
"Ya sudah, Mas! Laila ke kamar dulu. Nggak enak dengan Mbak Ratna, nanti jadi fitnah," Pamit Laila sembari memeluk Alquran yang dibawanya. Gadis itu menundukkan kepalanya dan segera pergi meninggalkan Fajar yang masih tertegun melihat adik iparnya yang begitu Solihah.
"Laila gadis yang baik, tapi sayang kisah cinta begitu menyedihkan. Kurang apa dia, sudah cantik, pinter ngaji, menutup aurat, lembut. Tapi Agung malah ninggalin dia. Hmm semoga Laila mendapatkan jodoh terbaik dan bisa menjadi imam yang baik untuknya, andaikan saja Ratna bisa seperti adiknya. Benar kata Mama ... eh apaan sih aku! Ngapain juga bandingkan Laila dan Ratna, mereka punya kelebihan masing-masing,"
Fajar tersenyum saat melihat Laila yang sedang pergi ke kamarnya, entah kenapa ia merasa senang melihat penampilan Laila yang tampak sederhana tapi begitu menunjukkan identitas muslimah yang anggun.
"Nggak tahu kenapa aku merasa senang saja saat melihat Laila, Astaghfirullahal adzim! Ingat Fajar kamu itu udah punya istri," gumam Fajar sembari beranjak ke kamarnya.
Keesokan harinya. Fajar berusaha untuk bersikap seperti biasa kepada istrinya. Ia tidak mau terburu-buru untuk mengetahui rahasia apakah yang disembunyikan oleh Ratna. Karena Ratna selalu menolak Fajar untuk melakukan kewajibannya.
Seperti biasa, pagi hari sebelum beraktivitas. Mereka berada dalam satu meja untuk sarapan pagi, tiba-tiba Ratna berkata kepada sang suami. "Mas! Aku minta duwit lima juta, hari ini aku mau belanja baju dan juga skincare, boleh ya, Mas! Soalnya hari ini teman-teman aku ngajakin aku hangout, bete di rumah terus," rengek Ratna yang berpura-pura pergi dengan teman-temannya, padahal dirinya ingin bertemu dengan Agung.
"Bukannya aku tidak mengizinkanmu, aku bisa memberikan uang itu untukmu, tapi jika untuk pergi dengan teman-temanmu, aku keberatan. Aku bisa mengantarmu sendiri untuk beli baju dan kosmetik." Ucapan Fajar rupanya tidak bisa diterima oleh Ratna.
"Jadi, kamu nggak ngizinin aku untuk pergi dengan teman-teman aku, Mas? Jahat banget sih kamu, mereka itu udah lama pingin jalan bareng sama aku, Mas. Semenjak aku nikah, aku belum pernah pergi dengan teman-teman, kamu sebagai suami harus ngertiin istrinya dong. Aku juga butuh hiburan, Mas! Aku ngga bisa diam terus di rumah, bete tahu nggak!" protes Ratna.
Melihat kakaknya yang berani berkata dengan nada tinggi kepada suaminya, Laila pun berusaha untuk mengingatkan sang kakak untuk hormat dan berbicara lemah lembut.
"Astaghfirullah Mbak Ratna! Nggak boleh ngomong gitu, Mbak! Maafin adikmu. Mbak Ratna harus bersikap hormat kepada Mas Fajar. Ingat pesan almarhum ayah dulu, jika nanti kita berstatus sebagai seorang istri, kita diharamkan berbicara dengan nada tinggi kepada suami kita," ucap Laila yang membuat Ratna menjadi marah.
"Tidak usah ikut campur urusan, Mbak. Ini urusan kami berdua, atau jangan-jangan kamu itu diam-diam suka ya dengan suami Mbak?" sahut Ratna yang justru membuat Laila tak habis pikir.
"Astaghfirullah, Ratna! Jaga ucapanmu, Laila ini adikmu, dia hanya mengingatkan mu. Kamu malah nuduh dia sembarangan!" sahut Fajar membela Laila. Tak terima sang suami lebih membela adiknya, Ratna pun emosi dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ratna, tunggu! Mau kemana kamu?" Fajar terlihat mengejar istrinya dan berusaha untuk menghadang Ratna agar tidak pergi.
__ADS_1
"Mau kemana kamu?" seru Fajar sambil menahan tangan Ratna.
"Lepaskan, Mas! Aku jenuh di rumah, aku mau pergi bersama teman-teman, setiap hari aku nungguin kamu pulang kerja, capek tahu nggak!" Ratna tetap memaksa untuk pergi. Fajar yang tidak bisa mengendalikan emosinya, ia pun memaksa Ratna untuk kembali masuk ke dalam rumah.
"Kembali kamu! Kamu sudah berani dengan suamimu!" Fajar berkata dengan sedikit tegas. Sontak Ratna pun mulai berpikir jika Fajar marah, maka akan berimbas pada status dirinya.
