
D' Cafe.
Waktu berlalu dan tak terasa kini hari sudah malam. Disebuah cafe bernuansa aesthetic, tampak wanita muda yang tengah duduk disalah satu meja, sembari menikmati alunan musik violin yang menyatu dengan musik piano.
Nixeelin Oliveira, wanita cantik dengan rambut yang dibiarkan tergerai itu, terlihat nyaman dalam kesendiriannya. Namun seketika sesuatu seolah bergejolak didalam perutnya, rasa mual tiba-tiba menyapa begitu saja.
" Huekk.. "
Rasa mual itu semakin menjadi, Nixeelin pun beranjak dari duduknya. Ia benar-benar tak tahan lagi, ingin sekali mengeluarkan sesuatu yang tertahan dikerongkongannya.
Berlari kecil menuju toilet, Nixeelin mengabaikan tatapan orang-orang yang memandangnya dengan heran. Ia juga tak lagi menyadari sepasang mata yang sejak tadi mengamatinya dari kejauhan.
****
Selang beberapa saat, Nixeelin sudah keluar dari dalam toilet. Ia pun kembali ketempatnya semula, menenangkan dirinya yang terasa lemas setelah memuntahkan isi perutnya.
" Xeelin.." panggil seorang wanita dari kejauhan, sontak Nixeelin menoleh pada sumber suara. Disaat itu juga senyum Nixeelin mengembang melihat wanita sebayanya itu menghampiri.
" Apa yang kau lakukan disini?" tanya Nixeelin dengan raut wajah yang bahagia.
" Humm.. kau tidak akan memelukku dulu?" celetuk wanita cantik bernama lengkap Lauren Rhasmiyana.
Nixeelin tersenyum, ia lalu beranjak dan segera menghadiahi pelukan hangat pada Lauren, setelahnya keduanya pun kembali duduk.
" Aku baru tiba dari Kanada. Aku merindukanmu jadi menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif. Aku langsung menghubungi Viet dan dia mengatakan kau ada di tempat ini." seloroh Lauren panjang lebar.
__ADS_1
Wajahnya berseri-seri, kebahagiaan tampak jelas diwajah cantiknya. Tentu saja, sebab sudah beberapa tahun ia tak bertemu dengan sahabatnya— Nixeelin. Keduanya memang sudah menjalin persahabatan sejak remaja.
" Ah, aku merasa kau kurang sehat." ucap Lauren setelah mengamati dengan intens lekukan wajah Nixeelin.
" Sepertinya begitu. Aku tiba-tiba merasa tidak enak badan." tutur Nixeelin.
" Hum, kau ini masih saja keluar padahal sedang tidak enak badan." omel Lauren dan beralih menatap pada jus didepannya.
" Astaga, kau minum jus stroberry?" suara Lauren seketika meninggi, ia mendelik pada sahabatnya.
" Aku hanya mencobanya sedikit." Nixeelin tersenyum kikuk.
Sementara Lauren, ia segera mengambil alih jus milik sahabatnya karena ia tau bahwa Nixeelin alergi pada buah stroberry.
" Yakk.. lain kali jangan coba-coba. Ini soal kesehatanmu. Kau mengerti tidak."
" Aku sering melihatmu dimedia. Karirmu semakin bagus, sudah seharusnya kau mencari seseorang yang tepat untuk dijadikan pasangan." tutur Nixeelin kemudian, dengan maksud mengingatkan sahabatnya bahwa usia Lauren sudah cukup dewasa.
" Jangan mengkhawatirkan aku." tukas Lauren setengah berbisik.
" Kenapa? Apa kau sudah memilikinya?"
Nixeelin seketika dibuat penasaran, dan rasa keingintahuannya semakin dalam saat Lauren mengangguk.
" Dimana pria itu? Apa pekerjaannya?" serentetan tanya meluncur dari bibir tipis Nixeelin. Ia memandangi sahabatnya dengan sangat intens.
__ADS_1
" Kau ingin tau?" tanya balik Lauren.
" Tentu saja, beritahu aku." Nixeelin menanggapi dengan sangat cepat. Sumringah menatap wajah sahabatnya.
" Ah, nanti saja. Kau juga akan tau nanti karena kau mengenalnya." ujar Lauren dengan santai.
" Aish, kau itu." gerutu Nixeelin mengerucutkan bibir mungilnya.
" Bagaimana hubunganmu dengan dia? Kalian sudah sejauh mana?" Nixeelin kembali mengajukan tanya, ia masih sangat penasaran tentang kekasih sahabatnya, terlebih lagi Lauren mengatakan bahwa dirinya mengenal sosok pria itu.
" Entahlah, aku tidak tau sejauh mana hubungan kami. Aku dan dia sudah melakukan banyak hal, tapi terkadang dia menyembunyikan sesuatu."
Tiba-tiba Lauren tercenung sesaat, wanita cantik itu seketika dilanda kebimbangan.
" Hah.." mendengar penuturan Lauren, Nixeelin menghela nafas kasar. Entah mengapa kali ini firasatnya buruk terhadap kekasih sahabatnya.
" Ingat, kau harus berhati-hati menjalin hubungan dengan pria karena kau ini.. bisa dibilang menguntungkan dan merugikan. Jika kau kencan dengan levelmu, kau semakin naik daun, tapi jika kau kencan dengan seseorang yang berada diatasmu, maka kau bisa saja hancur."
Nixeelin meraih tangan Lauren, memberi nasehat pada sahabatnya dengan wajah sendu.
" Ah, kau belum memesan apapun. Mau kupesankan apa?" ujarnya kemudian.
" Tidak perlu. Aku merasa lelah, bisa tidak aku menginap ditempatmu saja." tutur Lauren dengan senyum tertahan. Raut wajahnya berubah, tak seperti sebelumnya.
" Baiklah, kau tidak perlu menginap, tinggal saja dirumahku. Kau bawa mobilkan?" seru Nixeelin.
__ADS_1
" Tidak, aku naik taksi. Sengaja biar bisa pulang denganmu."
Lauren tertawa kecil. Keduanya lalu segera beranjak, meninggalkan cafe itu.