Dunia Asmara

Dunia Asmara
Cemburu.


__ADS_3

Waktu berlalu cepat dan tak terasa akhir pekan sudah kembali. Pagi hari dikediaman Kwans saat ini, terlihat Miguel yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dengan mengenakan setelan rumahan.


Pria matang itu bergegas menuju ruang makan, ingin sarapan pagi sebab sejak tadi perutnya meronta-ronta minta diisi.


Tiba diruang makan, nafsu makan Miguel seketika hilang saat tak mendapati siapapun selain sang adik ipar— Davis.


" Dimana Nauora?" tanya Miguel pada adik iparnya.


" Katanya sarapan ditaman belakang." jawab Davis seadanya.


Mendengar jawaban Davis, tak membuang waktu lama buru-buru Miguel bergegas menuju taman belakang mansion.


Setibanya ditaman, Miguel membeku ditempat. Melihat dari jauh sang istri yang tengah menyantap sarapan bersama Ciko, membuat pria matang itu seketika cemburu.


Dengan langkah kaki gontai Miguel buru-buru menghampiri istrinya. Wajahnya kini ditekuk, tatapan tak suka dilemparkan pada Ciko.


" Yakk.. kalian sedang apa?" tanya Miguel ketus.


" Kami sarapan, memangnya ada apa?" Nauora mengangkat pandangannya, menatap suaminya dengan tampang polos.


" Aku tau kalian sarapan. Aku melihat kalian dengan mataku. Tapi... "


" Lalu kenapa kau bertanya lagi?" potong Nauora santai.

__ADS_1


" Maksudku kenapa kalian sarapan bersama diluar? Kalian seperti berkencan saja." celetuk Miguel dengan kesal.


" Yakk.. Ciko pindahlah. Aku juga ingin sarapan." tambahnya menepuk bahu asisten istrinya.


" Dia belum selesai makan. Biarkan dia makan dulu, lagipula masih ada kursi lain." tutur Nauora merasa heran atas sikap suaminya.


" Aku tidak mau. Aku mau duduk ditempat Ciko!" ucap Miguel tegas, tetap pada keinginannya.


Nauora menghela nafas melihat tingkah kekanakan suaminya pagi ini, ia menatap malas pada pria gagah yang berdiri disamping asistennya.


" Ciko, pindah kursi saja." ujar Nauora kemudian.


" Yakk.. kau tidak usah pindah kursi. Kau makan saja didalam mansion." cerocos Miguel dengan cepat.


Ciko yang sejak tadi hanya menyimak, berusaha meredam kekesalan dihatinya. Ia menghela nafas dengan pelan, lalu kemudian menampilkan senyumnya.


Setelah asisten istrinya pergi, Miguel segera duduk dikursi yang sebelumnya ditempati Ciko.


" Kau kenapa?" tanya Miguel menatap intens wajah cantik istrinya.


" Aku tidak apa-apa." jawab Nauora singkat sembari menyantap sarapan paginya.


Namun tiba-tiba Miguel mengambil sendok dan garpu yang dipegangnya, lalu menaruh asal diatas piring kosong. Tak sampai situ, suaminya bahkan mendekatkan wajah, menatap kedua manik matanya.

__ADS_1


" Kau sedikit berubah setelah kembali dari villa. Katakan, ada apa?" tanya Miguel lagi. Kali ini ia tampak mendesak istrinya tuk berbicara.


" Apa yang kau lakukan. Bukankah kau ingin makan, kenapa malah bicara."


Nauora mengalihkan pembicaraan, ia hendak meraih alat makannya namun Miguel lagi-lagi menahannya.



" Apa kau tidak nyaman bersamaku?"


Miguel mengajukan tanya yang tak terduga hingga sukses membungkam bibir mungil istrinya.


" Sial, kenapa aku bertanya seperti itu. Sudah jelaskan dia tidak nyaman denganku karena pernikahan kami memang terjadi diatas perjanjian."


Pria matang itu menggerutu didalam hati setelah menyadari ucapannya sendiri. Meski begitu raut wajahnya tetap sama sembari menatap intens pada sang istri.


" Apa ini, kau menatapku dengan mata seperti itu? Kau membuatku bingung."


" Sudahlah.. jangan bertanya hal seperti itu lagi." ujar Nauora menutup percakapan dan segera beranjak.


Mendapati sikap istrinya yang sedikit dingin padanya, Miguel menghela nafas kasar. Tak lama dirinya beranjak, meninggalkan meja makan. Disela-sela langkah kakinya, Miguel juga menghubungi asistennya.


" Aku ingin bermain bulu tangkis, bersiaplah." Miguel berbicara lebih dulu saat panggilan telfon sudah terhubung dengan sang asisten.

__ADS_1


" Sekarang?" Andre memastikan lagi.


" Tentu saja sekarang. Sudah, kututup telfonnya yah." jawab Miguel seadanya dan segera memutus sepihak panggilannya.


__ADS_2