
Berjalan gontai menuju pintu utama, Nauora kini benar-benar terlihat marah. Dirinya tak terima bila asistennya diperlakukan dengan sangat kasar apalagi sampai menyakiti fisik.
" Nyonya, sudahlah. Aku baik-baik saja." ucap Ciko setengah berteriak, berusaha mensejajarkan langkah kakinya dengan majikannya namun Nauora justru mengabaikannya.
Sesampainya diluar mansion, Nauora melihat sang ayah dari jauh. Melihat ayahnya yang hendak masuk kedalam mobil, buru-buru ia menghampiri dengan langkah kaki yang begitu cepat.
" Tuan Dave!" Nauora berteriak, menyerukan nama ayahnya.
Tuan Dave yang mendengar suara putri tercintanya, sontak menoleh. Dilihatnya Nauora yang berjalan kearahnya, ia hanya menatap dengan wajah datar.
" Kenapa Ayah melakukannya?" tanya Nauora to the point, berdiri dihadapan sang ayah dengan tatapan tajamnya.
" Apa maksudmu?" Tuan Dave menampilkan wajah tanpa ekspresi, ia berpura-pura tak tau.
" Nyonya, sudahlah. Tuan Dave juga sepertinya ingin pergi." ujar Ciko menengahi saat sudah berdiri disamping Nauora. Sejujurnya ia tak menduga bahwa reaksi atasannya akan berlebihan seperti saat ini.
" Kenapa Ayah memukul Ciko?" Nauora mengabaikan asistennya, ia justru kembali mengajukan tanya pada pria paruh baya didepannya yang diam dengan bibir yang terkatup rapat.
" Apa begini cara Ayah menyelesaikan masalah? Bukankah Ayah adalah pemimpin negara, harusnya Ayah bisa adil dalam bersikap." omel Nauora yang semakin kesal sebab ayahnya hanya diam saja.
" Nauora, kau berdebat dengan ayah hanya karena pelayanmu ini?" Tuan Dave menatap tak percaya pada putri sulungnya.
" Ayah, dia bukan pelayanku, tapi temanku." sergah Nauora cepat, menekankan ucapannya.
__ADS_1
" Ayah tidak berhak memukulnya, dan tidak ada seorang pun yang bisa memukulnya. Jikapun ada kesalahan yang dilakukan Ciko, hanya aku yang akan memutuskan ingin memukulnya atau tidak." tambah Nauora meninggikan suaranya. Ia berbicara lantang, menegaskan setiap ucapannya pada sang ayah.
Dirinya yang benar-benar terbakar amarah saat ini, tak memperdulikan lagi tatapan sopir pribadi ayahnya.
Setelah puas mengeluarkan semua unek-uneknya, Nauora segera meninggalkan ayahnya dengan tak lupa membawa Ciko bersamanya.
Tuan Dave yang ditinggal begitu saja kini terlihat kesal. Ia tak pernah menyangka bahwa putri semata wayangnya akan memaki dirinya didepan orang asing hanya karena seorang pelayan.
****
Diruang tengah saat ini terlihat Nauora tengah duduk disofa dengan Ciko yang juga berada disampingnya. Ia kini sedang mengobati luka dipipi asistennya, mengoleskan salep pada bagian kulit yang terluka.
" Mulai sekarang kau jangan jauh-jauh dariku. Jika ayahku ingin menemuimu, kau harus beritahu aku dulu. Jika kuizinkan kau boleh pergi, jika tidak tetaplah bersamaku." Nauora mengomel seraya melakukan kegiatannya
" Orang tua itu benar-benar kejam." gerutu Nauora menyelesaikan kegiatannya.
" Terima kasih, Nyonya." ucap Ciko tiba-tiba.
" Untuk apa, aku tidak melakukan apapun." celetuk Nauora seadanya.
Ciko menyunggingkan senyum tipisnya saat mendengar penuturan majikannya.
" Tadi anda mengatakan bahwa kita berteman. Apa bisa sekali saja aku memanggil nama anda?" ujar Ciko dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba berubah.
__ADS_1
" Tentu saja." jawab Nauora singkat sembari membereskan kembali kotak obat diatas meja.
" Nara.. " panggil Ciko lembut. Ia terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
" Jangan membelaku lagi seperti tadi." tambahnya membuat Nauora seketika menoleh dan menatapnya.
" Kenapa?" tanya Nauora menatap lekat manik mata Ciko.
" Aku merasa saat ini belum memerlukannya. Lagipula Tuan Dave bisa salah paham. Tuan Dave pasti berfikir bahwa aku mencuri putrinya." jawab Ciko dengan senyum tertahan.
" Cih, kata-katamu berlebihan sekali." cerocos Nauora.
" Saat ini aku belum membutuhkan pembelaanmu, itu karena orang disekitarku masih menganggapku baik. Tapi bisakah jika suatu hari mereka semua menganggapku buruk, kau datang dan membelaku seperti tadi?" tutur Ciko.
" Tentu saja." jawab Nauora dengan mantap.
" Memangnya siapa yang akan menganggapmu buruk? Katakan padaku, aku akan mendatanginya sekarang." seloroh Nauora setengah bercanda.
" Tidak apa, aku hanya bicara omong kosong saja." Ciko tertawa kecil melihat tingkah atasannya.
" Baiklah, ayo kita berangkat. Sepertinya kita akan menjadi tamu yang paling terlambat." cerocos Nauora beranjak, dan berjalan lebih dulu.
" Kuharap suatu hari nanti kau tidak membenciku." gumam Ciko dalam hati. Setelahnya ia berdiri dari duduknya dan segera mengikut dibelakang majikannya.
__ADS_1