
Ditempat berbeda, diruang baca saat ini terlihat Tuan Dave yang tengah berdiri didepan jendela kaca dengan kedua tangan yang berada disaku celana. Pria paruh baya itu tampak menunggu seseorang, dan tak lama yang ditunggu akhirnya datang.
" Tuan memanggilku?"
Suara maskulin dari pria muda yang baru masuk kedalam ruang baca, membuat Tuan Dave menoleh dengan cepat.
Pria muda yang tak hanya orang suruhan Tuan Dave itu, melainkan orang kepercayaannya juga, terlihat menundukkan kepala saat sudah berhadapan dengan majikannya.
Plak.
Alih-alih berbicara, Tuan Dave yang tanpa aba-aba langsung menghadiahi tamparan keras pada pria dihadapannya. Amarah yang sejak tadi ia tahan, kini terlampiaskan sudah.
" Bagaimana kau bisa seceroboh ini?" bentak Tuan Dave pada pemuda itu.
" Aku hanya melakukan pekerjaanku." tutur sang pemuda yang tak merasa bersalah.
Plak.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan ucapannya, pemuda itu kembali dihadiahi tamparan yang lebih keras hingga membuatnya terhuyung, namun dengan sigap ia mempertahankan posisinya, berdiri tegap didepan sang atasan.
" Kau benar-benar bodoh. Aku hanya memintamu mengawasinya, kenapa kau malah menyakitinya. Aku hanya menyuruhmu melakukan pekerjaanmu, tapi bukan berarti kau harus menyakiti anggota keluargaku." seru Tuan Dave dengan amarah yang membuncah.
Pria muda itu tak bersuara, dia hanya mampu terdiam seraya menahan perih dipipinya. Sedangkan Tuan Dave kini menghela nafas, berusaha mengontrol emosinya.
" Dengarkan aku, jika kau melakukan kesalahan lagi, aku akan langsung membuatmu membayarnya." ancam Tuan Dave, setelahnya ia segera pergi begitu saja.
****
Dikamar utama saat ini tampak Nauora yang baru selesai merias diri didepan cermin besar. Sementara Miguel, jangan ditanya lagi sebab pria tampan itu sudah pergi lebih dulu bersama asistennya— Andre. Kini tinggallah Nauora seorang diri saja.
" Kau cantik sekali, Nauora." pujinya pada diri sendiri.
Puas memandangi pantulan dirinya dalam cermin, ia segera bergegas meninggalkan kamar. Diluar kamar Nauora langsung berpapasan dengan Ciko yang juga sudah terlihat rapi dengan mengenakan kemeja hitam.
" Dimana Ayahku?" tanya Nauora pada asistennya.
__ADS_1
" Diluar Nyonya." jawab Ciko seadanya.
" Baiklah, ah.. kenapa kau memakai masker?"
Langkah kaki Nauora tertahan, ia yang baru tersadar akan tampilan asistennya kini menatap heran.
" Tiba-tiba aku flu, Nyonya. Jadi aku memakai masker." jelas Ciko.
" Tapi tidak perlu memakai... " ucapan Nauora menggantung kala dirinya berhasil melepas dengan cepat masker yang dipakai Ciko. Raut wajahnya pun seketika berubah drastis.
" Kenapa dengan wajahmu?" tanyanya kemudian, menatap intens wajah pria muda didepannya.
" Tadi aku terjatuh, Nyonya." jawab Ciko dengan cepat. Nauora yang mendengarnya mengangguk lalu tersenyum.
" Siapa yang melakukannya?" Nauora kembali mengajukan tanya dan kini raut wajahnya sangat serius. Ia tentu tak mempercayai ucapan Ciko barusan.
" Nyonya, sebaiknya kita berangkat sekarang." ujar Ciko melirik jam dipergelangan tangannya. Ia kini berusaha mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
" Apa Ayahku yang melakukannya?" tebak Nauora langsung. Ia tentu tau sebab hanya seorang Tuan Dave yang berani menyentuh miliknya.
Mendapati asistennya diam saja, membuat Nauora semakin yakin. Tak membuang waktu lagi, ia segera berlalu. Sementara Ciko kini menghela nafas dan buru-buru menyusul majikannya.