnya yang tampak sunyi.


" Duduklah, kau tidak perlu khawatir. Tidak ada orang lain selain kita. Aku sudah memesan tempat ini untuk setengah jam." jelas Nixeelin dengan wajah datarnya.


Miguel tak bergeming, ia memilih berdiam diri ditempatnya karena sejujurnya meski saat ini mereka hanya berdua, namun ia tetap khawatir. "Tidak perlu, langsung to the point saja."


Mendengar itu, Nixeelin tersenyum tipis. Ia lalu menyesap kembali kopinya yang masih hangat sebelum mengatakan maksud tujuannya ingin bertemu pria tampan didepannya.


" Aku hamil." ucap Nixeelin tanpa basa-basi seraya menatap lekat manik mata cokelat Miguel.


Dheg.


Pernyataan Nixeelin sukses membuat Miguel terkejut dengan jantung yang langsung berdegup kencang. Pria itu terperanjak, sedetik lalu ingin menolak kenyataan, namun wajah datar yang ditampilkan Nixeelin cukup untuk membuatnya percaya.


Bibir tipisnya yang terkatup rapat, seolah ingin bergerak mengatakan sesuatu. Tapi seketika janji yang pernah ia ucap dihadapan sang istri kembali terngiang dibenaknya.


" Apa ini? Apakah ini hukuman untukku? Disaat keadaan buruk seperti ini aku malah diizinkan menjadi ayah." gumam Miguel didalam hati dengan mata yang berkaca-kaca.


Sepersekian detik kemudian, Miguel tersenyum getir. Pria muda itu begitu lihai mengendalikan situasi hatinya dengan menunjukkan sikap santainya. Sementara Nixeelin, ia mengernyit, merasa bingung pada reaksi Miguel.


" Itu bagus. Kau bisa melahirkannya lalu, membesarkannya." tutur Miguel dengan senyum tertahan.


" Benarkah?" Nixeelin beranjak dari duduknya. Ia tak menduga jawaban Miguel akan seperti itu. Raut wajah datarnya pun berubah bahagia dengan senyum yang mengembang. "Benarkah, kau akan menikahiku juga?"


" Apa maksudmu?" tanya Miguel balik membuat Nixeelin kembali bingung dengan alis yang tertaut.


" Kurasa kau salah paham. Aku hanya mengatakan agar kau melahirkannya saja. Kurasa kau juga belum tau, tapi maaf aku punya istri dan juga anak. Mereka membutuhkanku, jadi carilah seseorang yang bisa menjadi ayah untuk bayi itu." jelas Miguel menolak dengan tegas untuk bertanggung jawab atas kesalahannya.


" Brengsek." umpat Nixeelin menggeram seketika seraya menahan amarah atas penolakan Miguel.


Sementara Miguel, pria tampan itu mengabaikan apa yang didengarnya. Dan justru masih menunjukkan sikap santainya. Melirik jam dipergelangan tangannya, ia lalu beralih menatap Nixeelin dengan wajah datarnya.


"Sepertinya pembicaraan kita sampai disini, aku ada urusan yang lebih penting."


Miguel berlalu, Nixeelin yang ditinggal begitu saja semakin emosi hingga tanpa aba-aba ia melempar tasnya kearah Miguel.


Tas branded itu mendarat mulus, mengenai punggung kekar Miguel hingga membuat langkah kaki pria gagah itu terhenti.

__ADS_1


__ADS_2