
Kediaman Kwans.
Jam dinding berputar cepat pada porosnya, waktu berlalu terasa sangat cepat hingga kini hari sudah malam. Didalam hunian mewah keluarga Kwans, seperti biasa rumah itu diselimuti keheningan.
Pemakaman mendiang Michel sudah dilakukan sore hari tadi, semua keluarga pun kembali beraktivitas seperti biasa.
Tampak Nauora yang tengah berada dikamarnya, menemani bayi kecilnya bermain diatas ranjang king sizenya. Sementara disatu sisi, terlihat Miguel yang mengunjungi kamar adik iparnya.
" Bagaimana caramu melindungi Nixeelin, kenapa Nauora bisa mengetahui namanya." tanya Miguel, menodongkan pertanyaan dengan nada meninggi.
Davis yang tengah duduk disofa sembari berkutat didepan layar laptop, sontak menghela nafas kasar saat mendengar penuturan kakak iparnya. Ia lalu menghentikan kegiatannya, dan beralih menatap tajam pada pria matang didepannya yang berdiri kaku.
" Yakk.. apa kau yakin kakakku mengetahui sesuatu?" tanya balik Davis dengan kesal.
Miguel mengernyit, tak mengerti arti pembicaraan adik iparnya. "Apa maksudmu?"
" Kau bilang akan melindungi Nixeelin, lalu kenapa bisa kakakmu tau tentangnya." Miguel kembali mengulang pertanyaan yang sama membuat Davis berdiri dari duduknya dengan wajah yang ditekuk.
" Kau gila? Kenapa harus aku saja yang melindunginya padahal kau yang sudah menidurinya? Kau yang salah, jika kau memang mencintainya, harusnya kau tidak mengusiknya. Cukup lihat dia dari jauh, jangan sampai terlibat dalam hidupmu. Hidupmu sudah kacau, kenapa kau menambah masalah lagi."
Davis yang sudah tak dapat menahan amarahnya, mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini ia pendam.
" Bukankah kau juga mencintainya? Lagipula kau sudah tau, aku tidak bisa melakukan apapun. Kakakmu itu selalu memantau aku." balas Miguel tak mau kalah.
__ADS_1
" Terserah kau saja." Davis tak tau harus mengatakan apa lagi untuk membalas ucapan Miguel, ia pun memilih berlalu dengan menyenggol bahu sang kakak ipar.
⚘️
⚘️
⚘️
Mansion Oliveira.
Malam hari disebuah hunian mewah berbeda, kediaman megah dengan gaya bangunan khas eropa. Rumah dengan nuansa warna cream putih itu kini dihuni oleh tiga orang saja.
Pemiliknya sendiri tak lain adalah si cantik Nixeelin Oliveira. Sejak kedatangan Lauren dari luar negeri, Nixeelin tak lagi menghuni apartementnya, ia memilih menempati kembali rumahnya yang sudah lama ia tinggalkan begitu saja. Meski begitu, setiap hari akan ada seorang pelayan yang membersihkan kediamannya itu.
Sepanjang acara makan malam, ketiganya tak bicara sama sekali. Baik Nixeelin maupun Lauren, larut dalam pikiran masing-masing.
" Humm.." sejak tadi mengamati sahabatnya dalam diam, Nixeelin akhirnya berdehem, menetralkan suasana sebelum ia mengajukan tanya pada Lauren perihal rasa penasarannya.
" Ada apa, Xeelin? Apa makanannya tidak enak?" Lauren masih santai, ia kembali menyantap makan malamnya.
" Tidak, ini sangat enak." seru Nixeelin.
" Ah, apa besok kau ingin kesuatu tempat?" tambahnya.
__ADS_1
Seketika Lauren terdiam, menghentikan kegiatan makannya.
" Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" Lauren tampak kikuk.
" Tidak, aku hanya bertanya saja." ujar Nixeelin dengan senyumnya yang seperti biasa.
" Tidak biasanya kau seperti ini, Lauren. Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?"
Benak Nixeelin terus bertanya-tanya, rasa penasaran itu membuncah. Sahabatnya yang selama belasan tahun ia kenal, tak pernah menyembunyikan sesuatu, tiba-tiba saja memilih merahasiakan satu hal.
" Aku akan pergi!" ucap Nixeelin kemudian, membuat Lauren dan Viet sontak menghentikan kegiatan makannya.
" Pergi kemana?" serentak Lauren dan Viet menyahut dengan tanya yang sama. Keduanya menatap nanar pada Nixeelin, menanti jawaban dengan wajah yang begitu serius.
" Aku akan ke Kanada untuk urusan bisnis." jelas Nixeelin dengan singkat dan padat.
" Sendiri?" sahut Viet dengan cepat.
" Humm.." Nixeelin mengangguk sembari menyantap makan malamnya.
" Kenapa sendiri? Bukankah Viet harusnya ikut karena dia kan asistenmu?" Lauren ikut menyahut.
" Aku hanya ingin sendiri dulu. Lagipula kau ada disini jadi biarkan Viet menjagamu." tutur Nixeelin.
__ADS_1
" Baiklah, aku tinggal duluan. Aku ingin berberes." tambahnya meneguk air putih dan segera beranjak dari duduknya.