Dunia Asmara

Dunia Asmara
Instruksi.


__ADS_3

Perusahaan DK. Brand.


Hari kini sudah petang, matahari pun mulai tampak turun, terbenam dibawah cakrawala. Terlihat sebagian pekerja kantor sudah membereskan mejanya, bersiap-siap untuk pulang.


Namun berbeda dengan pimpinan perusahaan yakni Davis Kwans. Pria muda itu masih terlihat sibuk diruangannya. Menyelesaikan tumpukan berkas diatas mejanya.


Ditengah kesibukannya, tiba-tiba Ishal sang asisten masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk.


" Kebetulan kau datang, bawa ini, aku sudah tanda tangani." titah Davis menyodorkan beberapa map yang berisi dokumen penting.


Ishal mengambilnya, namun tak lupa ia menaruh sebuah amplop diatas meja atasannya.


" Apa ini? Surat pengunduran dirimu?" celetuk Davis setengah bercanda, setelahnya ia segera membuka amplop itu.


" Tiket nonton?" dahi Davis mengerut seraya menatap asistennya.


" Huumm.. malam ini Tuan harus pergi menonton bersama Nyonya." tutur Ishal.


" Tapi..."


" Sudahlah, aku yang urus pekerjaan Tuan. Pergi saja dulu dengan Nyonya, menangkan hatinya. Kalau perlu, malam ini anda harus mencium bibirnya." terang Ishal dengan santai.

__ADS_1


" Yakk, kau bilang apa?" Davis menatap jengah pada Ishal setelah mendengar instruksi asistennya.


" Kenapa, bukankah itu hal wajar bagi orang dewasa. Lagipula bioskop sudah ku booking, Tuan. Jadi tidak akan ada yang mengganggu." Ishal tersenyum manis, membuat Davis bungkam.


" Oh iya, jangan sampai Tuan mengacaukannya lagi."


Ishal berlalu setelah mengingatkan Tuannya dengan tatapan penuh arti. Davis yang melihat itu kini menggeleng, ia tak menduga bahwa asistennya akan berlebihan seperti ini dalam mengatur kencannya bersama sang istri.


⚘️


⚘️


⚘️


Sesuai instruksi asistennya, Davis pulang dari kontar lebih awal. Jika biasanya pukul delapan malam hingga sembilan malam, kini ia pulang pukul tujuh malam.


Mobil sedan keluaran terbaru berwarna hitam metallik yang dikendarai Davis, tampak masuk kedalam pekarangan mansion, lalu memarkirkannya ditempat biasa


Keluar dari mobilnya, Davis menautkan kedua alis saat dirinya tak sengaja berpapasan dengan seorang pria remaja. Anak laki-laki yang mengenakan celana jeans dengan atasan hoddie berwarna hijau botol.


Mengamati dengan intens dari ujung kaki hingga ujung kepala, Davis sesaat merasa heran.

__ADS_1


" Kau seperti tidak asing. Kurasa aku pernah melihatmu." ucap Davis tampak berfikir, mencoba mengingat wajah familiar remaja didepannya.


" Aku Tyler Jhon."


Kevin langsung memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya.


" Ah, benar. Kau Tyler, juara peretas tingkat internasional yang kulihat di berita kemarin." seloroh Davis segera menjabat tangan pria remaja didepannya dengan seutas senyum tipisnya.


" Aku Davis Kwans, kau pasti sudah kenal." ucap Davis ramah.


" Tunggu, apa yang kau lakukan disini?" tanyanya kemudian melepas jabat tangannya.


" Yakk, jangan mengganggunya. Dia tamu ku!"


Obrolan Davis dan Tyler terhenti saat tiba-tiba Nauora datang menyela. Keduanya langsung menoleh pada sumber suara, menatap wanita cantik yang berdiri diambang pintu utama. Jika Davis melempar tatapan malas pada kakaknya, Tyler justru mengulum senyumnya saat melihat Nauora kali ini.


" Tamu? Apa lagi yang kau rencanakan?" Davis menelisik wajah kakaknya dengan kening mengerut.


" Tyler, ikutlah denganku."


Alih-alih menjawab pertanyaan adiknya, Nauora justru mengajak Tyler masuk kedalam mansion, meninggalkan adiknya yang dilanda kebingungan.

__ADS_1


" Cih, dasar penyihir." gerutu Davis menatap Nauora dan Tyler yang masuk kedalam mansion.


" Pasti dia merencanakan sesuatu lagi." gumam Davis segera masuk kedalam mansion. Langkah kakinya lebar, ia jelas tak sabar ingin menemui istrinya.


__ADS_2