
" Selamat atas kehamilanmu." ucap Lauren mengurai pelukannya.
" Kau juga, dan jaga kesehatanmu." balas Nixeelin, sementara Viet sejak tadi hanya memasang wajah datarnya.
" Lauren, aku tiba-tiba ingin minum anggur. Bisakah kau mengambilkanku." seru Viet menyela obrolan hangat dua wanita cantik didepannya.
" Baiklah, tunggu aku. jangan kemana-mana." Lauren segera berlalu cepat, meninggalkan Nixeelin dan Viet.
Melihat istrinya menjauh, Viet langsung melempar tatap penuh tanya. "Kenapa kau berbohong?"
Viet tak ingin membuang banyak waktu, langsung masuk pada inti pembicaraannya.
" Apa yang kau bicarakan." Nixeelin bersikap biasa saja tanpa menatap lawan bicaranya.
" Kau sudah hamil sebelum menikah, dan sebelum hamil kau tidak pernah berkencan. Jadi katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Beritahu aku! Apa yang begitu rahasia sampai aku tidak boleh tau dan kau malah memilih berbohong." tutur Viet panjang lebar dengan volume suara yang dikecilkan.
" Aku tidak bisa memberitaumu sekarang." Nixeelin memberi jawaban dengan sangat singkat membuat pria didepannya bungkam seketika.
Helaan nafas kasar terdengar jelas dari bibir tipis Viet. Pria muda itu berusaha mengontrol diri dengan tidak memaksa Nixeelin berbicara.
" Kemarin kau tidak datang dipernikahanku, katanya kau kurang enak badan. Katakan padaku, itu bukan karena.." Viet tak melanjutkan ucapannya, ia hanya melempar tatapan penuh arti pada sepupunya.
Nixeelin yang menangkap tatapan itu cukup mengerti, namun alih-alih berbicara ia justru memalingkan wajahnya, tak ingin memberi jawaban pada pria didepannya yang masih bekerja sebagai sekertarisnya.
" Lebih baik kau diam saja, Xeelin. Jangan lakukan apapun disaat kondisimu seperti ini. Jika kau kenapa-kenapa, kau akan kehilangan bayimu sendiri. Soal masalah itu, serahkan saja padaku. aku akan mencaritahu nya pelan-pelan. Kita tidak bisa gegabah karena lawan kita bukan orang biasa." Viet memberi nasehat pada Nixeelin yang hanya diam saja.
Sepersekian detik kemudian, Viet dan Nixeelin tak melanjutkan lagi perbincangannya saat Lauren sudah kembali dengan membawa segelas red wine.
****
Disatu sisi tampak Nauora yang saat ini tengah berada disudut ruangan bersama seorang pria tampan yakni Jerico Horres.
__ADS_1
Jauh dari keramaian para tamu undangan, Nixeelin mendelik tajam pada pria muda didepannya yang mengenakan tuxedo putih.
" Apa yang kau lakukan disini?" tanya Nauora tak suka akan kehadiran Jerico.
" Tentu saja menghadiri perjamuan." jawab Jerico santai, dengan tangan yang berada didalam saku celana. Pria gagah blasteran Inggris itu selalu memasang mimik wajah bahagia, seutas senyuman manis tak pernah hilang. Tak jarang dirinya dijuluki Mr. Smile.
" Jangan mengada-ngada, aku tidak pernah mengundangmu." sergah Nauora kesal.
" Tapi ayahmu yang mengundangku." tutur Jerico.
" Ayahku?" Nauora terkejut, ia tak percaya pada ucapan Jerico karena setahunya Tuan Dave dan Jerico tak begitu dekat.
" Kau sepertinya lupa. Kau memberiku sepuluh persen sahammu, dan kau tau ayahmu mengundang semua pemegang saham itu. Jadi tentu saja aku harus hadir." ujar Jerico dengan jelas.
" Terserah kau saja. Tapi ingat, kau jangan pernah berniat untuk mendekati Kidshan." Nauora memperingati Jerico sebelum berlalu.
" Apa Miguel sudah mencintaimu?"
