Dunia Asmara

Dunia Asmara
Rumah sakit.


__ADS_3

Rumah Sakit Internasional.


Siang hari dirumah sakit terbesar di Ibukota, tampak Davis bersama asistennya— Ishal yang sedang berada didepan ruang IGD dengan ditemani Miguel dan Andre. Mereka tengah menunggu kabar dari dokter cantik yang memeriksa Nixeelin didalam sana.


Davis tampak begitu cemas, begitu juga dengan Miguel. Jika Davis merasa cemas akan kondisi sang istri, Miguel justru merasa khawatir pada bayi yang berada didalam kandungan Nixeelin.


Tak berlangsung lama, seorang dokter cantik akhirnya keluar dari ruang IGD. Wajah tampak biasa saja, tak dalam mode serius.


" Bagaimana kondisi istriku?" tanya Davis cemas.


" Bagaimana dengan bayinya?" Miguel menyahut, ia juga mengajukan tanya membuat Davis sontak menoleh dan menatap kesal padanya.


" Nyonya Nixeelin hanya kelelahan, butuh istirahat dan juga mengonsumsi makanan bergizi. Ah, dari hasil pemeriksaan, sepertinya Nyonya Nixeelin juga kurang tidur." jelas dokter cantik itu.


" Syukurlah." ucap Miguel dan Davis secara bersamaan membuat Andre dan Ishal menggeleng.


" Saya akan meresepkan vitamin, tolong ikut keruangan saya." tambah sang dokter yang diangguki Davis dengan cepat.


" Ishal, kau jaga disini saja." Davis berpesan sebelum ia berlalu.


" Andre, kau ke kantor saja. Aku akan pulang ke mansion, ada urusan penting." tutur Miguel pada asistennya.

__ADS_1


" Baik, Tuan." jawab Andre cepat dan segera pergi.


****


Berjalan disepanjang koridor rumah sakit, entah mengapa Miguel seketika teringat pada istrinya. Pengakuan Nauora beberapa saat lalu masih mengusiknya hingga terlintas dihati rasa ingin berjumpa dengan sang istri.


Merogoh saku celana, Miguel meraih ponselnya ingin menghubungi sang istri. Namun saat gawai pipih itu menempel ditelinga, terdengar laporan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif.


Dahi mengerut, Miguel merasa heran sebab selama dirinya mengenal Nauora belum pernah wanitanya itu mematikan ponsel.


" Kenapa ponselnya dimatikan, apa dia marah padaku?"


Miguel menoleh, dia melihat pasien itu yang rupanya seorang pria tua dengan kaki yang tampak berlumuran darah. Pria matang itu bergidik ngeri sebab setiap kali melihat darah maka ia akan merasa takut.


Tak lama setelah berlalunya pasien itu, Miguel kembali berselancar pada layar ponselnya, kali ini ia ingin menghubungi kepala pelayan di mansion. Sepersekian detik kemudian, tak lama yang dihubungi akhirnya menjawab.


" Bu Jung, dimana istriku? Kenapa dia mematikan ponselnya?" tanya Miguel tak sabar.


" Tadi Nyonya keluar, Tuan. Katanya mau mengantarkan jaket untuk, Tuan." jawab Bu Jung diseberang sana.


Dheg.

__ADS_1


Miguel yang mendengar penuturan kepala pelayan mansion Kwans, terdiam sejenak, mengabaikan panggilan diponsel yang sedang berlangsung. Pria gagah itu seketika mematung ditempat saat dari kejauhan dia samar-samar melihat dokter dan perawat mendorong brankar dengan seorang pasien wanita terbaring diatas brankar itu.


Semakin dekat, jantung Miguel juga semakin berdegup kencang. Bagaimana tidak, pasien yang dilihatnya saat ini adalah istrinya sendiri. Sontak pelupuk mata Miguel memanas, lapisan bening tercipta dimanik mata. Bulir kristal lolos membasahi kedua pipi saat melihat dengan jelas kondisi sang istri.


" Nauora.. " lirihnya menitikkan air mata saat brankar yang membawa istrinya lewat didepannya.


Tubuh menegang, Miguel membeku sesaat. Keterkejutannya membuatnya tidak sadar hingga menjatuhkan ponselnya diatas lantai.


Sedetik kesadarannya pulih, buru-buru Miguel berlari, mensejajarkan diri dengan brankar yang membawa istrinya.


" Nauora, apa yang terjadi. Sadarlah.."


Suara Miguel bergetar, ia benar-benar tak sanggup melihat kondisi Nauora saat ini, dimana istrinya itu tampak terluka parah.


Dengan tangan yang bergetar, Miguel meraih tangan istrinya yang juga berlumur darah segar. Dia menggenggamnya dengan erat seraya meneteskan air matanya.


" Tuan, mohon tunggu disini. Kami akan memeriksa pasien." ujar sang Dokter saat sudah berada didepan ruang IGD.


" Tolong istriku.. dia pasti kesakitan." ucap Miguel tak karuan, memohon dengan wajah yang begitu sendu.


Sang Dokter hanya mengangguk, dan segera masuk kedalam ruang IGD.

__ADS_1


__ADS_2