
Akhirnya, sore itu juga Fajar bersama sang istri langsung mendatangi rumah sakit di mana Fajar sudah membuat janji dengan seorang dokter ahli seksologi dan kebidanan. Tak butuh waktu lama untuk mereka segera tiba ke rumah sakit yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal mereka, hanya berjarak sekitar 5 km saja.
Fajar memarkirkan mobilnya dan setelah itu ia pun segera masuk ke dalam rumah sakit yang terbesar di kota itu. Ia menggandeng tangan sang istri dengan mesra. Hingga akhirnya, ia berada di depan ruangan dokter kandungan Erna. Fajar lebih memilih dokter kandungan cewek, meskipun dirinya punya banyak kenalan dokter spesialis kandungan laki-laki.
Fajar mempercayakan kepada dokter Erna, karena tentunya mereka sama-sama perempuan, karena Fajar pantang jika **** ***** sang istri dilihat oleh laki-laki lain meskipun itu demi kesehatan.
Karena sudah membuat janji, maka dirinya segera dipersilahkan untuk masuk ke ruangan sang dokter.
"Selamat sore, Dok!" sapa Fajar sambil tersenyum.
"Selamat sore Pak Fajar. Mari silakan duduk!"
Laila juga menyapa sang dokter dan segera duduk di kursi yang sudah dipersiapkan. Fajar pun memberi tahukan perihal tentang apa yang dialami oleh dirinya akhir-akhir ini, karena kebiasaan itu terjadi diluar kebiasaannya. Fajar curiga jika sang istri sedang mengandung seperti perkiraan pak Joko.
"Kalau boleh tahu kapan hari pertama haid terakhir Anda, Bu Laila?" dokter bertanya cukup serius, karena jika Laila lupa harinya, dokter tidak bisa memprediksi usia kehamilan secara akurat, dan hanya bisa dilakukan dengan metode USG.
"Emm ... seingat saya tanggal 26 bulan lalu, Dok. Tapi, saya punya kebiasaan sering telat bulan. Jadi, saya juga tidak sampai berpikir jauh tentang kehamilan, Dok." Mendengar penjelasan dari Laila, dokter Erna pun tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan memeriksa kondisi Bu Laila, mari ikut saya!" seru dokter Erna dengan ramah. Fajar pun mulai panik saat sang istri dibawa dokter ke tempat pemeriksaan.
"Tunggu, Dok? Istri saya mau dibawa kemana? Istri saya tidak diapa-apain, kan?" seru Fajar yang khawatir terhadap sang istri.
"Pak Fajar tidak perlu khawatir, kami cuma memeriksa apa benar sudah ada janin dalam kandungan Bu Laila. Jika Pak Fajar ingin melihatnya, mari silakan!" ajak wanita yang berusia hampir sama dengan Mama Ida itu.
Dokter Erna akan memeriksa kandungan Laila dengan melakukan USG untuk mengetahui apakah sudah ada janin yang berkembang pada rahim Laila, dengan USG akan lebih akurat diketahui jika Laila benar-benar hamil.
Fajar pun tanpa pikir panjang segera mengikuti perintah sang dokter, pria itu terus mendampingi istrinya yang saat itu sedang dioleskan gel pada perutnya.
"Untuk apa itu, Dok?" Layaknya anak TK yang selalu penasaran dengan apa yang dilakukan oleh dokter Erna, karena bagaimanapun juga Fajar belum pernah melihat wanita yang sedang di USG.
Sejenak, Fajar berkata lirih di samping istrinya, di mana sang dokter saat itu mulai menempelkan alat itu pada perut sang istri.
"Ohh ... jadi gel ini untuk memudahkan si alat itu untuk bergerak. Hmm dipikir-pikir memang benar kalau tidak ada pelicin atau pelumasnya nggak enak rasanya, kurang bisa bergerak dengan baik, bahkan terasa perih."
Mendengar celotehan dari suaminya, Laila mencubit tangan Fajar sehingga membuat pria itu bingung kenapa dirinya dicubit oleh sang istri.
__ADS_1
"Aww kok dicubit sih! Emang gitu, kan. Tanyakan tuh sama dokter!" ucapan Fajar spontan membuat dokter Erna mengiyakannya.
"Pak Fajar memang benar," jawab dokter Erna sambil tersenyum.
Ibarat mendapatkan support yang luar biasa, Fajar pun tersenyum sumringah tatkala dirinya berkata benar. Laila yang tampak malu hanya bisa berkata kepada dokter Erna.
"Maaf, Dok! Mohon dimaklumi ucapan suami saya, dia memang suka begitu." Sahut Laila.
Dokter Erna pun menyadari dan tidak mempermasalahkan soal pertanyaan Fajar.
"Tidak apa-apa, Bu Laila. Itu hal yang wajar pak Fajar ingin tahu hal yang sebenarnya. Itu artinya pak Fajar mencoba untuk membahagiakan Bu Laila, mungkin besok-besok pak Fajar lebih memperlicin jalan masuk Bu Laila agar lebih mudah bergerak dan tidak lecet, saran saya sebaiknya pemanasan nya juga harus tepat dan jangan terburu-buru," ungkap dokter Erna.
Tak ada hal yang tabu untuk dibicarakan masalah seksologi dengan orang yang sudah ahli di bidangnya. Karena bagaimanapun juga Fajar dan Laila masih banyak membutuhkan informasi untuk saling membahagiakan urusan mereka di ranjang.
"Gitu ya, Dok. Jadi nunggu licin dulu, ya."
Mendengar ucapan dari Laila, dokter Erna pun mengulas senyum dan akhirnya keluar dari bibir wanita itu. "Nah, itu dia!"
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...