Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Jilbabmu tidak akan pernah lepas


__ADS_3

Agung pindah ke kursi depan, sementara itu Laila masih mengancam akan melukai dirinya jika Agung berani macam-macam. Setelah Agung berada di kursi kemudi, ia pun segera membuka kunci otomatis mobil itu. Laila mendengar kunci itu terbuka, gadis itu pun dengan cepat segera keluar dari mobil taksi itu.


Laila berlari meninggalkan taksi itu, tapi bagaimanapun juga Laila berusaha lari, Agung tetap bisa mengejarnya. Karena panik pisau yang dibawa Laila terjatuh di atas aspal, ia pun tidak bisa mengambilnya lagi karena takut Agung akan semakin mendekat.


"Laila, tunggu!"seru Agung sembari terus mengejar Laila yang berlari, untuk sejenak Agung berhenti saat melihat pisau yang dibawa oleh Laila tadi terjatuh. Agung menyeringai ia pun mengambil pisau itu dan mengejar Laila kembali.


"Ya Allah selamatkan hambamu ini dari pria itu, aku harus pergi secepatnya dan mencari pertolongan!" seru Laila sembari terus berlari entah kemana ia pergi. Karena panik Laila berlari menuju ke arah semak-semak, ia bingung, ia harus bersembunyi agar Agung tidak bisa menemukannya.


Sementara di sisi lain, mobil Fajar berhenti tepat di belakang mobil taksi yang dibawa oleh Agung. Dengan segera, Fajar turun dan melihat kondisi taksi yang ditumpangi oleh Laila tersebut.


Fajar membuka pintu mobil dan tidak ada siapapun di dalamnya.


"Laila! Ya Allah, kemana Laila? Aku harus mencarinya," tanpa basa-basi Fajar segera pergi untuk mencari keberadaan Laila. Ia terus berlari sembari memperhatikan sekeliling, kondisi daerah yang masih ditumbuhi oleh tumbuhan dan pepohonan itu, membuat situasi terlihat sangat sepi, hanya ada satu atau dua kendaraan yang melewati jalan itu, itupun dengan jeda waktu yang cukup lama.


"Laila? Laila?" teriak Fajar yang terus berusaha untuk mencari Laila.


Sementara di tempat lain, Laila tampaknya bersembunyi di balik sebuah pohon besar yang tertutup oleh dedaunan, Laila menyembunyikan dirinya agar Agung tidak bisa melihatnya.


"Allahu Akbar! Lindungi hamba ya Allah! Jauhkan pria itu dari hamba, hamba mohon padamu!" Laila berdoa dalam hatinya.


Hingga akhirnya, seketika mata Laila membulat sempurna saat ia mendengar suara Agung yang terdengar tepat di belakangnya.


"Aku sudah bilang, bagaimanapun caranya kamu melarikan diri dariku, kamu pasti tidak akan bisa jauh dariku, Laila! Sudahlah, sebaiknya kamu nurut saja, apa susahnya sih! Sini!" Agung menarik tangan Laila, pria itu memaksa Laila untuk ikut dengannya.


"Lepaskan, aku! Lepaskan!" teriak Laila yang terus berontak untuk melepaskan diri dari cengkeraman Agung. Karena Laila sudah tidak memegang pisau itu, ia pun tidak bisa lagi membela dirinya.


Agung semakin berkuasa saat dirinya berhasil menemukan Laila, Agung pun menyeret Laila untuk pergi bersamanya. Agung memaksa Laila untuk melepaskan jilbabnya, karena Laila tidak memiliki kekuatan yang cukup besar untuk melawan Agung. Akhirnya, Agung bisa menarik jilbab Laila. Kini Laila hanya menggunakan Ciput jilbab saja, meskipun tidak semua rambutnya terlihat.

__ADS_1


"Kembalikan jilbabku, Brengsek!" teriak Laila yang sangat emosi. Namun, lagi-lagi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Hmm ... akhirnya, aku bisa melepaskan jilbabmu, Sayang! Sekarang lepaskan semuanya agar aku bisa melihat rambutmu yang cantik, bila perlu kamu juga bisa melepaskan semuanya, pasti akan bertambah cantik, ayolah!" Lagi-lagi Agung berusaha untuk membuka penutup kepala Laila yang terakhir. Namun, tak semudah itu Agung bisa melepasnya.


'Bugggghh'


"Aaarrrgggghhhh!" pekik Agung saat tubuhnya terjatuh di atas tanah seolah ada yang menendangnya.


Spontan Agung bangun dan melihat ke belakang. Benar saja ternyata Fajar lah yang sudah menendang dirinya.


"Brengsek! Berani sekali Mas Fajar mengganggu kencanku bersama Laila. Tidak usah sok jadi pahlawan kamu, Mas!" seru Agung yang terlihat marah karena Fajar sudah mengganggu kesenangannya.


