Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Aku milikmu, Mas!


__ADS_3

Nafas Laila benar-benar cepat, belum lagi tangan Fajar mulai turun membelai leher jenjangnya, menyusuri ceruk leher mulus itu. Tangan Laila merremas ujung lingerie miliknya, ia tidak mungkin menolak suaminya, ia tahu betul jika itu adalah dosa menolak permintaan sang suami.


Tak ada kata yang terucap dari bibir Fajar, ia tampak tenang tapi tidak diam begitu saja. Tangannya terampil menurunkan tali lingerie berwarna merah itu hingga akhirnya tali itu jatuh sepanjang siku. Tentu saja, area dada mulai turun. Laila mencoba menahan kain yang mulai terjatuh di sekitar dadanya. Namun, tidak semudah itu Laila bisa menahannya.


Tangan Fajar dengan cepat menepis tangan sang istri dan menggenggamnya erat.


"Mas!!!"


Darah Laila mulai berdesir, jiwanya mulai bergejolak, tubuhnya mulai panas dingin, apalagi Fajar begitu dekat dengan dirinya. Bahkan nafas pria itu terasa hangat pada tengkuk lehernya.


Laila memang membelakangi sang suami. Tapi, tubuh mereka begitu dekat. Tentu saja Laila tidak bisa berpikir jernih, ia semakin menggenggam erat tangan Fajar karena saat itu Fajar mulai mencium pundak Laila dengan mengecupnya mesra.


"Bolehkah aku memintanya sekarang? Memiliki istriku untuk pertama kali?" bisik Fajar pada telinga Laila.


Laila membulatkan matanya dan langsung membalikkan badan ke arah sang suami. Laila tidak bisa menahan rasa malunya, apalagi lingerie itu sudah mulai turun dan terlepas dari tubuhnya, kain satin sutra itu sangat licin dan begitu lembut, sehingga begitu mudah terlepas dari tubuh indah Laila.


Laila merapatkan tubuhnya pada sang suami, karena dirinya sudah tidak memakai apapun, hanya pelindung terakhir yang pastinya sebentar lagi akan ikut terlepas dari tubuhnya. Pastinya Fajar semakin panas dingin, apalagi dua benda itu menempel sempurna pada dadanya.


Laila tidak punya pilihan lain, dirinya tidak mungkin menolaknya begitu saja. Karena memang kini statusnya sudah resmi menjadi istri dari seorang Fajar, meskipun belum terikat hukum negara. Tapi setidaknya hubungan mereka sudah halal secara agama.


"Jika itu yang kamu inginkan, aku tidak bisa menolaknya, dari lubuk hatiku yang paling dalam, malam ini aku bersiap menyerahkan diriku untuk suamiku. Aku milikmu, Mas!" suara itu terdengar begitu lembut memaksa Fajar ingin sekali memeluk istrinya.


Laila pasrah dengan apa yang akan Fajar lakukan selanjutnya. Gadis itu pun membalas pelukan Fajar penuh kemesraan, dan akhirnya ...


Fajar memang belum berpengalaman dalam hal tersebut. Namun, dirinya bisa mengerti bagaimana menciptakan rangsangan untuk memulai hubungan mereka. Otodidak, iya mungkin itulah yang saat ini Fajar lakukan. Tanpa bimbingan dari siapapun mereka tahu dengan sendirinya secara naluriah.

__ADS_1


Kamar itu sengaja tidak dinyalakan lampunya, Fajar hanya melihat sang istri dalam keadaan gelap, meskipun seperti itu. Tangannya masih sangat terampil dan seolah memiliki mata sendiri di sana.



Bismillah Allahhumma jannibnas Syaithona wa jannibis Syaithona maa rozaqtana.


Laila mencoba menahan rasa sakit itu, rasa sakit yang biasa seorang wanita alami saat selaput daranya sobek untuk pertama kali. Namun, Fajar mencoba untuk tidak membuat istrinya terlalu sakit. Ia berhenti sejenak di seperempat perjalanan.


"Sakit?" ucap pria itu sembari mengusap rambut Laila. Laila menganggukkan kepalanya, bagaimana tidak Laila kesakitan. Baru kali ini ada sesuatu yang mencoba untuk merobohkan benteng keperawanan yang selama ini ia jaga. Namun dibalik rasa sakit itu ada sebuah rasa yang teramat candu.


"Kenapa kamu berhenti, Mas?" sahut Laila sambil menyentuh wajah sang suami.


"Kamu kesakitan. Aku takut jika akan melukaimu, apa kita tunda saja?" jawaban Fajar sontak membuat Laila menahannya.


Sebenarnya, Fajar sangat bahagia mendengar jawaban istrinya. Karena dia sebenarnya sangat mengharapkan untuk lanjut. Karena Laila terlihat kesakitan, ia pun tidak mau egois dengan menunda untuk melakukannya.


Tanpa bertanya lagi, Fajar segera melakukan apa yang dikatakan oleh sang istri. Ruangan yang gelap itu menjadi saksi bisu dua insan yang sedang melakukan fitrahnya sebagai sepasang suami istri. Melakukan ibadah yang saling menyenangkan satu dengan yang lainnya, saling mengasihi dan saling memberikan kebahagiaan.


*


*


*


Sementara di tempat lain, Agung saat ini berada di dalam tahanan dengan laporan penganiayaan. Pria itu harus puas berada di dalam penjara selama lima tahun dan kehilangan kepercayaannya di kantor di mana tempat ia bekerja, hidupnya mulai hancur secara perlahan, apalagi ia sering mendapatkan perlakuan kasar dari sesama narapidana, dari disulut rokok, ditendang bahkan dipukuli oleh sesama tahanan.

__ADS_1


Kondisi pria itu di dalam penjara sangat-sangat mengenaskan.


Sedangkan, Ratna. Kehidupan wanita itu kian hari semakin memprihatinkan, tubuhnya mulai kurus dan aura wajahnya semakin kusam, wanita itu hidup dengan mengandalkan sisa tabungan yang ia miliki. Setelah divonis dokter menderita kanker serviks, kehidupan Ratna semakin tidak punya semangat.


Beruntung ada Bi Munah yang selalu setia menemani Ratna. Wanita itu kasihan melihat kondisi Ratna yang tanpa sanak dan saudara. Terkadang Bi Munah ikut bersedih saat Ratna memanggil-manggil nama Laila dalam tidurnya.


"Ya Allah, Bu Ratna! Dosa apa yang Bu Ratna lakukan, sehingga Allah memberikan penderitaan seperti ini. Ampunilah Bu Ratna ya Allah!" Bi Munah berharap ada keajaiban datang untuk Ratna yang sedang sakit kanker serviks.


*


*


*


Sekitar jam 3 pagi, setelah Laila dan Fajar melewati masa-masa yang paling mendebarkan semalam, tanpa sengaja Laila bermimpi tentang Ratna yang seolah sang Kakak dipakaikan kain kafan. Laila terbangun dan berteriak menyebut nama Ratna.


"Mbak Ratna!"


Fajar seketika terbangun ketika suara itu terdengar cukup keras.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Fajar sembari memeluk istrinya.


"Aku bermimpi tentang Mbak Ratna, Mas! Aku takut jika terjadi sesuatu kepadanya."


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2