
Drt, drt, drt.
Dering ponsel disaku jas Davis menyadarkannya. Masih dalam posisi menggendong Kidshan, ia juga segera menjawab panggilan itu yang rupanya dari sang asisten.
“ Humm, ada apa?” ucapnya dengan panggilan yang sudah terhubung dengan asistennya.
“ Tuan, aku sudah ada di kantor. Rapatnya akan dimulai sepuluh menit lagi, anda ada dimana sekarang?” tutur Ishal diseberang sana dengan satu tarikan nafas.
“ Benarkah?” Davis tampak berfikir sejenak, dan lalu melirik sekilas pada bayi dalam gendongannya.
“ Baiklah, aku akan kesana. Tunggu aku.” tambahnya kemudian dan segera menutup panggilan dengan sepihak.
“ Kau, dengarkan aku. Jika Kinaya datang katakan kalau aku membawa Kidshan.” ucap Davis pada pelayan wanita yang masih berdiri disampingnya.
“ Baik, Tuan.” jawab sang pelayan.
Davis segera berlalu, meninggalkan gadis muda itu dengan membawa putra kecil kakaknya.
⚘️
⚘️
⚘️
Perusahaan DK. Brand
Setelah melalui perjalanan hanya dengan waktu singkat, Davis kini sudah tiba dikantornya. Ia kini berjalan gontai memasuki gedung bertingkat dihadapannya, dengan menggendong bayi kecil kakaknya.
Kidshan yang baru pertama kali dibawa keluar dari kediaman Kwans, tak merasa terganggu dan justru bayi itu terlihat girang karena sejak meninggalkan kediaman mewah Kwans, ia terus tergelak dan terkadang akan berceloteh sendiri.
__ADS_1
“ Wah, lihat siapa yang dibawa Tuan Davis!"
“ Lucu sekali anak itu."
“ Dia menggemaskan. Apakah itu anak Tuan Davis.”
“ Tentu saja bukan. Tuan Davis itu masih jomblo.”
“ Benarkah?”
Ucapan beruntun dari para pegawai kantor menyambut Davis kala memasuki perusahaannya dengan menggendong keponakannya yang sejak tadi tersenyum sumringah.
Pria muda itu berjalan santai, mengabaikan apa yang didengarnya sebab ia tak punya banyak waktu lagi. Bahkan saat ini dirinya harus berburu waktu, dalam tiga detik harus tiba dilantai atas, dimana ruang rapat berada.
Masuk didalam lift VIP, Davis segera menekan tombol lantai tujuannya. Sementara Kidshan, bayi kecil itu terus saja berceloteh seorang diri membuat Davis mengukir senyum.
“ Kau bahagia sekali, yah.” ucap Davis mencubiti pipi gembul keponakannya.
Ting.
Selang beberapa saat, keduanya sudah tiba dilantai atas. Keluar dari lift, Davis langsung disambut oleh Ishal— asistennya.
“ Tuan, anda sudah terlambat satu detik.” ujar Ishal melihat jam dipergelangan tangannya.
“ Iya, aku tau.” ketus Davis, dan lalu menyerahkan bayi kecil dalam gendongannya pada asistennya.
“ Aku akan rapat, jaga Kidshan dulu.” tambahnya.
“ Heh?”
__ADS_1
Kedua mata Ishal membulat sempurna, belum sempat mengajukan tanya, atasannya sudah berlalu dengan tergesa-gesa, membuatnya tak dapat berkutik.
“ Kidshan?” lirihnya menatap kepergian sang majikan. Ia lalu beralih menatap bayi kecil digendongannya yang tersenyum sumringah.
“ Apa namamu Kidshan?”
“ Sejak kapan kau punya nama?”
“ Apakah Ibumu sudah berani menamaimu?”
Serentetan tanya dilontarkan Ishal meski dia tau bahwa bayi digendongannya tak akan memberikannya jawaban.
“ Unce.. unce.. “ celoteh Kidshan.
“ Heh?” Ishal terkejut menoleh pada bayi kecil itu.
“ Kau memanggilku paman?” menatap intens wajah polos baby Kidshan, raut wajah Ishal tampak bahagia.
“ Baiklah, kalau begitu aku akan menemanimu bermain. Ayo!” seru Ishal kemudian, segera berjalan menuju lift VIP.
Setibanya didepan lift, Ishal mengernyit saat mendapati lift itu yang rupanya dipakai seseorang.
“Siapa yang datang, apa Nyonya Nauora?”
Ting.
Selang beberapa saat, pintu lift terbuka. Ishal termangu saat ternyata mendapati sosok Nixeelin yang berada didalam lift.
“ Oh, Nona Nixeelin.” Spontan Ishal menyerukan nama panggilan wanita didepannya.
__ADS_1
“ Masuklah.” ujar Nixeelin dengan ramah. Ia tentu mengenal siapa Ishal, sebab setiap kali bertemu dengan Davis maka Ishal juga akan nampak. Namun kali ini berbeda karena Davis tak terlihat dan justru Ishal sedang bersama seorang bayi laki-laki.