"Dasar laki-laki tidak tahu diri, belum cukup kamu menghancurkan rumah tanggaku? Kamu sudah membuat sebuah hubungan menjadi kandas, dasar laki-laki biadab, dan sekarang kamu usik kehidupan Laila! Aku tidak akan pernah biarkan kamu menyentuh dia, dia gadis baik-baik, dia wanita yang suci, tanganmu tidak akan aku biarkan menyentuhnya meskipun seujung rambutnya." Fajar terlihat begitu marah dan geram dengan apa yang dilakukan oleh Agung kepada Laila.


Fajar menyuruh Laila untuk sedikit menjauh. Sementara itu Agung mulai mengeluarkan pisau yang dibawa oleh Laila tadi. Dengan pisau itu Agung bisa melawan Fajar yang saat itu tidak membawa senjata apapun.


"Oh oke! Sekarang aku buang pisau itu, ayo lawan aku! Aku tidak takut sama sekali, karena Laila akan tetap menjadi milikku," Agung sesumbar jika Laila akan menjadi miliknya.


"Tidak semudah itu kamu membawa Laila, langkahi dulu mayatku!" balas Fajar dengan beraninya.


"Tidak masalah," balas Agung yang langsung menyerang Fajar. Mereka berdua berduel, Laila berusaha untuk menghubungi pihak berwajib dan juga asisten Joko, dalam keadaan panik, Laila mengatakan kepada asisten Joko jika Fajar dalam bahaya. Tanpa lama-lama lagi, Asisten Joko segera bergerak ke lokasi dimana Fajar dan Agung berkelahi. Asisten Joko juga membawa pihak kepolisian atas laporan dari Laila.


"Ya Allah! Tolong selamatkan Mas Fajar, semoga dia baik-baik saja," ucap Laila sembari melihat bagaimana Fajar membuat Agung lumpuh. Sungguh dengan mudah Fajar menghajar Agung. Agung pun mulai lemas dan pada akhirnya Agung pingsan karena satu bogeman mentah yang tepat mengenai wajahnya.


'Bruuukkk'


Agung terjatuh dan pria itu terlihat sudah tidak berdaya, Fajar terlihat ngos-ngosan, pria itu tidak terluka sama sekali, hanya saja wajahnya penuh dengan keringat yang pastinya membasahi wajah tampannya.

__ADS_1


Fajar melihat jilbab Laila yang terjatuh di atas tanah, ia pun segera mengambilnya dan memberikannya kepada Laila yang saat itu ia sedang bersembunyi di balik sebuah tanaman.


Laila menundukkan wajahnya, ia sangat malu dalam kondisi seperti itu, meskipun rambutnya tidak terlihat tapi Laila tetap merasa jika itu adalah aurat. Karena gadis itu sudah terbiasa sejak kecil tidak pernah memperlihatkan rambutnya kepada orang lain kecuali kepada kedua orang tuanya dan sang Kakak, Ratna.


Fajar mendekati Laila, kemudian perlahan Fajar memakaikan kerudung itu pada kepala Laila.


"Selama ada aku, jilbabmu tidak akan pernah terlepas dari kepalamu. Aku tidak akan pernah biarkan orang lain berani mengambil jilbab ini tanpa seizin darimu!" ucap Fajar yang membuat Laila terharu.


"Terima kasih banyak, Mas! Aku tidak tahu apa jadinya jika tidak ada kamu di sini, aku sangat berhutang budi kepadamu," ucap Laila sembari merapikan jilbabnya. Hingga akhirnya Laila tiba-tiba melihat Agung yang sudah berdiri di belakang Fajar dengan sebuah pisau yang sudah siap ditikamkan pada Fajar.


"Kamu tidak usah membayarnya dengan apapun, melihatmu tersenyum saja aku sudah senang!" balas Fajar yang masih belum sadar jika ada Agung di belakangnya. Sontak Laila berteriak sambil mendorong tubuh Fajar agar Fajar bisa terhindar dari pisau yang dibawa oleh Agung.


"Awas, Mas!"


Seketika Fajar membalikkan badannya dan langsung mengerti jika Agung ingin mencelakai dirinya dengan pisau itu, spontan Fajar mengambil pisau itu dengan telapak tangannya, tentu saja telapak tangan Fajar mulai berdarah karena tentunya sayatan dari pisau itu melukai tangannya.


"Mas Fajar, tanganmu terluka!" Laila tampak iba melihat Fajar yang mulai berdarah. Hingga akhirnya Laila reflek mengambil sebuah kayu yang cukup besar dan ia pukulkan pada tengkuk leher Agung.


"Aaarrrgggghhhh!" spontan Agung melepaskan pisau itu karena ia langsung pingsan setelah Laila pukul.


"Laila!!" seru Fajar sembari menatap Laila.


"Mas Fajar, kamu tidak apa-apa, kan?" Laila berkata sembari membuang kayu itu, kemudian ia segera menghampiri Fajar dan melihat begitu banyak darah yang keluar dari tangan Fajar.


"Ya Allah, tanganmu terluka, Mas!" Laila panik, hingga akhirnya tiba-tiba saja Fajar tak sadarkan diri.


"Astaghfirullah, Mas Fajar! Mas bangun, Mas! Tolooonnggg!"

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2