"Sialan! Hari ini aku gagal ketemu Agung, terpaksa aku harus menuruti permintaan Mas Fajar, jika tidak dia bisa curiga!"
Ratna pun mulai pura-pura minta maaf dengan diawali tangisan buayanya. Tentu saja Fajar tidak tega melihat wanita apalagi istrinya menangis. Ia pun mencoba untuk menenangkan Ratna. Tapi Ratna langsung berlari masuk ke dalam kamar.
Ratna berlari melewati sang adik yang sedang berdiri dan berkata sesuatu kepada Laila, "Sekarang puas kamu! Jika terjadi sesuatu pada rumah tanggaku, kamu tidak akan pernah melihat kakakmu lagi, Laila!" ucapnya sebelum pergi ke kamar.
Fajar pun tidak ingin terlalu lama menghadapi situasi ini, ia pun segera berangkat ke kantor dan menyuruh beberapa pelayan untuk memantau istrinya. Sedangkan Laila hanya menatap sayu kepergian sang kakak ipar.
*
*
*
Malam harinya, seperti biasa Fajar pulang disambut wajah dingin sang istri, melihat wajah sang istri yang murung, dengan mudah Fajar merayunya dengan memberikan uang kepada Ratna.
"Sudah cukup?" seru Fajar sembari memberikan beberapa gepok uang ratusan ribu rupiah.
"Waaah, makasih banyak, Mas! Kamu memang laki-laki yang pengertian," puji Ratna sambil menyimpan uang pemberian Fajar di dalam tasnya. Setelah itu Fajar pun memberikan kode kepada Ratna untuk meminta haknya sebagai seorang suami.
__ADS_1
Lagi-lagi, Ratna menolaknya dengan berbagai alasan. Tentu saja bagi seorang pria, penolakan itu begitu menyakitkan, apalagi dirinya sudah hampir dua Minggu menikah dengan Ratna.
"Aku capek banget, Mas! Besok aja, ya! Masih banyak waktu untuk kita, sabar! Kamu pasti akan mendapatkannya," rayu Ratna yang memaksa Fajar untuk turun dari tempat tidurnya.
Ia pun memutuskan untuk pergi keluar kamar untuk mencari suasana yang lebih tenang. Malam itu jam masih menunjukkan pukul sembilan malam. Fajar berjalan menuju ke ruang tengah, ternyata di sana mas ada Laila yang sedang membaca sesuatu dengan serius.
"Apa yang Laila lakukan di sana!" pikir Fajar sembari berjalan menghampiri Laila yang sedang membaca sebuah buku karangan Kahlil Gibran. Tentu saja Fajar sangat mengenal sampul buku, dimana dirinya juga sangat menyukai buku karya Kahlil Gibran dan sering membacanya di waktu luang.
"Kahlil Gibran! Kamu juga menyukai buku-bukunya?" tanya Fajar yang tiba-tiba membuat Laila terperanjat.
"Eh Mas Fajar! Hehehe iya ... Aku suka banget dengan semua karyanya, sangat menyentuh dan banyak pelajaran yang dipetik," ucap Laila. Hingga akhirnya terdengar kalimat yang terucap dari bibir sang kakak ipar. "Perempuan yang dianugerahi keindahan jiwa dan raga adalah sebuah kebenaran nyata yang bisa kita pahami dengan cinta, dan hanya bisa kita sentuh dengan kesucian."
Sejenak Laila tertegun ternyata sang kakak ipar memiliki hobi yang sama yaitu membaca buku karya penyair Kahlil Gibran.
"Mas Fajar juga menyukai karya-karya Kahlil Gibran?" tanya Laila yang tidak menyangka jika sang kakak ipar memiliki hobi yang sama.
"Tentu saja, setiap ada waktu aku selalu menyempatkan untuk membacanya. Wahh ternyata kita banyak memiliki kesamaan, ya! Sayang sekali kamu tidak berjodoh denganku," ucapan Fajar spontan membuat Laila panik.
"Eh ... bukan begitu konsepnya, Mas! Mas Fajar sudah ditakdirkan menjadi suami Mbak Ratna, dan kita tidak bisa melawan takdir yang sudah digariskan oleh Allah SWT. Sama halnya saat aku putus dari Mas Agung, semua rencana kami untuk menikah gagal sudah! Hmm mungkin kami ditakdirkan tidak berjodoh," ungkap Laila yang membuat Fajar menjadi penasaran.
"Kalau boleh tahu, kenapa kalian putus?" tanya Fajar serius. Entah kenapa kali ini ia tertarik membicarakan tentang adik iparnya daripada memikirkan masalah dirinya dengan Ratna.
"Ya Allah! Haruskah aku mengatakannya? Entah kenapa aku merasakan gugup saat berada di dekat Mas Fajar. Ya Allah! Apakah ada yang salah dengan perasaan ini? Kami tidak seharusnya sedekat ini," Laila berkata dalam hatinya.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1