
"Pak Fajar, maaf kalau saya lancang. Ngomong-ngomong apa stok minyak wangi di rumah Anda sudah habis? Bukan bermaksud apa-apa, hanya saja saya kok mencium aroma tubuh Anda bau khas minyak kayu putih." Asisten Joko tampak mengerutkan keningnya.
"Memangnya kenapa? Apa pak Joko tidak suka?" sahut Fajar yang terlihat serius.
"Bukan begitu, Pak. Hanya saja tidak biasanya pak Fajar seperti ini, apa istri bapak sedang hamil?" pertanyaan sang asisten seketika membuat Fajar melototkan matanya. "Hamil?"
"Waduh, pak Fajar kok malah melototi saya, bukan saya yang hamil, Pak. Tapi istri Bapak, bapak sudah menabung, kan?" bisik asisten Joko pelan.
"Menabung? Maksud pak Joko apa?" Fajar masih tidak mengerti maksud dari sang asisten.
"Aduh, maksud saya pak Fajar sudah anu itu ya gitulah, Pak. Sudah belah semangka maksudnya, ngerti kan, Pak!"
Fajar pun mulai faham maksud sang asisten, ia pun tertawa kecil dan mengakuinya. "Itu sih tidak pakai lama, Pak. Memangnya apa hubungannya dengan menabung. Pliss ya Pak Joko, jangan berikan saya kalimat ambigu, saya suka yang jelas-jelas saja," ucap Fajar sambil membuka sebuah dokumen di tangannya.
"Menabung maksud saya, Pak Fajar sudah nanam saham di rahim istri Anda." Lagi-lagi perkataan sang asisten membuat Fajar geleng-geleng kepala.
"Ayolah, Pak. Mana mungkin saya nanem saham di rahim istri saya, emangnya perusahaan ... eh tunggu-tunggu, maksud Pak Joko saya sudah menghamili istri saya gitu, nanem saham itu artinya nanem benih?" Fajar mulai tersadar dengan kata kiasan yang diberikan oleh sang asisten.
"Nah itu dia, Pak." Akhirnya asisten Joko bisa tersenyum sumringah. Fajar pun mulai berpikir apa jangan-jangan istrinya memang sedang hamil. Tapi kenapa yang mengalami gejala mirip orang hamil justru dirinya, sementara sang istri tampak baik-baik saja.
"Kalau boleh tahu, apa yang Bapak alami saat istri Pak Joko hamil? Apa dia suka nyium bau ketek Bapak?" pertanyaan Fajar membuat pak Joko terkekeh.
"Setiap wanita berbeda-beda gejala kehamilannya, Pak. Ada yang suka nyium bau ketek suaminya bahkan ada yang sangat tidak suka dengan aroma tubuh suaminya, tergantung bayi yang sedang dikandungnya. Apa istri Pak Fajar mengalami hal seperti itu? Soalnya saya heran aja. Tiba-tiba Pak Fajar memakai minyak kayu putih, biasanya nih setahu saya aroma minyak kayu putih itu untuk menghilangkan sensasi mual-mual dan meringankan masuk angin," pernyataan sang asisten sangat cocok sekali dengan gejala yang sedang dialami Fajar.
__ADS_1
"Wah Pak Joko kok tahu sih, memang benar saya merasakan hal itu, mencium aroma selain minyak kayu putih tuh rasanya mual, mencium aroma sabun, mual. Mencium aroma minyak wangi juga mual. Bahkan mencium aroma Bapak, saya juga mual ...."
Ucapan Fajar spontan membuat sang asisten tersenyum kecut. Fajar pun tertawa melihat ekspresi sang asisten. "Maaf, Pak Joko. Saya cuma bercanda. Jadi, itu ada kemungkinan jika istri saya sedang hamil? Hmm sepertinya saya harus ke dokter untuk memeriksakan kandungannya, doakan semoga istri saya benar-benar hamil ya, Pak!" Ucap Fajar yang terlihat bahagia setelah mendengar penjelasan dari sang asisten.
"Aamiin, Pak. Semoga saja. Mudah-mudahan pak Fajar dan Bu Laila segera memiliki momongan."
