Dunia Asmara

Dunia Asmara
Tersipu malu.


__ADS_3

Hari-hari berlalu, dan hujan pun telah berhenti. Pergantian hari begitu cepat hingga tak terasa seminggu waktu telah dihabiskan di villa. Pagi ini merupakan hari terakhir mereka berlibur dipulai karena setelah sarapan pagi semua akan kembali ke kota lagi.


Masih pukul enam pagi, matahari masih tampak bersembunyi dibawah cakrawala. Langit saat ini juga belum cerah.


Disaat yang lain masih terlelap dikamar masing-masing, berbeda dengan Nixeelin yang justru sudah terjaga dipagi buta. Wanita hamil itu terlihat meninggalkan villa dengan masih mengenakan piyama tidur. Tak lupa ia memakai kacamata hitam meski langit tak cerah namun ia bersiap menyambut sunrise— matahari terbit.


Karena hari ini adalah hari terakhir dipulau, Nixeelin sengaja bangun lebih cepat sebab dirinya ingin menikmati pemandangan pantai dipagi hari. Berjalan seorang diri dipesisir pantai tanpa alas kaki, ia terlihat menikmati ombak kecil yang menyapu kaki jenjangnya yang mulus, dan semilir angin segar yang menerpa wajah cantiknya.


Namun langkah kaki Nixeelin terhenti saat ia melihat seekor kura-kura kecil didepannya. Berjongkok lalu mengambil hewan berjenis reptil itu, Nixeelin mengulum senyumnya seraya mengelus lembut cangkang kura-kura itu.


" Kau imut sekali. Kenapa kau disini, apa kau tersesat? Mau berenang dipantai, ya?" celoteh Nixeelin pada hewan itu. Setelahnya ia segera melepaskan kura-kura itu, membiarkannya berada didalam air.


" Kau sebahagia itu?"


Suara berat nan maskulin dari seorang pria membuat Nixeelin sontak berdiri lalu berbalik. Wanita itu tampak terkejut karena rupanya pria itu adalah suaminya.


" Apa yang kau lakukan disini? Apa kau juga ingin jalan pagi?" tanya Nixeelin.


" Huumm.." jawab Davis seadanya. Ia tak jujur bahwa sejak tadi dirinya diam-diam mengikuti sang istri.


****


Matahari pagi mulai muncul dari bawah cakrawala. Sepasang suami istri yakni Davis dan Nixeelin masih tampak berjalan dipesisir pantai. Keduanya terlihat menikmati suasana yang tenang dengan hanya mendengar suara ombak dan juga kicauan burung berkelompok diatas langit.

__ADS_1


Nixeelin yang berjalan beriringan bersama suaminya, tampak sesekali mencuri pandang dengan diam-diam mengulum senyumnya. Ia baru menyadari bahwa wajah Davis terlihat begitu tampan dipagi hari.


Ehemm..


Wanita berambut panjang itu berdehem, menetralkan perasaannya yang bergelut tak karuan.


" Ada apa? Kau sudah lelah?" tanya Davis menyalah artikan deham istrinya.


" Boleh aku bertanya?" Nixeelin menoleh pada suaminya dengan seutas senyum manis dibibirnya.


" Tentu saja." jawab Davis cepat.


" Apa kau pernah jatuh cinta?" Nixeelin berdiam diri ditempatnya saat ia mengajukan tanya.


" Aku pernah jatuh cinta saat masih kecil. Sepertinya saat itu usiaku delapan tahun." tutur Davis menerawang pada masa kecilnya.


" Kau pasti tidak asing lagi dengan kalimat cinta pada pandangan pertama." tambahnya, sementara Nixeelin hanya menyimak dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.


" Anak itu seusiaku. Dia mengikat rambutnya, dan duduk ditaman sendiri. Hanya dengan melihatnya dari jauh, dan langsung menyukainya. Lalu aku mendekatinya, saat melihat wajahnya dengan jelas, aku jatuh cinta. Bahkan..." Davis menggantung ceritanya, ia seolah enggan tuk melanjutkannya.


" Bahkan?" Nixeelin mengernyit, ia merasa penasaran ingin mendengar kelanjutan cerita suaminya.


" Sudahlah, lagipula aku tidak mengingatnya dengan jelas. Saat kecil aku sering sakit jadi ingatanku lemah." jelas Davis kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Sedangkan Nixeelin terdiam sejenak ditempatnya, mencerna setiap ucapan yang dilontarkan suaminya. Sepersekian detik kemudian, ia segera menyusul Davis, berusaha mensejajarkan langkahnya dengan sang suami.


" Bisakah kau memberitahu aku saat sudah mengingatnya kembali." tutur Nixeelin.


Davis menghentikan langkah kakinya. Ia lalu menoleh pada istrinya, dan tak lama membungkuk, mensejajarnya tingginya dengan sang istri. Namun rupanya hal itu membuat Nixeelin salah tingkah. Bagaimana tidak, kini wajah mereka begitu dekat dengan hanya berjarak tiga senti.


" Untuk apa?" tanya Davis kemudian.


" A.. A.. Aku.." Nixeelin terbata-bata, tak dapat melanjutkan ucapannya karena merasa gugup. Meski ia memakai kacamata hitam saat ini, namun tatapan Davis sangat intens padanya hingga membuat hatinya berdegup kencang.


" Wah.. sempurna!" lirih Davis tiba-tiba dengan masih menatap lekat wajah istrinya dari dekat. Nixeelin mengerutkan dahi, namun sepersekian detik kemudian pipinya merah merona.


" Benarkah?" tanya Nixeelin dengan wajah bersemu merah.


" Iya, aku baru melihat wajahku pagi ini dan ternyata aku tetap gagah walau belum mandi." celetuk Davis santai.


" Heh?"


Nixeelin terbelalak, kiranya ternyata salah. Ia sebelumnya berfikir bahwa sang suami memuji wajahnya sempurna, namun ternyata suaminya hanya memuji diri sendiri. Meredam rasa malunya, buru-buru Nixeelin memalingkan wajahnya.


" Humm.. sebaiknya kita kembali ke villa. Pasti semua orang sudah bangun." ujar Davis tampak biasa saja dan segera berlalu.


Sepeninggalan suaminya, Nixeelin menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar hebat, bak usai menaiki rollercoaster. Entah ada apa, namun ia menyadari kalau belakangan ini ia memang merasa jantungnya bereaksi berlebihan saat berdekatan dengan Davis.

__ADS_1


" Kenapa juga dia bercermin di kacamataku." gerutu Nixeelin lalu menyusul suaminya.


__ADS_2