Langkah kaki Nauora terhenti. Wanita berambut cokelat itu tertegun, membeku ditempatnya. Pertanyaan sederhana yang baru didengarnya, seakan mencubit hatinya. Relung hatinya terketuk, ia tersadar seketika bahwa cinta dari Miguel memang tak pernah menyapanya.
" Ataukah Miguel baru akan belajar mencintaimu?" tambah Jerico lagi.
Hening menyapa, bibir mungil Nauora bungkam. Tak ada tanda-tanda ia akan berucap walau hanya sepatah kata saja.
" Apa jangan-jangan Miguel memang tidak berniat mencintaimu?" Jerico kembali bersuara, dirinya memang sengaja memancing wanita cantik itu tuk berbicara. Dan benar saja, melihat Naoura yang hanya diam membelakanginya, sontak membuatnya menyeringai tipis.
" Astaga, menyedihkan sekali. Kupikir aku menyedihkan karena diatur olehmu, tapi ternyata kau lebih menyedihkan. Kau sudah melakukan semuanya.. membuang harga dirimu, menjadi pembunuh, dan kau juga berusaha keras membuat dia menjadi pemimpin diperusahaan besar. Lalu kau belum mendapat balasan yang setimpal? Bahkan untuk belajar mencintaimu saja dia tidak bisa?"
" Ah, sepertinya kau salah menikahi. Kau menikah dengan boneka yang jelas tidak punya hati."
Kalimat demi kalimat yang dilontarkan Jerico benar-benar membuat Nauora tak berkutik. Wanita cantik yang selalu menunjukkan keangkuhannya, seketika terlihat menyedihkan dengan bibir yang terkatup rapat.
__ADS_1
" Padahal kau sangat cantik, kau sangat pintar, dan kau sangat kaya. Kenapa ingin menunggu cinta Miguel? Kenapa kita tidak kembali saja seperti dulu saat kuliah.?"
" Diamlah sebelum aku menjahit mulutmu." sergah Nauora dengan cepat, merasa muak pada semua penuturan Jerico. Meski ia kini ingin menitikkan air mata, namun dirinya tetap berusaha terlihat baik-baik saja.
" Upsss.. aku menjadi takut. Baiklah, aku akan diam. Tapi seandainya kau bukan pembunuh, aku tidak akan diam." Jerico seakan mengolok-ngolok Nauora dengan menyunggingkan senyum tipisnya.
Sementara Nauora, ia segera berlalu meninggalkan Jerico begitu saja.
****
Tiga jam sudah berlangsungnya acara perjamuan di mansion Kwans. Tampak satu persatu tamu sudah pulang. Kini tinggallah Tuan Dave yang tengah duduk disatu meja bersama anak dan menantunya, menikmati hidangan penutup.
" Dimana Kidshan, Nara? Ayah tidak melihatnya dari tadi." ucap Tuan Dave disela-sela kegiatan menyantap makannya.
" Dia sudah tidur, Ayah." jawah Nauora seadanya.
" Ah, ayah lupa memberitahu kalian." tambah Tuan Dave lagi, membuat anak dan menantunya langsung menatapnya.
" Pergilah berlibur di pulau. Kalian sudah memilih pasangan masing-masing, jadi nikmati waktu bersantai kalian." tutur Tuan Dave.
" Wah, sepertinya seru." celetuk Nauora girang.
" Benar. Kebetulan aku juga belum pernah liburan karena terlalu sibuk." timpal Nixeelin setuju.
" Baiklah, ayah. Kami akan pergi." Davis ikut menyahut, sedangkan Miguel hanya mengangguk saja.
" Kalau begitu aku akan meminta asistenku mengurus semuanya." ujar Nauora kemudian, teringat akan Ciko.
" Tidak perlu, orang ayah sudah mengurusnya. Kalian tinggal pergi saja, dan jangan lupa bawa asisten kalian juga." jelas Tuan Dave yang sejak dulu memang tak pernah melepas anak dan menantunya sendiri sebab ia mempekerjakan para asisten dengan tujuan untuk menjaga anggota keluarganya.
" Baik, ayah."
__ADS_1