
Laila sangat panik, tidak ada orang di tempat itu kecuali mereka bertiga. Sementara itu Agung sudah tidak berdaya lagi, pria itu sudah tidak sadarkan diri karena terkena pukulan dari Laila.
Laila berusaha untuk menyadarkan Fajar agar mantan kakak iparnya itu bisa segera siuman. Namun, bagaimanapun caranya Laila membangunkan Fajar, tetap saja pria itu tidak mendengarnya. Laila benar-benar mengira jika Fajar sedang pingsan karena kehabisan banyak darah.
Sambil menangis Laila mencoba membalut luka pada tangan Fajar dengan sapu tangan miliknya. Meskipun tidak terlalu berpengaruh setidaknya Laila bisa sedikit menutup luka sayatan pada telapak tangan Fajar.
Tangan Laila bergetar saat dirinya menyentuh tangan Fajar, is terpaksa memegang tangan Fajar lantaran darurat dan ingin segera menutupi luka itu agar darah yang dikeluarkan tidak terlalu banyak.
Disela-sela Laila mengikat luka itu dengan sapu tangannya, tiba-tiba saja Laila berkata lirih. "Ya Allah Mas Fajar, bangun dong! Jangan bikin aku cemas seperti ini. Kamu nggak tahu bagaimana aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, karena aku mencintaimu, Mas! Selama ini aku bingung dengan perasaan ini, aku tidak tahu kenapa tiba-tiba rasa itu muncul, jika kamu berada di dekatku, aku merasa begitu nyaman, awalnya aku tidak mau terlalu memikirkannya. Karena rasa itu terhalang oleh pernikahanmu dan Mbak Ratna. Aku memilih menjauh untuk menenangkan diriku. Karena aku tahu, tidak mungkin aku bisa bermimpi untuk mendapatkanmu, aku tahu diri, Mas! Sekarang, kita bertemu lagi dan kamu dalam masa bercerai dengan Mbak Ratna. Jujur, nggak tahu kenapa aku senang mendapatkan kabar kalau kamu bercerai. Tapi, aku juga tidak mau terlalu berharap banyak, aku hanya ingin menata hidupku kembali setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh Mas Agung, aku takut kecewa untuk kedua kalinya, itulah kenapa aku tidak bisa memastikan apakah cinta ini berlabuh kepadamu, ataukah aku biarkan begitu saja," ucap Laila sembari menundukkan wajahnya.
Secara tak sadar, Fajar mengintip wajah Laila, pria itu rupanya tidak tidur sungguhan, ia hanya pura-pura pingsan untuk mengetahui bagaimana tindakan Laila saat Fajar mengalami luka.
Ternyata, Fajar mengetahui dan mendengar dengan telinganya sendiri, jika Laila juga mencintainya, itu artinya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
"Alhamdulillah wasyukrillah, ternyata Engkau mengabulkan doaku ya Allah! Berikanlah hamba ridho Mu untuk menjaga wanita Sholihah ini, hamba berjanji akan selalu membahagiakan Laila, hamba akan menjadi imam yang baik untuknya, menjaganya untuk meraih Jannah Mu,"
Selang beberapa saat, Asisten Joko melihat Fajar yang sedang tak sadarkan diri sembari menyandarkan punggungnya pada sebuah pohon besar, sedangkan Laila terlihat duduk di samping Fajar sambil memegangi tangan Fajar yang terluka.
Asisten Joko membawa beberapa personil polisi untuk mengamankan Agung. Akhirnya, Agung segera ditangkap dan bawa ke kantor polisi.
"Ya Allah Pak Fajar! Pak Fajar kenapa, Pak? Apa yang terjadi pada Anda, ya Allah!" seru asisten Joko yang tentu saja membuat Laila bahagia akhirnya ada yang menyelamatkan Fajar dengan cepat.
Tiba-tiba saja, tanpa hujan tanpa angin, Fajar membuka kedua matanya, pria itu sadar sesadar-sadarnya. Ia melihat kedatangan asisten Joko dan beberapa anak buahnya.
"Pak Fajar, Pak Fajar nggak apa-apa, kan? Ya Allah Pak Fajar, tangan Anda kenapa?" seru Asisten Joko yang melihat luka pada telapak tangannya.
"Aku tidak apa-apa, ini hanya luka ringan. Sebentar lagi pasti sembuh dengan sendirinya, karena sudah ada dokter yang merawatnya, aku rasa luka ini akan cepat mengering bukan begitu, Laila!?" seru Fajar sembari melihat ke arah Laila.
__ADS_1
Spontan Laila salah tingkah, ia pun bingung dan bertanya-tanya, apa kira-kira Fajar tidak mendengar ucapannya tadi yang penuh makna.
"Em ... em ... iya, Pak. Ngomong-ngomong tadi Pak Fajar pingsan atau cuma tidur biasa?" tanya Laila penasaran.
Fajar mendekati Laila dan berkata, "Mana mungkin aku bisa tidur dengan nyenyak, jika aku belum mendengar kata cintamu. Sekarang, aku sudah sangat lega dan bisa tidur dengan nyenyak." Fajar berbicara dengan tersenyum kepada Laila.
Laila dibuat salah tingkah setengah mati saat ia tahu dari Fajar jika bos-nya itu ternyata mendengar semua apa yang dikatakan oleh Laila tadi.
Tentu saja Laila tercengang saat melihat Fajar yang sudah sadarkan diri. Apalagi terdengar jika Fajar memang tidak sedang pingsan.
"Astagfirullah aladzim, jadi dari tadi Mas Fajar mendengarkan ucapanku? Ihhh bodoh kali kau ini, Laila! Duuuhh malunya." Laila merutuki dirinya sendiri, sembari menelan ludahnya kasar.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1