Tanpa pikir panjang, karena terlalu penasaran dengan apa yang dikatakan oleh asisten Joko, hari ini Fajar akan pulang lebih awal, ia ingin segera mengajak sang istri untuk periksa kandungan ke rumah sakit untuk memastikan jika sang istri hamil atau tidak.
*
*
*
Fajar sudah membuat janji dengan salah seorang Dokter kandungan, jam empat sore Fajar akan bertemu dengan sang dokter di rumah sakit.
"Mas Fajar, kamu sudah pulang?" Laila berkata sembari mengusap lembut wajah sang suami yang sedang menyandarkan dagunya pada pundak sang istri.
"Ganti bajumu, hari ini kita ke dokter."
"Ke dokter? Kamu sakit?" Laila terkejut kenapa tiba-tiba sang suami mengajaknya untuk pergi ke dokter.
"Bukan aku yang sakit, tapi kamu!" Fajar berbisik dengan tangannya yang mulai menyusup ke dalam mukena yang masih dipakai oleh sang istri. Meraba perut sang istri dengan lembut.
__ADS_1
"Aku? Kok aku sih, aku nggak sakit, Mas. Aku baik-baik saja, kemarin aku hanya kecapekan." Kilah wanita itu.
"Pokoknya hari ini aku ingin memastikan jika dalam rahim istriku sedang tumbuh Fajar junior, aku berharap kamu hamil." Mendengar ucapan dari sang suami, seketika Laila mengerutkan keningnya.
"Hamil? Aku hamil, alangkah bahagianya jika itu benar terjadi. Tapi, sekarang masih tanggal 27, aku biasanya mendapatkan tamu bulanan sering telat, Mas. Kadang telat 3 hari baru mens, makanya aku masih ragu untuk cek testpack, takutnya cuma telat biasa." Ungkap Laila yang memiliki kebiasaan telat bulan sejak masih perawan.
"Itukan dulu, Sayang. Sekarang yang bikin telat bukan sesuatu yang biasa. Ayo ah kita ke dokter, aku sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya!" Fajar pun segera membuka mukena sang istri dan mencarikannya pakaian yang baik.
Bukan Laila yang mengganti pakaiannya, tapi Fajar lah yang semangat untuk mendandani sang istri, dari memasangkan celana hingga tunik panjang selutut, setelah itu tentu saja jilbab manis berwarna nude, tak lupa Fajar pasangkan pada kepala sang istri.
"Biar aku sendiri yang pakai, kamu mandi dulu gih!" seru Laila sambil menahan Fajar.
"Oke, aku mandi dulu. Jangan kemana-mana, ya!" ucapan Fajar spontan membuat Laila tertawa kecil.
"Memangnya aku mau pergi kemana toh, Mas. Ada-ada saja kamu,"
Setelah Fajar masuk ke dalam kamar mandi, Laila mulai memasang jilbab pashmina panjang itu, sekitar tiga puluh detik, Laila kemudian menyematkan peniti pada area leher.
Di saat yang bersamaan, Fajar keluar dari kamar mandi dan melihat sang istri yang masih berdiri di depan kaca rias dengan menyematkan peniti pada jilbabnya. Spontan Laila menoleh ke arah sang suami yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benangpun. Karena ia sudah mengeringkan tubuhnya di dalam kamar mandi.
Tidak kurang dari satu menit, Fajar menyelesaikan ritual mandinya, mungkin inilah yang dinamakan mandi kilat ala-ala bebek.
"Astaghfirullah aladzim, Mas. Kamu tadi mandi mandi bebek apa cuma membasahi badan saja? Itu juga dibiarin gantung diri. Nggak ditutupi lagi, kebiasaan banget," ucap Laila sembari memalingkan wajahnya karena tak tega melihat benda yang menggantung di antara kedua paha sang suami. Tangannya mulai gatal ingin merremas nya karena Laila merasa itu sangat imut dan lucu.
__ADS_1
Fajar terkekeh, ia pun segera mengambil baju agar sang istri tidak tergoda untuk menyentuhnya. "Iya iya aku tutupi, lagipula kalau lama-lama takutnya kamu gemas pingin pegang, itukan kesukaanmu!"
...BERSAMBUNG ...